Kehadiran jasa penerbangan dari Gunungsitoli ke Medan yang dimungkinkan dengan dibukannya kembali lapangan terbang Binaka telah memperpendek waktu tempuh perjalanan dari Gunungsitoli ke kota-kota lain di Indonesia dan bahkan ke seluruh dunia.

Menurut catatan majalah Tempo (edisi 1 Mei 1976) Bandar Udara Binaka yang dibuka kembali pada tahun 1976 itu merupakan peninggalan Jepang dan pernah dimanfaatkan oleh TNI AU untuk menumpas pembertakan PRRI. Segera setelah gempa Maret 2005 meluluhlantakkan Nias, frekuensi penerbangan ke dan dari Gunungsitoli lewat bandara Binaka meningkat tajam.

Kalau dulu – hingga 10 tahun lalu – masyarakat Nias masih sangat mengandalkan kapal laut untuk bepergian keluar dari Nias, maka dalam tahun-tahun terakhir ini tren itu sudah sangat berubah.

Program rekonstruksi dan rehabilitasi Nias menyusul gempa Maret 2005 itu berperan besar dalam membuka keterisoliran Nias dari dunia luar dan perbaikan akses ke dan dari daerah-daerah yang selama ini sunguh-sungguh susah dijangkau. Seiring dengan itu, pemekaran Nias menjadi 4 kabupaten dan 1 kota semakin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, memeratakan dana pembangunan ke daerah-daerah yang selama ini ini hanya mendapat zõnõzõnõ alias sisa-sisa yang tak habis dimakan.

Kehadiran penerbangan regular Gunungsitoli-Medan dan sebaliknya dengan frekuensi yang lebih tinggi dibanding 10 – 5 tahun lalu meningkatkan mobilitas masyarakat Nias dan orang-orang yang ingin berkunjung ke Nias.

Tanggal 2 Januari lalu, seorang kru Redaksi Nias Online terbang dalam satu pesawat dengan 4 orang anak muda Nias dalam penerbangan dari Gunungsitoli menuju Medan dengan pesawat ATR 72-500 milik maskapai Wings Air, dan selanjutnya ke Jakarta dengan sebuah pesawat Lion Air. Mereka adalah Yaman Harefa, Surilawati Hulu, Gita Gulö dan Yenni Lase.

Yaman Harefa berasal dari Gunungsitoli dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Yaman sudah 6 tahun tinggal Jakarta. Tentang kehidupannya saat ini, Yaman secara singkat berkomentar: “Lumayanlah, jauh lebih baik dari waktu di Nias”. Meskipun sudah merasa betah tinggal di Jakarta, Yaman mengaku sering pulang ke Nias; hal ini dimungkinkan oleh lancarnya transportasi udara ke dan dari Nias.

Kalau dulu, Medan masih merupakan tujuan utama para pelajar Nias untuk meneruskan studi, kini hal itu berubah, seiring dengan munculnya kantong-kantong masyarakat Nias di berbagai kota seperti Padang, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Salatiga, dan – tentu saja – Jakarta.

Surilawati Hulu, misalnya, berencana melanjutkan kuliah di Jakarta. Gadis Nias yang berasal dari Moaŵö ini, berbekalkan sebuah hape dan nomor-nomor telefon keluarganya di Jakarta, berangkat pagi itu dari Gunungsitoli sendirian, hanya diantar sampai di Bandara Binaka oleh keluarganya. Wati yang menyelesaikan studi di SMK BNKP Gunungsitoli ingin melanjutkan studi di Jakarta, jurusan Manajemen. Wati, yang baru pertama kali di Jakarta ini, mengatakan kuliahnya akan dibiayai secara gotong-royong oleh keluarga. “Kuliah saya akan dibiayai oleh orang mama dan juga paman saya yang tinggal di Jakarta”. Sesampai di Jakarta, Wati menghubungi sebuah nomor telpon, dan tidak lama dari wajahnya terpancar senyum, ia sudah terhubung dengan keluarganya di Jakarta.

***
Gita Gulö dan Yenni Lase, setiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, masih harus melapor ke bagian transit untuk penerbangan selanjutnya ke Yogyakarta, kota di mana keduanya menuntut ilmu. Sama seperti Yaman dan Wati, Gita dan Yenny tidak harus menunggu lama atau bermalam untuk tiba di kota tujuan; mereka hanya menunggu sekitar sejam untuk meneruskan perjalanan dengan penerbangan lain menuju Yogyakarta.

Gita, yang menekuni Public Relations Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta ini, memiliki harapan yang tinggi tentang Nias. “Nias is an exotic island … sangat bagus, cuma belum dikembangkan saja”, kata gadis dari Fukagambö, Nias Barat ini. Ketika disinggung tentang Nias Barat, Gita lebih antusias lagi. “Harapan saya Nias Barat bisa lebih maju, lebih baik, benar-benar bebas dari korupsi dan nepotisme,” kata Gita, putri dari Zemi Gulö, SH, Sekretaris Daerah Kabupaten Nias Barat. Pilkada yang akan berlangsung pada bulan Februari mendatang diharapkan menjadi momen untuk menjadikan Nias lebih baik lagi, tambah Gita yang setelah menyelesaikan studinya, bercita-cita menjadi konsultan Public Relations.

Yenni Lase, yang berasal dari Gunungsitoli, pagi itu dalam perjalan menuju Yogyakarta untuk menempuh studi strata 2 (S2) Magister Ekonomika Pembangunan (MEP) di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Yenni, lulusan SMA Negeri I Matauli Pandan Sibolga dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN) Bandung ini, mendapat beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Nias. Yenni berharap kehadiran derah-daerah otonom baru di Nias berdampak positif pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengoptimalan pengembangan dan pemanfaatan sumber-sumber daya alam. Setamat dari UGM nanti, Yenny akan kembali ke Nias untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya di tempat ia bertugas: Sekretariat Daerah Kabupaten Nias.

***
Kecepatan, kepraktisan dan kenyamanan perjalanan sebagian dari anak-anak muda Nias ini tentu saja jauh dari hal yang dialami oleh generasi-generasi Ono Niha sebelumnya yang – dengan menggunakan kapal laut yang menuju Sibolga – harus mengalami segala penderitaan digoncang ke kiri dan ke kanan oleh bis yang melalui jalan berkelok-kelok dari Sibolga hingga ke Medan. Bukan hanya itu, di Sibolga sendiri, mereka terkadang harus mengalami penderitaan awal, dilarikan oleh becak keliling-keliling kota untuk mengompas mereka dengan ongkos yang tak masuk akal ketika turun di tempat perhentian sementara sambil menunggu bis atau taksi ke Medan.

Ha’uga manõ dania bale …” (berapa sajalah nanti), jawab tukang becak Ono Niha yang ditanya tentang ongkos becak dari dari pelabuhan ke suatu tempat di Sibolga. Jawaban itu umumnya berarti ongkos yang selangit. Maka ketika itu, tidak jarang terjadi pertengkaran mulut bahkan hingga perkelahian, ketika penumpang becak Ono Niha memprotes ongkos yang dipatok oleh penarik becak yang juga Ono Niha.

Agaknya keadaan telah berubah, dan berubah ke arah yang lebih manusiawi. (brk/*)

Facebook Comments