MEDAN, Nias Online – Sejak tahun 2010, kasus rabies di Sumatera Utara terus bertambah. Kini, Sumut adalah Provinsi kedua di Indonesia setelah Bali dengan penemuan kasus rabies terbanyak. Pulau Nias menjadi penyumbang terbesar kasus ini di wilayah Sumut.

Seperti dikutip dari Waspada Online, berdasarkan yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Sumut tahun 2010, jumlah kasus gigitan terbanyak ditemukan di Bali dengan 60.047 dengan kasus kematian akibat rabies (lyssa) sebanyak 82, Sumut mencapai 3.714 kasus ggitan dengan 35 kasus lyssa, Maluku menempati peringkat ketiga dengan 3.023 kasus gigitan dan 20 lyssa, sedangkan Sulawesi Utara (Sulut) sebanyak 1.412 kasus gigitan dengan 10 lyssa.

Tahun 2011, kasus gigitan di Sumut sebanyak 472 dengan 9 lyssa, yakni 9,2 di Gunung Sitoli, 2, 4 di Nias Selatan, 2 di Nias Utara, dan 1 di Tapanuli Tengah. Kasus lyssa di Sumut terus mengalami peningkatan sejak tahun 2007 silam. Tahun 2007 ditemukan 3 kasus lysaa yakni Simalungun, Tapanuli Utara, Dairi, dan Sibolga dengan masing-masing satu kasus.

Tahun 2008, lyssa ditemukan sebanyak 3 kasus yakni 2 di Simalungun dan 1 di Dairi, tahun 2009, kasus lyssa sebanyak 7 yakni, Simalungun, Taput, Dairi, dan Batubara masing-masing dengan satu kasus, serta Humbang Hasundutan dengan 3 kasus.

Tahun 2010, kasus lyssa ditemukan sebanyak 36 dimana 4 kabupaten/kota di Pulau Nias dinyatakan KLB dengan menyumbang 26 kasus lyssa. Yakni, 19 di Gunung Sitoli, Nias Barat dan Nias Selatan masing-masing dengan satu kasus, dan Nias dengan 5 kasus.

Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes Sumut, Suriantini mengatakan, kasus rabies pertama kali ditemukan di Pulau Nias pada tahun 2010.

Dalam penanggulangannya, Dinkes Sumut melaksanakan pengendalian penyakit secara terpadu, mencegah rabies pada manusia dengan penanganan kasus gigitan hewan penular rabies, melindungi kelompok resiko tinggi di wilayah berjangkit rabies, peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta pemberdayaan masyarakat.

Kekurangan Dokter Hewan

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) SUmut Mulkan Harapap mengatakan, saat ini Pulau Nias masih sangat kekurangan dokter hewan. Padahal, kebutuhan akan dokter hewan sangat mendesak mengingat meningkatnya kasus rabies selama dua tahun terakhir.

“Pulau Nias hanya punya satu dokter hewan, yakni Cut Susi Arita yang bertugas di Nias Selatan, itu pun baru dua minggu bertugas,” jelas dia.’

Dia menambahkan, akan ada penambahan 4 dokter hewan lagi di Pulau Nias. Yakni, dua dokter dari Disnak Keswan dan dua dokter tenaga harian lepas dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan RI serta empat paramedis yang akan ditempatkan di Nias Selatan, Nias dan Gunung Sitoli. Meski begitu, kata Mulkan, masih ada kekurangan dokter, khususnya untuk Nias Utara dan Nias Barat. Harusnya, tambah dia, minimal satu dokter hewan di setiap kabupatan/kota.

Menurut dia, masalah kelangkaan ini terjadi karena jumlah dokter hewan yang terbatas dan juga karena letak Pulau Nias yang cukup jauh. Kebutuhan dokter hewan tersebut juga karena mengingat lima kabupaten/kota di Pulau ini masuk kategori endemis rabies. (EN/*)

Sumber: Waspada Online

Facebook Comments