Pertarungan Usai, Saatnya Bergandeng Tangan (Bagian Pertama dari 3 Tulisan)

Friday, February 4, 2011
By susuwongi

Catatan Redaksi:
Pilkada Nisel telah dilangsungkan pada 29 Desember 2010. KPUD Nisel menetapkan pasangan Idealisman Dachi-Hukuasa Ndruru (Ideal) sebagai bupati-wakil bupati terpilih. Namun, kemenangan tersebut tidak serta merta bisa dinikmati. Pasangan Temafol (Temazisökhi Halawa-Foluaha Bidaya) dan pasangan Fauduasa Hulu-Alfred Laia (Jiwa) bersama pasangan Hadirat Manaö-Denisman Bu’ulölö (Hadirman) dan Fahuwusa Laia-Rachmad A. Dachi (Farada) mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Pada 2 Februari 2011, MK memutuskan menolak semua gugatan itu yang secara otomatis mengukuhkan kemenangan pasangan Ideal.

Sehari setelah putusan tersebut, Forum Nias Selatan (Fornisel) menggagas pertemuan untuk mempertemukan semua pihak yang bertarung di Pilkada tersebut. Juga dihadiri oleh tokoh dan masyarakat Nisel di Jabodetabek. Nias Online berkesempatan meliput acara tersebut yang kami turunkan dalam tiga tulisan berturut-turut.

———————————–

JAKARTA, Nias Online – Hiruk pikuk Pilkada Nisel usai sudah. Gugatan yang dilayangkan melalui Mahkamah Konstitusi (MK) telah ditolak dan dinyatakan tidak berdasar hukum. MK menilai, pelanggaran dan kecurangan yang dilaporkan tidak memenuhi kriteria ‘terstruktur, sistematis dan massif’. Artinya, kalaupun ada pelanggaran yang terbukti, namun bila terjadi sporadis, maka tidak akan menghasilkan putusan penganuliran keputusan KPUD Nisel. Baik dengan menetapkan pemenang baru atau pun memerintahkan pilkada ulang.

Putusan MK itu menjadi titik klimaks pertarungan. Ada yang kecewa, kesal dan marah? Tentu saja, dan sewajarnya bila itu terjadi. Sebaliknya, ada juga yang bergembira karena kemenangannya merasa mendapat legitimasi yang lebih kuat dengan putusan MK itu. Itu lebih wajar lagi.

Lalu selanjutnya apa? Yang menang akan menikmati kemenangannya bersama para sekitar 27 ribu pemilihnya? Sebaliknya, pasangan yang kalah dan para pendukungnya yang notabene lebih banyak dari total pemilih pasangan yang menang melarutkan diri dalam kemarahan, kekesalan dan kekecewaan? Itu semua kemungkinan yang secara logis bisa terjadi.

Tapi pilihannya tidak terbatas sampai di situ. Pemenang tidak akan bisa menikmati kemenangannya tanpa mereka yang ‘kalah.’ Sebaliknya, mereka yang kalah, tidak bisa juga melenggang begitu saja tanpa ‘pemenang’ bersama mereka sebagai pemimpin yang legal. Masalahnya, untuk sampai pada pilihan kesadaran seperti itu, butuh kedewasaan, sikap legowo, dan sikap kepemimpinan bukan kepenguasaan.

Hal itulah yang mendorong sekaligus mengemuka dalam silaturahmi antar tokoh dan masyarakat Nias Selatan di Jabodetabek bersama pasangan bupati terpilih Idealisman Dachi, pasangan Temazisökhi Halawa-Foluaha Bidaya, Ketua KPUD Nisel So’ölö Manaö di sebuah rumah makan di bilangan Jalan Pramuka, Jakarta Pusat, Jakarta, Kamis (3/2/2011).

Pertemuan yang diinisiasi dan difasilitasi oleh Forum Nias Selatan (Fornisel) tersebut, sedianya dihadiri semua pasangan yang bertarung pada Pilkada Nisel. Bahkan, dua pasangan yang kepesertaannya dianulir, yakni pasangan Hadirat Manaö-Denisman Bu’ulölö dan Fahuwusa Laia-Rachmad Alyakin Dachi, meski tidak hadir, juga mendukung pertemuan penyamaan visi misi tersebut.

Dari tokoh dan masyarakat Nisel yang hadir, di antaranya, AKBP Asli Manaö (A. Fika), Waspada Wau (A. Chermin), Folo Nehe (A. Melina), Töna Zagötö (A. Kalvin), anggota DPR RI Yasonna Laoly, Vice President Standard Chartered Bank Ya’atulö Laia (A. Stanley), Arisman Zagötö (A. Rai), Ketua Umum Fornisel Yulius Edison Duha, Ketua Himpunan Masyarakat Gomo (Himasgo) Bazatogu Hia (A. Ayu), sejumlah tokoh pemuda dan pengurus Fornisel.

Yulius menjelaskan, pertemuan itu bertujuan mendorong semua elemen masyarakat Nisel agar bergandeng tangan ke depan. Agar Nisel lebih maju dimasa mendatang. “Karena selama ini Nisel sangat terpuruk dan sekarang terbentang luas di hadapan kita apa yang harus kita perhatikan. Harapan kami, kita semua mendukung bupati terpilih,” ujar dia.

Dalam sambutannya, Yasonna mengatakan, kalah menang, dalam politik, adalah hal biasa. Pertarungan telah usai dengan keluarnya putusan MK. Kini saatnya ‘yang lalu biarlah berlalu.’ Sebab, apapun kenyataannya, saat ini Nisel sudah memiliki bupati baru dan semua pihak harus bersama-sama mendukungnya.

Kini saatnya merapatkan barisan, bersatupadu membangun Nisel. Dia mengungkapkan, saat ini, dibanding daerah yang bersamaan pemekarannya, Nisel relatif lebih tertinggal. Penyebabnya pun, semua orang di Nisel tahu dan paham. Karena itu, dia menilai terpilihnya pemimpin baru merupakan momentum baru yang penting. “Saya senang pasangan Temafol ada di sini. Saya berharap bupati terpilih merangkul semua elemen masyarakat di Nisel dan semua calon yang ikut bertarung. Karena semua golnya satu saja, untuk memajukan Nisel. Dan sekarang sudah ada yang terpilih, maka satukan kembali langkah itu. Saya pikir itu end goal-nya. Dan saya yakin kita bertemu di sini untuk tujuan itu,” kata dia.

Sementara itu, tokoh masyarakat Nisel di Jabodetabek yang juga salah satu penggagas pertemuan itu, Waspada Wau mengutip Roma 12:18, yang salah satu intinya adalah mengenai ajakan untuk hidup dalam perdamaian satu dengan yang lain. “Dan perdamaian itu, tergantung pada Idealisman, Hukuasa, Temazisökhi, Foluaha, dan semua pihak,” kata dia.

Pada kesempatan itu, Waspada mengajak Idealisman, Temazisökhi, Foluaha, So’ölö dan Yasonna Laoly untuk berdiri. Ketiga pihak tersebut, kemudian bersalam-salaman sebagai tanda semua persoalan telah diselesaikan dan bahwa semua sepakat untuk saling mendukung.

Hal yang melegakan dan menyejukkan hati disampaikan oleh pasangan Temafol. Temazisökhi mengungkapkan, usai pembacaan putusan oleh MK, langsung menyatakan ucapan selamat kepada Idealisman. Dan dalam pertemuan dengan timnya usai dari MK, mengajak semuanya mendoakan pasangan Idealisman. “Kemampuan Ideal tidak diragukan lagi, apalagi pernah jadi anggota DPR. Biarlah yang lalu berlalu. Dengan hati yang tulus ikhlas, sepulang dari MK kami berdoa untuk Anda karena Bapaklah yang terbaik dari lima kandidat. Sebab, terpilih dan raih suara terbanyak,” kata pria yang juga akrab dipanggil Ama Yosua tersebut.

Sementara itu, Foluaha mengatakan, meski kerap dianggap tidak tahu berpolitik, justru mereka menunjukkan budaya sportivitas dalam berpolitik dibanding yang lainnya. “Seharusnya, malam ini kami pulang juga ke Nisel. Tapi kami ingin tunjukkan sportivitas kami. Kami bukan cuma pendeta, tapi juga tahu mengenai politik,” kata dia.

Dia menganalogikan pertarungan selama ini seperti pertarungan sepakbola. Dalam upaya menggiring bola ke gawang, persenggolan tidak akan terhindarkan. Namun, ketika wasit sudah menyatakan siapa yang menang, para pemain saling berangkulan. Karena itu, menurut dia, pengaitan rekonsiliasi dengan pertemuan itu sudah tepat.

“Saya tidak setuju bahwa tidak perlu rekonsiliasi karena dianggap bahwa tidak terjadi apa-apa. Kita tidak boleh sembunyikan, bahwa minimal dalam ucapan ada hal yang menyakitkan. Malam ini kita awali, untuk saling memaafkan. Sebab, membangun nisel itu tidak cukup dengan Pak Ideal dan Hukuasa. Artinya, tanpa kita semua Pak ideal tidak bisa membangun Nisel. Tadi saya bangga ketika beliau mengatkan bahwa dia menerima dukungan atau masukkan,” kata dia.

Menanggapi hal itu, Bupati terpilih Idealisman Dachi mengatakan, sangat mensyukuri adanya inisiatif pertemuan tersebut. Menurut dia, berbicara Nisel ke depan, semua masyarakat Nisel pasti akan terpanggil untuk membangun. Cuma segmennya yang berbeda-beda. Dia juga menyatakan, pihaknya akan merangkul pasangan yang kalah. Sebab mereka adalah pasangan yang memiliki kemampuan dan ide-ide cerdas.

Dia menjelaskan, keterlibatan dan kerjasama semua pihak sangat dibutuhkan. Menurut dia, cukup sudah selama lima tahun yang penuh gejolak di Nisel. Karena itu, dia terbuka pada pemikiran yang berkontribusi pada kemajuan Nisel. Dia juga menyadari, sebagai pemimpin yang masih muda (usia 38 tahun), punya banyak keterbatasan. “Saya butuh para senior, yang punya pemikiran matang, cerdas, sepanjang itu intinya untuk kepentingan masyarakat Nisel,” tukas dia. (Etis Nehe)

4 Responses to “Pertarungan Usai, Saatnya Bergandeng Tangan (Bagian Pertama dari 3 Tulisan)”

  1. 1
    fenny Says:

    Seneng sekali dengan hasil pertemuannya, memang Damai itu sangat indah, maju terus NISELku tercinta. GBU All…

  2. 2
    Moshe Dayan Says:

    Jika anda ingin damai, duduk dan bicaralah dengan lawanmu!

  3. 3
    Marselino Fau Says:

    Boleh-boleh saja diadakan pertemuan tapi tidak berarti ada loby-loby politik di belakangnya. Saya berharap pertemuan ini tidak dijadikan untuk melupakan kasus-kasus korupsi yang dilakukan di Nisel. Yang bertanggung jawab harus diproses dan diusut. Kita boleh berdamai (itu hal yang mulia) tetapi yang bertanggungjawab pada penyalahgunaan APBD harus tetap di usut.

    Untuk Para pengurus Fornisel tolong didorong Fornisel jadi alat untuk mengkritisi kebijakan pemerintah di Nisel. Tidak untuk larut menggunakan Fornisel untuk kepentingan sesaat. Fornisel harus mendorong Ideal (bupati) untuk mengusut koruptor di Nisel.

    Kami menunggu… kiprahnya….

    Ya’ahowu

  4. 4
    Amos Says:

    politik yang sangat indah dan santun……..,seandainya bisa terus bertahan ….,semua bisa menjadi budaya yang bagus untuk membangun nias selatan yang kita cintai ini.
    selamat buat pasangan ideal………….
    PR dah banyak menunggu untuk dikerjakan.
    congratulation………….
    jaya Nias Selatan

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

February 2011
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28