JAKARTA, Nias Online – Gempa dahsyat dan tsunami yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Jepang menimbulkan ribuan korban jiwa. Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi Nias Online, sejauh ini warga Nias yang berada di sejumlah wilayah di Jepang semua dalam keadaan sehat.

“Puji Tuhan kami selamat. Kami berdomisili di kota Isesaki, Provinsi Gunma, Jepang. Kami berada sekitar 325 km dari pusat gempa dan tsunami di Sendai. Sedangkan dari Iwate, kami berjarak 528 km. Jarak yang jauh itu membuat tsunami tidak sampai ke tempat kami berdomisili. Namun, gempa bumi pada 11 Maret pukul 14.46 waktu Jepang (12.46 Wib) sangat terasa di seluruh wilayah dan kami juga merasakannya. Apartemen tempat kami tinggal tidak mengalami kerusakan apapun,” ujar Yustinus Hia kepada Nias Online, Senin (14/3/2011).

Yustinus yang telah berdomisili di Jepang sejak 2003 dan melayani di Gereja Interdenominasi Injili Indonesia (GI3) wilayah Gunma tersebut mengungkapkan, jemaat yang dilayaninya juga tidak ada yang menjadi korban gempa mau pun tsunami. Meski begitu, karena gempa susulan terus terjadi, keluarganya sebagaimana semua warga Jepang pada umumnya masih diliputi was-was.

Ayah dua orang anak yang berasal dari Lawa-Lawa Luo, Gomo, Nias Selatan menjelaskan, selain keluarganya, masih ada warga Nias lainnya di Jepang. Yaitu, Inötö Saro Waruwu yang bekerja sebagai tenaga perawat di Toyama, yang berjarak sekitar 500 km dari Sendai. Kemudian, keluarga Pdt Surya Harefa yang melayani sebagai Gembala Wilayah GI3 di Tokyo. “Sampai saat ini kami belum memiliki rencana untuk keluar dari Jepang karena keadaan belum memaksa untuk harus keluar dari Jepang,” kata dia.

Yustinus menginformasikan, sekaligus memohon dukungan doa adalah kondisi perekonomian Jepang yang saat ini sangat terganggu akibat gempa dan tsunami tersebut. Saat ini, perusahaan-perusahaan di Jepang tidak beroperasi. Mulai ada pengurangan BBM. Bahkan, saat ini, selain mulai sulit mendapatkan BBM, kalaupun ada hanya bisa mengisi senilai 2.000 yen per mobil setiap hari.

“Keadaan itu diperburuk dengan adanya kebijakan pemadaman listrik secara bergilir. Hal ini sangat riskan karena listrik adalah urat nadi negara Jepang. Pengurangan jatah air dan gas juga terjadi. Masyarakat juga mulai merasakan kesulitan mencari berbagai bahan kebutuhan sehari-hari di supermarket,“ jelas dia. (EN)

Facebook Comments