BANTEN, KOMPAS.com – “Bunda, orang meninggal itu sepeti apa, orang meninggal itu sepertinya tidak kembali,” ujar Veny menirukan pertanyaan Azis putranya. Barangkali itulah firasay yang disampaikan Azis, bocah lima tahun putra pasangan Muhardi dan Veny sebeleum meninggal akibat kebakaran KMP Laut Teduh II di Selat Sunda, Jumat (28/1/2011).

Veny, guru SMU 5 Negeri Bandar Lampung ini, tak kuasa menahan tangis. Bekali-kali ia menyeka matanya yang basah dan bengkak saat menceritakan kejadian yang merenggut nyawa putranya. Muhardi, sang suami larut dalam kesedihan dan bibirnya tak henti-hentinya menyebut nama putranya.

Menurut Veny, kebakaran terjadi sekitar pukul 02.00. Kapal yang berangkat dari Pelabuhan Merak tujuan Pelabuhan Bakauheni dan mengangkut lebih dari 400 orang tersebut mendadak terbakar di tengah laut.

“Pas malam tiba-tiba ada asap, orang-orang bangun dan kami keluar ambil baju pelampung. Kami naik di atas skoci, tapi tidak bisa digunakan karena tidak ada awak kapal,” ujarnya.

Di tengah kepanikan di atas skoci, bersama sekitar 50 orang penumpang, Veny dan suaminya memutuskan untuk melompat dari atas kapal yang tengah dilalap api. Dua jam lebih mereka terapung di lautan. Baju pelampung yang belum terpasang sempurna, membuat dia harus berjuang menyelamatkan istri dan anaknya.

“Saya berusaha agar istri dan anak saya tidak tenggelam, ombaknya tinggi sekitar tiga meter. Anak saya akhirnya terlepas dari pegangan dan ditelan gelombang,” ujar Muhardi.

Dalam kondisi gelap, Muhardi tak mampu menemukan Azis anaknya. Dia terus menopang dan memberi semangat kepada istrinya untuk mampu bertahan.

“Suami saya selalu teriak muntahin, saat kami diterjang ombak, sebenarnya saya sudah tidak kuat, tapi suami saya menyemangati agar saya harus selamat,” ujar Veny.

Veny dan suaminya diselamatkan oleh kapal penumpang yang berlayar dari Lampung menuju Pelabuhan Merak. Di atas kapal tersebut, seluruh penumpang membantu korban. “Penumpang membantu apa saja, baju-baju, makanan, dan obat,” ujar Muhardi

Rencananya, mereka pergi ke Jakarta untuk mengurus paspor dan surat-surat Veny untuk mengajar di Thailand. Dia dijadwalkan berangkat 10 Februari mendatang untuk mengajar selama empat tahun di Thailand. Kristianto Purnomo

Sumber: Kompas.Com

Facebook Comments