JAKARTA, Nias Online – Pernyataan Kapolresta Medan Kombes Tagam Sinaga yang akan memutasikan anak buahnya yang terbukti terlibat pungutan liar ke Pulau Nias memancing protes keras dari berbagai kalangan masyarakat Nias, baik di Pulau Nias maupun di perantauan. Pernyataannya itu dianggap sebagai penghinaan dan harusnya Tagam meminta maaf. Protes-protes itu sebagian disampaikan melalui media online, termasuk situs ini, mau pun pernyataan langsung kepada redaksi.

“Pernyataan itu tidak berdasar. Pikirnya Nias itu sama dengan Nusakambangan?” ujar tokoh masyarakat yang juga pemuka agama di Nias Selatan Pdt. Foluaha Bidaya, M. Div., kepada Nias Online di Jakarta, Selasa (15/3/2011).

Menurut dia, bila Polri mau membangun daerah Nias atau daerah terpencil atau daerah berkembang, seharusnya menempatkan polisi yang the best di sana. Jangan yang sedang dibina lalu pembinaannya di Nias.

Protes senada disampaikan warga Nias Utara yang berdomisili di Jakarta, Kolonel Chb (Purn) Ir. Adieli Hulu, MM yang mengaku terkejut dan kecewa dengan rencana Kapolresta Medan tersebut. Dengan pernyataan itu, kata dia, Kombes Tagam telah mengumumkan secara resmi kepada publik bahwa Pulau Nias adalah “tempat buangan”, pengganti hukuman bagi anggota Polri yang melakukan kejahatan kriminal.

“Dengan kata lain Pulau Nias adalah “penjara” bagi anggota Polri, sebagaimana halnya Pulau Nusa Kambangan tempat buangan dan penjara bagi narapidana di Indonesia. Apakah ini kebijakan Kapolresta Medan semata atau kebijakan institusi Polri yang dipimpin Jenderal Pol. Timur Pradopo? Sebagai putra Indonesia asal Pulau Nias, saya minta institusi Polri menjelaskan hal ini,” kata dia.

Menurut Marselino Fau, pernyataan Tagam itu tidak tepat dan tidak baik. Selain tidak mendidik bagi oknum yang bersangkutan, juga sangat merugikan citra Pulau Nias. Dengan kebijakan itu, Pulau Nias dicitrakan sebagai pulau pembuangan bagi oknum-oknum aparat yang nakal. “Dan kalau tugas di Pulau Nias, bisa-bisa yang bersangkutan tidak terkontrol,” ujar pria yang berdomisili di Jakarta tersebut.

Sementara itu, warga Nias Barat yang berdomisili di Jakarta, M. J. Daeli, meminta Kapolri menegur Kapolresta Medan tersebut dan dipublikasikan di media massa. Sebab, pernyataan itu dinilai tidak sopan dan tidak menghargai Pulau Nias. Dia menegaskan, Pulau Nias bukan tempat pembuangan bagi oknum polisi yang memeras. “Mohon Kapolri menegur Saudara Tagam secara resmi dan dipublikasikan melalui media. Hal ini penting agar masyarakat yang sopan tidak menyamaratakan anggota Kepolisian lainnya dengan Saudara Tagam,” kata dia.

Sebelumnya, anggota DPR RI asal Nias Yasonna Laoli menilai pernyataan Kombes Tagam tersebut sebagai penghinaan. Menurut dia, mentalitas seperti itu bukan mentalitas pemimpin yang berorientasi membangun. Melainkan secara sengaja merusak daerah lain. Dia juga mengingatkan, pernyataan Tagam itu sudah menyinggung masalah yang sensitif dan dia harus minta maaf. Anggota Komisi II DPR RI tersebut juga akan menyurati Kapolri terkait pernyataan Tagam tersebut.

Sebelumnya, pada Jum’at (11/3/2011) lalu Tagam memberikan pernyataan yang memutasikan ke Pulau Nias anak buahnya yang terbukti terlibat pungutan liar terhadap para sopir dan mandor di wilayahnya. “Jika terbukti ada oknum polisi melakukan pungli terhadap para supir angkot dan para mandor akan dicopot kemudian dimutasikan tugas ke Pulau Nias” ujar Kombes Tagam seperti dikutip Waspada Online. (EN/*)

Facebook Comments