Bruder Guy J. Consolmagno SJ, seorang ilmuwan keplanetan dan ahli astronomi di Observatorium Vatikan mengatakan ilmu pengetahuan dan agama tidak bermusuhan. Menurut Consolmagno, konflik antara agama dan ilmu pengetahuan sebenarnya tidak ada. “Sains bertumbuh dari agama,” katanya.

Menurut Br. Consolmagno, seorang Yesuit, tujuan utama kehadiran Observatorium Vatikan adalah untuk menunjukkan bahwa Gereja sangat mendukung sains dan penelitian ilmiah. Ketika diangkat ke dalam jabatan itu pada tahun 1993, instruksi pertama yang ia terima adalah: “Guy, lakukanlah penelitian ilmiah yang baik”.

Consolmagno, kelahiran Detroit, Michigan, Amerika, memasuki Ordo Yesuit pada tahun 1989. Peran gandanya sebagai ilmuwan dan pekerja religi memberikan kepadanya kesempatan untuk merenungkan “pertanyaan-pertanyaan besar”, – “misteri-misteri yang anda hirup dan renungkan”.

“Ada banyak pertanyaan-pertanyaan menyangkut manusia,” katanya, sambil menerangkan bahwa “kucing saya tidak pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Kucing saya tidak pernah berminat mengamati lewat teleskop.”

Menemukan jawaban-jawaban menyangkut pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana alam semesta bekerja dan bagaimana kita menjadi bagian dari padanya merupakan aktivitas-aktivitas yang sungguh-sungguh hanya bisa dilakukan oleh manusia, “seperti berdansa atau melukis atau melakukan hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan oleh seekor kucing,” katanya.

Menurut doktor dari Massachusetts Institute of Technology ini, secara historis Gereja dari dulu telah berperan sentral dalam mengembangkan sains dan kehidupan akademis; banyak para biarawan berada di garis depan kemajuan ilmu pengetahuan, katanya, sambil mengingatkan bahwa ide awal dari terori Dentuman Dahsyat (Big Bang Theory) berasal dari seorang imam Katolik (Mgr. Georges Henri Joseph Édouard Lemaître, Red.)

“Tidak ada ayat dalam Kitab Suci yang melawan teroi evolusi,” katanya, “akan tetapi ada sesuatu dalam Kitab Suci yang melawan Astrologi.”

Literalisme biblis (faham yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah, Red.) adalah faham yang berkembang akhir-akhir ini, bukan tradisi kekristenan, katanya.

“Hingga waktu terakhir, semua literatur bersifat puitis,” katanya, dan dalam dunia zaman purba, menggunakan bahasa puisi – bukan bahasa ilmiah – adalah “cara mereka melukiskan dunia.”

Menerapkan cara membaca modern untuk memahami teks yang berumur 2,000 tahun “jelas melanggar teks (mengacaukan pemahamanan teks – Red.),” kata Consolmagno, “dan itu bukan saya yang mengatakan, itu dikatakan oleh Augustinus.”, katanya merujuk kepada St. Augustinus – seorang filsuf dan teolog yang banyak menyumbang pendapat di bidang interpretasi biblis.

Menurut Consolmagno, Observatorium Vatikan didanai dengan dana sebesar 0.5% dari anggaran tahunan Vatikan – kurang lebih persentase yang sama yang diberikan Pemerintah Amerika untuk NASA. Ia juga mengatakan bahwa Paus Bendiktus mendukung penuh riset dan independensi Observatorium Vatikan ini, baik secara filosofis maupun secara finansial.

Keterangan Gambar: (1) Bruder Guy J. Consolmagno SJ, (2) Mgr. Georges Henri Joseph Édouard Lemaître.

Sumber: www.jesuit.org & Wikipedia: en.wikipedia.org.

Facebook Comments