JAKARTA, Nias Online – Persidangan gugatan hasil pilkada Nias Selatan (Nisel) di Mahkamah Konstitusi diwarnai dengan pengakuan mengejutkan. Salah satunya, seperti diungkapkan oleh anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat Saut Hamonangan Sirait bahwa dirinya ditemui oleh Fahuwusa Laia (Bupati Nisel, red) dan memberikan uang dalam satu kantong sebesar Rp 99.900.000. Saut mengaku, pemberian uang itu terkait dengan penganuliran pasangan itu sebagai peserta Pilkada Nisel 2010.

“Saya sendiri mengalami. Fahuwusa Laia memberikan uang kepada saya sebesar Rp 99.900.000 terkait masalah pencoretan namanya sebagai peserta Pilkada,” ujar Saut saat diperiksa sebagai saksi pada persidangan gugatan atas Pilkada Nisel di MK, Jakarta, Selasa (25/1/2011).

Saut mengaku, penyerahan uang itu dilakukan di ruang kerjanya di Kantor KPU di Jakarta. Pada persidangan itu, Saut hadir bersama saksi lainnya, di antaranya, Ketua Panwaslu Nisel Ismael Dachi, anggota KPUD Sumut Turunan Gulö, Kapolres Nisel AKBP Leonardo Eric, SIK MM, yang semuanya diajukan pihak termohon (KPUD Nisel).

Dihubungi usai sidang mengenai tujuan pemberian uang itu, Saut mengatakan, intinya, bagaimana agar pasangan Fahuwusa dimasukkan kembali sebagai peserta Pilkada Nisel 2010. Dia mengaku tidak meladeni permintaan tersebut dan memilih menyerahkan uang tersebut ke KPK.

Fahuwusa Membantah

Pada sesi lanjutan persidangan pada pukul 20.30 wib, Fahuwusa Laia, melalui kuasa hukumnya membantah pernyataan Saut tersebut. Kemudian, Fahuwusa yang duduk bersebelahan dengan kuasa hukumnya diberi kesempatan memberikan jawaban. “Tidak pernah sama sekali (memberikan uang, red). Kalau pernah, kenapa tidak pada saat itu dipersoalkan, dan kenapa sekarnag baru di siding MK ini sekarang dibicarakan,” kata Fahuwusa.

Fahuwusa hendak memberikan penjelasan tambahan untuk meluruskan pernyataan Saut tersebut. Namun ditolak oleh Hakim Akil Mochtar dengan alasan persidangan itu bukan persidangan pidana. Dia menegaskan kepada kedua belah pihak, bila ingin meluruskan pernyataan itu, agar dilakukan di peradilan pidana. “Saudara saksi merasa menerima. Dan Saudara mengatakan tidak pernah memberikan. Ini sudah disampaikan kepada KPK. Jadi itu, persoalan lain. Nanti luruskan di peradilan pidana saja,” kata dia.

Namun, sekitar 30 menit kemudian, saat menjawab pertanyaan kuasa hukum pasangan Jiwa, Arteria Dahlan, Saut kembali mengungkapkan perihal pemberian uang tersebut. Dia menyatakan, saat menyerahkan uang itu, Fahuwusa bersama dengan istrinya dan seorang bernama Yurisman Laia.

“Dia menjelaskan, masukan soal pilkada Nisel pertama sekali sampai kepadanya justru bukan dari KPU Provinsi atau pun Kabupaten. Masukan pertama kepada saya di KPU RI justru bukan dari KPU provinsi, kabupaten/kota, tapi dari para pemohon. Berdasarkan data dari pemohon itu saya sampaikan, ini memang salah, ini salah dan ini salah. Itu awalnya. Yang pertama mendatangi saya terkait pilkada di Nias Selatan adalah bapak Fahuwusa Laia beserta istrinya dan Erisman Laia yang membawa uang dalam satu tas sebesar Rp 99.900.000,” terang Saut.

Dia menambahkan, dia juga memiliki rekaman percakapan saat pertemuan yang diikuti dengan penyerahan uang tersebut. Uang dan rekaman percakapan tersebut, kata dia, telah diserahkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK juga telah menghitung uang tersebut dan jumlah totalnya hanya Rp 99.900.000. “Rekaman itu juga ada di KPK dan KPK nanti yang akan membuktikannya,” tukas dia. (EN)

Facebook Comments