Lompatan Gemilang Si Fahombo Batu

Monday, January 17, 2011
By Redaksi

“Mau ke Nias? Wow.. lompat batu!”. Begitu terkenalnya lompat batu sehingga menjadi ingatan yang muncul dibenak bila menyebut Nias. Lompat batu yang unik itu, memang hanya ada di Nias. Nias memiliki kekayaan peninggalan budaya (tangible dan intangible) seperti rumah adat, berbagai artefak dan tradisi yang unik. Diantaranya yang paling terkenal adalah tradisi Lompat Batu atau Fahombo Batu.

Jejak tradisi
Fahombo Batu merupakan ritual budaya sebagai simbol kedewasaan pemuda Nias. Fahombo batu dilangsungkan sebagai inisiasi menguji ketangkasan fisik dan kesiapan mental para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Batu yang harus dilompati berupa susunan batu megalit yang tersusun mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atasnya datar. Tingginya kurang lebih 2 (dua) meter dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm. Di depannya ada undukan batu kecil setinggi 30an cm, dimana tempat kaki dipijakkan sebelum melakukan lompatan. Dengan bentuk susunan batu tersebut maka fahombo batu tidak sekedar melompat batu. Melakukan fahombo batu memerlukan teknik khusus karena memiliki tingkat kesulitan tertentu. Di masa lampau bagian atas batu bahkan ditutupi dengan duri dan bambu runcing tajam. Para pelompat tidak hanya harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus mampu mendarat dengan posisi yang tepat. Untuk itu pelompat batu perlu menginjak batu undukan kecil sebagai teknik mendorong daya lompatan dan kemudian mendarat dengan tepat. Salah menginjakkan kaki pada batu undukan kecil, daya dorong kurang dan kekuatan melompat akan terbatas. Kesalahan teknis dalam hal ini akan dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang. Karena itu para pemuda melakukan latihan berulang-ulang. Bagi masyarakat Nias seorang pemuda dari satu keluarga yang sudah dapat melakukan fahombo batu dengan sempurna untuk pertama kalinya, merupakan satu kebanggaan bagi orangtua dan kerabat lainnya bahkan seluruh masyarakat desa. Untuk kegembiraan itu, keluarga lalu mengadakan syukuran. Bagi kalangan bangsawan bahkan mengadakan acara dengan menjamu para pemuda desanya.

Seorang pemuda yang mampu melakukan fahombo batu dengan sempurna dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya, memasuki pernikahan dan untuk menjadi prajurit desa jika ada perang antar desa atau konflik dengan warga desa lain. Ketangkasan melompat batu merupakan kebutuhan dan persiapan , baik untuk menyerang, bertahan, maupun untuk menyelamatkan diri. Dahulu kerap terjadi peperangan antar desa di Nias karena itu karena itu desa-desa di Nias selalu dikelilingi pagar dan berbagai bentuk rintangan sebagai pertahanan. Pagar dari batu, bambu atau batang pohon, dibangun mengelilingi desa setinggi kira-kira 1,5 – 2 meter. Banyak penyebab konflik dan perang antar kampung antara lain masalah perbatasan tanah, perempuan, ketersinggungan harga diri, dan masalah lainnya. Konon pula tradisi fahombo-batu ini dikaitan dengan kisah berburu kepala manusia (mangani binu) dalam legenda Awuwukha. Hal ini pula menjadi salah satu faktor terjadinya peperangan antar desa. Ketika para pemburu kepala manusia dikejar atau melarikan diri, maka mereka harus mampu melompat pagar atau benteng desa sasaran supaya tidak terperangkap di daerah musuh. Ketangkasan dibutuhkan untuk melompati benteng pertahanan yang sulit dilewati. Para pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain atau menyelamatkan diri akan menjadi pahlawan di desanya.

Sekarang ini, jejak tradisi lama itu telah menjadi sebuah atraksi pariwisata yang unik, tiada duanya di dunia. Dalam sebuah pertunjukan, beberapa pemuda Nias berpakaian adat secara bergantian melakukan fahombo batu dalam atraksi ini. Bagi pelompat yang sudah mahir, fahombo batu dilengkapi dengan berbagai gaya lompatan yang menarik saat sedang mengudara. Ada yang dengan aksi menarik dan menghunus pedang, dan ada juga yang menjepit pedangnya dengan gigi, dan lain-lain. Sehingga fahombo batu kemudian bukan lagi berupa tradisi tetapi kemudian juga mejadi sebuah atraksi yang menarik dan kadang mencekam. Bila seorang pelompat melakukan atraksi lompatan dengan gemilang maka para penonton akan mengeluarkan decak kekaguman dan memberikan tepuk tangan pujian baginya. Atraksi yang berlatar belakang tradisi ini menjadi satu acara yang sangat diminati wisatawan yang datang ke Nias. Bahkan atraksi ketangkasan ini telah memperkenalkan Nias dan dijadikan sebagai ikon pariwisata dan gambarnya tercantum pada mata uang rupiah.

Lompatan gemilang
Fahombo batu dapat diselenggarakan sebagai upacara adat, pertunjukan seni atau atraksi dalam rangka penyambutan tamu. Walaupun atraksi ini kini telah dapat dilihat di banyak tempat melalui berbagai acara, namun ritual fahombo-batu yang sesungguhnya hanya dapat ditemui di desa asalnya yaitu di Bawömataluo (Bukit Matahari). Bawömataluo merupakan salah satu desa adat yang terbesar di kepulauan Nias dan berada di wilayah Nias Selatan. Memasuki desa yang unik ini, harus diawali dengan menapaki gerbang utama dengan 88 anak tangga menjulang ke atas dengan posisi kemiringan sekitar 45°. Inilah sebab mengapa desa itu disebut sebagai bukit matahari. Posisi desa diatas bukit sehingga dari ketinggian desa ini dapat dilihat wilayah di bawahnya bahkan laut yang berjarak jauh darinya. Di depan rumah raja di Bawömataluo ini terdapat peninggalan batu bersusun (hombo-batu) yang dikenal penggunaannya dalam tradisi fahombo batu. Disanalah, fahombo batu ini dilakukan dengan sempurna dan dapat dinikmati seutuhnya baik sebagai atraksi seni maupun tradisi budaya lengkap dengan penjelasan detail secara filosofis-historis. Pertengahan tahun lalu saat berkunjung ke desa ini, saya terkesima melihat sebuah aktifitas menarik siang itu. Sekelompok anak-anak kecil berlatih melompat batu. Menyejukkan hati saat menyaksikan bahwa tradisi ini masih diteruskan oleh ’prajurit-prajurit’ kecil. Mereka menggunakan kayu panjang atau tali sebagai batas tinggi lompatan, dan undukan pijakan dari dari bahan kayu. Sungguh sangat menarik memperhatikan arahan dalam latihan teknik ketepatan menginjakan kaki pada undukan kecil itu. Tanpa injakan yang tepat, tidak dihasilkan daya dorong untuk melompat. Untuk sebuah lompatan gemilang, tidak tergantung pada fisik si prajurit semata, tetapi lebih kepada hitungan kecepatan lari, ketepatan menginjak, daya dorong dan gerakan melompat, dan kemampuan mendaratkan kaki kembali dengan tepat dan indah. Sebuah harmonisasi sistem gerak yang meliputi kejelian, kepekaan, kekuatan dan konsistensi. Karena salah teknik, membuat salah seorang prajurit kecil terjatuh dan menangis, namun rasa sakit di kaki tidak mematikan semangat, ia bangkit dan kembali berlatih. Luar biasa, begitu rupanya sikap keprajuritan seorang ono Niha. Melalui fahombo batu ini, kita belajar sebuah kearifan dalam menciptakan lompatan gemilang.

Karena posisi wisatawan biasanya berdiri di depan tumpukan batu untuk dapat melihat lompatan si fahombo batu, maka perihal undukan ini sering kurang mendapat perhatian. Padahal, undukan ini fungsinya penting dan memiliki pesan filosofis tersendiri. Undukan ini adalah perlambang fondasi (pijakan dasar) bagi keberhasilan sebuah lompatan gemilang. Ini membawa ingatan saya kepada logo dari Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB) yang bergambar fahombo batu Nias. Penjelasan filosofis logo tersebut adalah harapan sebuah keberhasilan melakukan lompatan gemilang ke masa depan. Masa depan Nias adalah sumberdaya yang berkemampuan dalam mengelola sumberdaya alam dan menciptakan serta menggunakan sumberdaya buatan bagi kehidupannya. Untuk mencapai hal itu maka pemberdayaan masyarakat adalah strategi yaitu pemberdayaan masyarakat Nias yang yang berfokus pada manusia Nias dimana dalam proses pembaruan kehidupan Nias masyarakat terlibat sebagai subjek yang aktif (people driven), dan yang mampu mewadahi aspirasi dan tujuan hidup masyarakat sehingga mampu merencanakan dan menentukan masa depannya sendiri.

Relevansinya adalah mengingatkan kita kembali kepada fondasi dasar pembangunan Nias. Keberhasilan dan kinerja dari sebuah daerah ditunjukkan seberapa jauh memberdayakan masyarakatnya dan mensejahterakan wilayahnya. Diperlukan sistem yang efektif mengatur bagaimana tujuan luhur kehidupan masyarakat ini dapat dicapai. Perjuangan tanpa sistem akan sia-sia. Sistem yang dirancang dengan azas partisipatif dan musyawarah dan disepakati bersama akan mengarahkan langkah, mengatur dan bagaimana setiap fungsi dan hubungan didalamnya terkoordinasi secara harmonis dan tidak berjalan sendiri-sendiri atau sesuka hati. Menjadi bagian di dalamnya adalah program strategis berorientasi jangka panjang dan berkelanjutan ditetapkan sebagai visi dan arah tujuan daerah yang direncanakan dan dikomitmenkan sebagai payung dari program pembangunan tiap kurun waktu pilkada atau satu periode pemerintahan. Sistem yang baik akan menghasilkan kinerja yang baik, dengan penyelenggaraan tanggungjawab dan hak yang seimbang. Sistem yang buruk tidak akan kondusif menghasilkan sumberdaya masa depan Nias yang berkualitas.

Dalam konteks yang lebih luas, dalam membangun kehidupan bersama di era pemekaran, maka kinerja berkualitas dari kabupaten dan kota otonom adalah fondasi dasar sistem bersama, andai niatan pembentukan sebuah suprastuktur propinsi nanti akan dilembagakan. Dalam membangun rumah besar bersama, dibutuhkan sebuah sistem yang dikomitmenkan bersama. Dalam hal ini bukan hanya sekedar koordinasi, namun juga keselarasan, keseimbangan, keserasian, dinamis dan berkelanjutan dalam interaksi antar daerah yang ada di kepulauan ini. Perlu kesabaran, kesadaran dan kebersamaan sampai setiap daerah otonom ini menjadi kuat untuk dapat dijadikan pilar kokoh sebuah sistem bersama. Rumus alamnya, kekuatan dari sebuah sistem adalah pada matarantai terlemah. Walau kelima daerah otonom ini berada disatu wilayah geografis yang sama dan memiliki keterkaitan satu dengan yang lain, faktanya kelima daerah otonom pertumbuhannya masih timpang. Maka komitmen dibangun antar wilayah untuk saling mendukung kinerja daerah masing-masing, agar bermanfaat satu sama lain dan tidak saling merugikan. Langkah strategis adalah melalui upaya pengurangan secara konsisten kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan peningkatan secara signifikan kebersamaan horizontal antar daerah.

Kesiapan dan kekuatan untuk melompat gemilang tergantung pada injakan yang tepat. Jadi, dalam hal ini yang dibutuhkan bukan sekedar aktivitas eforia politik yang rapuh atau hanya tergantung pada sosok tokoh. Kalau ini yang terjadi, maka gerakan hanya naik turun, maju mundur, timbul tenggelam, tidak akan pernah maju-maju. Akhirnya, layu sendiri sebelum berkembang. Belajar dari berbagai keterpurukan yang di alami wilayah ini berpuluh tahun, maka sangat bijak bila kita mengingat pepatah ini. Orang bodoh membangun rumah diatas pasir, ketika gelombang datang maka rubuhlah ia. Orang bijak membangun rumah diatas batu, maka kuatlah ia dan tak mudah rubuh dihantam gelombang. Saatnya Nias bangkit, saatnya melakukan lompatan gemilang dan raihlah kehidupan yang lebih baik ! /egnt

*) Esther GN Telaumbanua, Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit.

18 Responses to “Lompatan Gemilang Si Fahombo Batu”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 11
    Marselino Fau Says:

    Atas nama keluarga besar “Fau atau Wau” saya berterima kasih atas artikel yang telah Ibu tuliskan untuk menCERAHkan nalar dan ingatan.

    Mencari suatu makna dasar tidak boleh dilepas dari konteksnya, makna Fahombo tidak boleh dilepas dari Faluaya.
    Dalam Faluaya ada Fahohoi, Faluaya si’õligõ, Fatele, Fogaele dan Fahombo. Oleh karena itu untuk mencari makan setiap fragmen harus dalam konteks Faluaya sehingga tidak kabur dan keliru.
    Pemaknaan Fahombo “Lompatan Gemilang” dalam konteks pembangunan, itu baik dan semoga dapat memberi inspirasi bagi para pengambil keputusan dalam pemerintahan, khususnya di Nias.
    Tapi dalam konteks aslinya dan filosofi-historisnya makna yang mendasarinya harus diluruskan karena akan memberi interpretasi yang tidak tepat atau image yang keliru untuk gernerasi berikutnya.

    Dari cerita leluhur, kakek dan orang tua saya (sebagai salah seorang “si fahombo”)dan sampai kepada kami, mereka menceritrakan bahwa makna ” fahombo” tidak seperti itu. Historis perpindahan baik dari Desa Lahusa ke Orahili sampai ke Bawomataluo makna “fahombo” bukan demikian. Seperti yang saya katakan bahwa makna fahombo tidak boleh dilepas dari fragmen sebelumnya dan Faluaya secara keseluruhan. Makna Fahombo tidak ada kaitannya dengan kewajiban sosial, pernikahan atau matang secara fisik atau dianggap dewasa.

    Makna dasarnya adalah tanda bahwa orang yang telah melompati mampu menjadi “Sawõlõ” kalau di Indonesiakan menjadi “prajurit yang tangguh” di medan perang. Fahombo merupakan ukuran untuk menentukan seorang pria mampu menjadi “Sawõlõ”. Konon bahwa itu dikaitkan dengan “fanai binu” ya, barangkali benar karena konteksnya peperangan dan membangun rumah atau perkampungan yang besar agar kokoh dan tidak dapat direbut atau dibinasakan oleh musuh.

    Faluaya adalah tarian untuk menyambut orang-orang yang menang dari peperangan, yang diawali dengan fahohoi yang diakhir dengan fahombo. Jadi sekali lagi konteksnya dalam menyambut para prajurit yang menang dari peperangan. Jadi tidak ada kaitannya dengan kewajiban sosial, pernikahan atau matang secara fisik atau dianggap dewasa.

    Seiring perubahan jaman dan perkembangaanya tarian faluaya (salah satunya fahombo) menjadi ataraksi budaya, dan sering digunakan untuk acara seremonial penyambutan pejabat, wisatawan luar maupun domestik, namun makna dan filosofi-historisnya tetap tidak berubah.

    Sewaktu kecil kelas 2 SD saya dengan anak-anak lainya berlatih dengan melompati daro-daro batu di depan rumah kami atau dibuat tiang dengan mistar diatasnya kemudian sewaktu kelas 5/ 6 SD berlatih dengan melompati pagar rumah kakek saya “Omo Sebua”, baru setelah itu mencoba menjajaki “hombo batu”. Inilah tahap-tahap latihan anak-anak seusia saya waktu itu.

    Acara seremonila yang harus dilakukan apabila seseorang berhasil melompat (fahombo) kepadanya akan di potong seekor ayam jantan berbulu putih dan diterbangkan diatasnya. Maknanya agar ia bisa melompat bagaikan ayam jantan.

    Jadi makna fahombo dalam konteks dasar filosofi-historisnya harus diluruskan tetapi dalam konteks dasar pembangunan di Nias agar mencapai “Lompatan Gemiliang” semoga menjadi INSPIRASI.

    Salam Yahowu!!!!!!!!!!!!

  2. 12
    esther gn telaumbanua Says:

    Ibu Lusia Telaumbanua, Ibu Phoebe harefa, Bpk. O’ö Zebua, Bpk. Nurzengky ibrahim, Ibu Diandra, Bpk Lumono Wa’u, Bpk Benny Lase, Bpk/Ibu Meli Duha, Bpk Marselino Fau, yang baik.

    Terima kasih telah membaca dan berkenan memberi respons atas tulisan saya diatas. Tentunya setiap tulisan ada kelebihan dan kekurangannya, dan saya merasa berbahagia dan telah diperkaya dengan berbagai respons yang diberikan. Saya juga yakin bahwa setiap yang membaca akan pula disempurnakan pengetahuan dan pemahamannya dengan adanya tambahan informasi, konfirmasi, koreksi dan saran dari bapak/ibu sekalian. Semua yang disampaikan telah menjadi catatan saya.

    Sesungguhnya pula hal ini menjadi bagian yang saya harapkan dari tulisan ini bahwa akan ada interaksi dan diskusi diantara kita. Itu sebabnya pula saya menulis di situs budaya ini, karena disinilah salah satu ruang diskusi budaya Nias yang memungkinkan kita untuk berbagi dan saling memperkaya. Terima kasih untuk NiasOnline. Saya berharap diskusi ini tidak terhenti disini.

    Saya dan banyak Ono Niha lainnya, hidup di wilayah lain dan pada era/zaman yang berbeda ketika hombo batu dan tradisi fahombo batu dimulai, dilangsungkan dan ada. Tetapi ikatan sejarah, budaya yang melekat, darah yang mengalir, ingatan dan kecintaan kita terhadap Nias dan budayanya selalu hidup dalam diri kita dimanapun kita berada saat ini. Bedanya adalah kadar pemahaman, interpretasi nilai dan aktualisasinya. Bersyukur bapak-ibu yang masih berada di Tano Niha, sehingga materi budaya yang menjadi bahan tulisan tetap menjadi bagian kehidupan bapak/ibu sehari-hari. Dan ini menjadi ‘kecemburuan’ saya yang berada jauh dari hal ini. Namun, hal ini tentu tidak menyurutkan upaya dan niat luhur untuk menghayati, mengelaborasi, mengaktualisasikan dan menyuarakan termasuk dengan menuliskan apa yang diketahui dan dipahami. Dengan tulisan ini, dalam segala keterbatasannya, secara luhur ditujukan untuk berbagi, saling melengkapi dan memberi semangat untuk tetap mencintai budaya Nias, melestarikan dan menempatkan nilai-nilai luhurnya pada proses menjalani dan menata kehidupan kita hari ini dan di masa depan. Sekali lagi, atas semua respons saya ucapkan terima kasih.
    Saya dapat dihubungi di email saya egnt45@yahoo.com. Saya menghargai dan berterima kasih bila bapk/ibu berkenan membagi pengetahuan kepada saya untuk lebih menyempurnakan pemahaman dan tulisan baik untuk materi diatas maupun materai budaya yang lain.

    Saya melhat, bahwa pengetahuan dan penjelasan yang utuh terhadap materi budaya Nias semakin kurang dimiliki. Tidak mudah bisa kita menemukan orang-orang seperti bapk/ibu sekalian yang dapat memberikan detail makna filosofis-historis terhadap materi budaya yang ada. Sehingga, faktanya di lapangan memang kita lebih banyak menikmati kekayaan budaya ini hanya sebagai atraksi seni pertunjukan, terkecuali para pengunjung mengambil waktu berlama-lama untuk menemukan narasumber yang tepat. Padahal, saya dan kita semua tentunya merindukan sebuah penampilan seni budaya yang berjiwa dan memberi kesan. Kedepannya memang menjadi pe-er kita semua (budayawan, pemda, tokoh, dan siapa sja yang terpanggil) dapat lebih berperan dalam hal ini menemukan kelengkapan makna yang lebih akurat dan cukup, sehingga setiap kita yang hadir dalam atraksi seni dan tradisi menikmati keindahan tradisi Nias sekaligus membawa pulang makna yang tertanam dalam sanubari.
    Ruang dan waktu yang terbatas dan berbeda, serta berbagai fase perubahan kehidupan Nias telah menyebabkan ada bagian sejarah yang terputus antar generasi terutama dalam pemaknaannya. Kalaupun ada yang masih mengalir, tentu ada bagian yang terdegradasi atau tercecer. Untuk menyambung itu kembali jangan sampai terputus dan menghilang, tentu harus ada langkah. Salah satunya, inilah yang saya lakukan walau masih dengan keterbatasan, adalah membaginya dalam bentuk tulisan inspiratif yang kontemporer sesuai eranya dan pemahaman penulis dan kebutuhan calon pembaca.

    Kiranya hal ini dapat menjadi penjelasan dan sekaligus menambah perkayaan pemahaman kita.

    Saohagolo. Ya’ahowu.

    esther gn telaumbanua

  3. 13
    bedi zebua Says:

    Artikel ini sangat menarik. Bagaimana kalo ibu mengupayakan sebuah acara spt forum diskusi kebudayaan, kiranya ibu mau menyelenggarakannya utk anak-anak muda generasi era modern. Spy mereka memiliki kecintaan pada budayanya sendiri.
    Semoga ibu tetap semangat selalu dan gak lelah ya bu utk membangkitkan Tano Niha menjadi daerah yg berbudaya .. Yaahowu!!!

  4. 14
    PutraGaekhula Says:

    Kalo dibilang budaya Nias,pikiran kita tidak hanya tertuju pada fahombo batu tetapi setiap budaya yang ada dalam lingkup Barat -Selatan , Barat-Timur ( Lahewa-Tl.Dalam, Sirombu- Gn sitoli),jadi dengan otonomi, masing masing daerah Otonom membangun, melestarikan, dan mempulikasikan kepada Wisatawan Domestik dan Wisatawan Manca Negara.Diharapkan masing masing Daerah Kab/Kota mendorong para Investor membangun dan turut seerta melestarian seluruh budaya yang ada di seantero Pulau Nias. Kepada Para Pejabat di Daerah Kab/Kota Nias ,jangan hanya menunggu di belakang meja saja, harus kreatif,inofatif membanguan Kampung kita yg kita cintai.Trima kasih, Yaahowu….!

  5. 15
    esther gn telaumbaua Says:

    Bpk Bedi Zebua dan PutraGaekhula.

    Terima kasih atas respon masukannya.

    Masukan pak Zebua baik sekali dan menurut saya sangat perlu utk dikembangkan.
    Pengalaman di Bappenas ketika awal penyusunan Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kep Nias pasca bencana,sangat terasa sekali keterbatasan ini. Kebudayaan (Nias) adalah menjadi roh pembangunan (Nias). Saat itu, disamping keterbatasan jarak dan komunukasi) kita tdak memiliki data base narasumber yg dapat diajak berdiskusi dan memperkaya rancangan itu. Tahapan yg diakukan hanya terbatas pada pemda dan lembaga2 (ini pun minim) yg memiliki akses kepada pemerintah pusat, Syukurah pada penyusunan Rencana Aksi yg berikutnya komunikasi sdh lebih luas.Namun, kita masih membutuhkannya terutama dalam perencanaan pembangunan daeah pasca pemekaran.

    Kita butuh forum dan ruang budaya, sehingga menjadi pe-er bagi kami dan kita semua.

    Bpk PutraGaekhula, saya setuju bahwa budaya/tradisi Fahombo Batu tdk satu2nya, tetapi Nias memang kaya dengan warisan budaya. Kita sangat kaya, tiap pelosok kepualuan ini memiliki kekayaan budaya yang indah, unik, bernilai dan dengan ciri khas masing2.Tetapi kekayaan ini belum menjadi sumberdaya yang potensial bagi kemajuan daerah. Ia masih berupa onggokan berlian tersebunyi.

    Semua kekayaan ini perlu dilestarikan, diangkat, dikenalkan dan dikembangkan. .

    Dari sekian banyak desa adat, tercatat adaa belasan desa adat yang besar dan dari belasan itu yang masih memiliki omo sebua dan hombo batu hanya beberapa. Salah satunya, disampiin desa lain, saya lihat yang masih utuh dan asli ya di Bawomataluo itu. Desa ini yang masih secara rutin dapat menampilkan fahombo batu dengan sesungguhnya dan relatif utuh, lengkap dengan tari perang dan panglima-nya, dll baik utk keperluan ritual adat juga utk pertunjungan wisata. Untuk tujuan promosi tradisi hombo batu di Bawomataluo yang paling dikenal dan dapat dijadikan referensi kepada peminat.

    Tentang kekayaan budaya dan tradisi Nias lainnya, saya pernah menulis beberapa tulisan populer di media nasional dan lokal dengan mengaitkan budaya dengan pariwisata dan pemberdayaan masyarakat. Diantaranya tulisan dgn topik kekayaan alam Nias -pariwisata budaya dan opini stategi pengembangannya, tradisi/kerajinan bolanafo, pemberdayaan perempuan Nias, budaya mitigasi-kearifan lokal, pengembangan wilayah-hilinawalomazino, menjaga kepunahan satwa lokal beo Nias, dll.
    Mari kita sama2 melakukan pelestarian warisan budaya dan kekayaan alam yang luar biasa. Ini adalah tugas kita semua.
    Salam.

  6. 16
    Bezisokhi Dao Says:

    Saya senang dgn tulisan Ibu Esther “LOMPATAN GEMILANG SI FAHOMBO BATU”. Ibu adalah seorang inspirator perempuan dari Nias. Terlepas dan tanpa mengabaikan makna dan filosofi-historisnya Hombo Batu, saya sangat setuju dgn Bu Esther yg menginspirasikan semangat, usaha dan perjuangan Ono Niha membangun dan memajukan Tano Niha. Seperti kuat dan tingginya loncatan dan berpijak pada landasan yang kokoh, demikian juga harapan kita Ono Niha dalam menggapai masa depan Tano Niha yang GEMILANG.

    Pemaknaan yang sifatnya kekinian dari beberapa situs budaya adalah transfer nilai moral dan kepribadian bagi masyarakat Nias membangun daerahnya. Jika hal-hal yang demikian terus diinspirasikan dengan budaya yang kita miliki maka akan sangat bermanfaat dan potensi membangun dan membakar semangat perjuangan membangun Tano Niha omasioda…

  7. 17
    Bezisokhi Dao Says:

    Ibu Esther, saya ma tanya apa ada tulisan ibu yang membahas tentan POSISI PEREMPUAN DALAM BUDAYA NIAS. Seandainya tidak, Bu Esther saya sarankan lagi kalau ada waktu untuk menulis tentang PEREMPUAN NIAS, mengingat Ibu juga seorang perempuan dan masalah jender di Nias itu masih kental.

    Saya senang dengan tulisan ibu, untuk itu saya menyarankan hal yang demikian.

    Untuk bapak Marcelino Fau.
    Pak Fau, saya pernah dengar tentang FAMATO HARIMAO. Pak kalau ada waktu, tolong donk dituliskan apalagi bapak dari Nisel yang kaya budaya dan keindahan alam itu. Biar banyak tulisan tentan Nias dan yang muda-muda bisa terbekali dengan tulisannya mengenal budaya di Nias. Sekali lagi pak FAMATO HARIMAOnya.

  8. 18
    Fitri Wiparti Says:

    wow

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

January 2011
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31