Para ilmuwan di Australia berhasil menyaksikan lewat mikroskop bagaimana parasit-parasit malaria sedang beraksi menyerang sel-sel darah merah. Hal ini dimungkinkan melalui penggunaan teknologi mikroskopi elektron beresolusi tinggi. Citra rinci bagaimana parasit melaria menembus dinding-dinding sel darah merah membuka pemahaman baru tentang kejadian pada tingkat molekuler dan seluler dan membuka kemungkinan dikembangkannya teknik penyembuhan baru terhadap penyakit malaria.

Demikian dilaporkan dalam sebuah media release Walter+Eliza Hall Institute of Medical Research yang dikeluarkan pada tanggal 20 Januari 2011.

Para peneliti yang terlibat dalam penelitian ini antara lain Dr Jake Baum, Mr David Riglar dan Dr Dave Richard dan para peneliti dari Divisi Imunitas dan Infeksi serta para peneliti dari i3 Institute pada Universitas Teknologi Sydney (UTS).

Menurut Dr. Jake Baum, terobosam baru bagi kelompok riset ini adalah kemampuan untuk mengambil citra-citra beresolusi tinggi dari parasit pada masing-masing dan setiap tahap invasi (sel-sel darah merah, Red) dan kemampuan untuk mengulangi hal itu secara andal dan berulang-ulang. Temuan mereka ini dipublikasikan pada jurnal Cell Host & Microbe edisi 20 Januari 2011.

“Inilah kali pertama kami mampu memvisualisasikan proses ini dalam tingkat molekul dengan segala keindahannya, dengan menggabungkan capaian Institut di bidang pengisolasian parasit-parasit dan teknologi pencitraan yang inovatif,” kata Dr Braum.

“Mikoroskopi resolusi tinggi telah membuka pemahaman baru tentang bagaimana sesungguhnya parasit-parasit malaria menginvasi sel-sel darah merah manusia. Walau kami pernah mengamati parasit miniatur membuka jalannya ke dalam sel darah sebelumnya, keindahan dari tekonologi pencitraan baru ini adalah ia memberikan loncatan kuantum dalam rincian yang dapat kami amati, mengungkap kajadian-kejadian pada level molekuler dan seluler yang diperlukan pada setiap tahap invasi.”

Teknologi yang diterapkan itu disebut mikroskopi resolusi super OMX 3D SIM, suatu piranti tiga dimensi yang menangkap proses-proses seluler pada skala nanometer. Tim ini bekerja secara dekat dengan Associate Professor Cynthia Whitchurch dan Dr Lynne Turnbull dari i3 Institute pada University of Technology Sydney (UTS) untuk menangkap citra-citra itu.

“Ini barulah awal dari era penemuan-penemuan baru yang mengesankan yang dimungkinkan oleh teknologi ini yang akan membuka jalan bagi pemahaman tentang bagaimana mikroba seperti malaria, bakteri dan virus menyebabkan penyakit menular, kata Associate Professor Whitchurch.

Dr Braum mengatakan metodologi ini akan menjadi bagian integral dari pengembangan obat-obat dan vaksi-vaksin baru malaria. “Jika, misalnya, Anda ingin menguji suatu obat atau vaksin, atau menyelidiki bagaimana suatu antibodi manusia bekerja untuk melindungi Anda dari malaria, teknologi pencitraan ini memberikan anda jendela untuk melihat pengaruh aktual dari masing-masing reagent atau antibodi pada setiap tahap invasi secara persis,” katanya.

Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang telah tertular. Setiap tahun sekitar 400 juta orang tertular malaria dan sebanyak sejuta, kebanyakan anak-anak, meninggal dari penyakit ini.

Penelitian ini didukung oleh the National Health and Medical Research Council, The University of Melbourne, Canadian Institutes of Health, the University of Technology, Sydney, dan the Australian Research Council. (Sumber: www.wehi.edu.au)

Keterangan gambar:

Gambar menunjukkan tingkah-laku parasit malaria pada setiap tahap invasi sel darah merah (pelekatan, invasi, penutupan) – Ketiga unsur parasit dilabel dengan protein fluoresent (biru = inti parasit, merah = secretory organelle, dan hijau = lingkar ketat, tight junction). Sel darah merah ditunjukkan berwarna abu-abu dalam gambar.

Gambar 1: Pelekatan – Parasit mau menginvasi sel darah merah. Lingkar ketat ibarat sebuah jendela yang dibawa parasit untuk mendapat akses ke sel darah. Gamabr 2: Invasi – Pada tahap ini parasit membuka jendela (lingkar ketat warna hijau) dan masuk melaluinya. Secretory organelle (warna merah) mengeluarkan isinya melalui lingkar ketat dan menciptakan vakuola dalam mana parasit hidup dalam sel darah merah. Inti parasit (warna biru) bergerak menuju sel darah merah melalui jendela warnahijau. Gambar 3: Penutupan – Proses invasi selesai dan parasit telah berada dalam vakuola yang ada dalam sel darah. Jendela (lingkar ketat warna hijau) telah ditutup kembali dan akan pecah pada tahap berikutnya.

Kredit gambar: The Walter and Eliza Hall Institute of Medical Research – www.wehi.edu.au. Kredit penjelasan gambar: www.physorg.com.

Facebook Comments