Mengawali tahun 2011, masyarakat Nias mendapat ‘kado’ istimewa. Kado istimewa itu berupa dua buah buku yang akan sangat berguna bagi masyarakat Nias dan generasinya. Juga bagi para pemerhati Nias yang berasal dari komunitas luar Nias.

Buku pertama yang akan diluncurkan adalah Kamus Li Niha, Nias-Indonesia yang ditulis oleh Apolonius Lase. Buku kedua berjudul Jejak Cerita Rakyat Nias, ditulis oleh Victor Zebua. Ulasan mengenai buku kedua itu, telah kami tayangkan Oktober tahun lalu dan bisa dibaca di sini. Kedua buku tersebut akan diluncurkan pada acara Pameran Foto dan Peluncuran Buku Nias Bangkit, pada Selasa, 4 Januari 2011, pukul 13.00 di Hotel Swiss Bell, Cambridge Mall Medan, Medan.

Apolonius menjelaskan, buku pertamanya yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas (PBK) tersebut merupakan ‘penyempurnaan’ dari Kamus Bahasa Nias yang sudah terbit sebelumnya. Dia menjelaskan, penyusunan buku yang sudah bisa didapatkan di Toko Buku Gramedia pertengahan bulan ini tersebut, bermula dari keprihatinan. Menurut dia, saat ini Li Niha mengalami ancaman. Utamanya, bagi kalangan perantau yang enggan lagi menggunakan bahasa Nias dalam keseharian mereka. Dengan demikian, dikhawatirkan anak-anak dari para perantau seperti ini sudah tidak bisa lagi berbahasa Nias.

Pria yang juga merupakan awak redaksi harian Kompas tersebut menjelaskan, penyusunan buku itu dimulai sejak 2002. Diawali dengan mengumpulkan kosakata-kosakata Nias yang didengar dan dibacanya, satu demi satu. Delapan tahun kemudian, kini telah menjadi sebuah buku. ”Buku ini bisa menjadi pelengkap kamus-kamus yang sudah ada sebelumnya. Bisa juga jadi pegangan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Nias. Dengan itu, diharapkan, bahasa Nias tetap lestari dan kembali menjadi tuan rumah di ’negeri sendiri’, Tanö Niha,” jelas dia kepada Nias Online.

Kamus tersebut berbeda dengan kamus pada umumnya, yang hanya menampilkan kata dan terjemahannya dalam bahasa lain yang diinginkan. Tetapi juga disertai contoh penggunaan kata tersebut dalam kalimat, sehingga makna keseluruhan sebuah kata dapat dipahami. Pola baru tersebut sangat tepat mengingat banyak kosakata bahasa Nias yang karena keunikannya tidak mudah diterjemahkan dalam bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia.

Apolonius mengakui, meski judul buku itu mengacu bahasa Nias secara menyeluruh, namun sebenarnya kosakata-kosakata yang terkoleksi ’hanya’ bahasa Nias varietas Utara. Dia berharap, penerbitan kamus ini, bisa mendorong sekaligus menantang warga Nias lainnya melengkapi kamus yang ada tersebut dengan mengoleksi kosakata-kosakata khas varietas Nias Tengah dan Selatan, khususnya Teluk Dalam. (Etis Nehe)