Jember – Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein mengingatkan agar kampus dan lembaga pendidikan lain berhati-hati menerima dana dari orang atau institusi lain.

“Ada fakta rektor perguruan tinggi mengeluh dan was-was setelah menerima dana yang dibungkus program CSR, hibah, beasiswa, atau kerjasama lain, ternyata si penyumbang bermasalah,”katanya usai memberi kuliah umum dan meresmikan Pusat Kajian Tindak Pidana Pencucian Uang di Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej), Jum’at (18/02).

Yunus menambahkan, PPATK memberikan peringatan kepada pengelola kampus dan lembaga pendidikan lain agar tidak terpedaya pelaku kejahatan yang memberikan dana dalam berbagai program dengan berlindung dibalik ‘topeng’ program Corporate Social Responsibility (CSR). “Bisa jadi itu justru modus yang dilakukan oleh pihak yang memberi dana untuk menggelapkan pajak atau pencucian uang hasil tindak pidana korupsi,”katanya menambahkan.

Sejauh ini, PPATK menerima laporan tentang program kerjasama, hibah, beasiswa, dan program kajian atau riset dilakukan kampus dengan pihak-pihak yang ‘patut diduga’ bermasalah hukum dan melakukan penggelapan pajak atau pencucian uang. “Tidak usah saya sebutkan kampus mana. Tapi janggal kan, ada dosen terima dana riset sampai Rp 1 miliar,?”kata Yunus.

Karenanya, kampus dan lembaga pendidikan lainnya mesti berhati-hati dalam menerima dana atau bantuan pihak lain. “Ya harus diteliti betul, sumbernya jelas dan tidak melanggar hukum. Jangan asal terima dana dari pihak yang bersikap seperti ‘Robin Hood’,”kata anggota Satgas Pemberantasan Mafia Hukum itu.(MAHBUB DJUNAIDY)

Sumber: Tempointeraktif

Catatan: Redaksi melakukan sedikit perubahan pada judul untuk penyederhanaan.

Facebook Comments