Oleh Yediel Lase (Jayapura, Papua)

Hanyut dalam Kemeriahan

Natal telah tiba. Kita segera hanyut menikmati kemeriahan Natal di sekeliling kita. Gedung-gedung gereja, mal-mal, rumah kita dipenuhi dengan hiasan Natal. Pusat perbelanjaan menawarkan berbagai kemeriahan Natal: diskon Natal, event-event Natal, pohon Natal dan berbagai macam hal menarik tentang Natal.

Kita juga disuguhi banyaknya acara ibadah dan perayaan Natal, baik di gereja, kantor, kampus, persekutuan dan tempat-tempat lainnya. Ibadah dan momen Natal juga menjadi kesempatan bagi kita untuk bertemu dan ber-fellowship dengan teman dan sahabat kita.

Momen Natal membawa sukacita dan kebahagiaan bagi kita. Namun kemeriahan Natal dapat membuat kita hanyut dalam sekedar euforia perayaan Natal tanpa menemukan makna Natal yang sesungguhnya.

Mencari Natal yang Sesungguhnya

Saya berjuang menolong diri saya sendiri untuk menikmati makna Natal yang sejati. Saya berusaha untuk merenungkan apa arti Natal, agar saya tidak melewatinya hanya dengan menikmati hal-hal sekunder dari Natal. Melainkan harus menikmati hal yang utama dari Natal itu.

Saya harus mengerti: kepada siapa Yesus datang ke dunia ini? Apa yang menjadi tujuan kedatangan-Nya? Adakah sesuatu selain kemeriahan Natal, diskon besar, hiasan Natal, lagu Natal, liburan Natal yang mampu membuat Natal saya berarti? Apa hal utama yang menjadi alasan saya menikmati Natal?

Ia Datang untuk Saya

Dalam Injil Lukas tertulis, “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang,” (Lukas 19:10). Selanjutnya, dalam Injil Markus tertulis, “Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Markus 2:17).

Alkitab menolong saya mengerti kepada siapa Yesus datang ke dunia ini: kepada yang hilang, kepada yang berdosa. Alkitab tidak mengatakan bahwa Anak Allah datang kepada mereka yang mampu hidup saleh dengan usaha mereka sendiri. Alkitab juga tidak mengatakan bahwa Yesus datang kepada mereka yang hidup tanpa cacat dan cela, yang hidup sepenuhnya taat pada hukum Taurat.

Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Anak Allah, Yesus Kristus, meninggalkan sorga yang mulia untuk menghampiri orang berdosa seperti saya. Hanya dengan kesadaran bahwa saya adalah orang berdosalah Natal menjadi berarti bagi saya.

Sebagai orang yang berdosa (Roma 3:23), yang keseluruhan keberadaan saya telah berdosa (Roma 3: 10-18), saya terpisah dari Allah. Saya berada dalam bayang-bayang murka Allah (Roma 1:18, Ef 2:13). Ganjaran yang tepat bagi saya adalah maut (Roma 6:23).

Namun Kristus datang untuk mencari saya, untuk menyelamatkan saya dari malapetaka yang paling fatal, yaitu penghakiman Allah. Ia sendiri yang menjadi pengganti saya menerima murka Allah agar saya bersatu kembali dengan Allah (Ef 3:12-13), menerima penebusan dosa (Ef 1:7, Gal 3:13) dan diselamatkan oleh anugerah-Nya (Ef 2:8). Agar saya meninggalkan kehidupan saya yang lama dan mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui oleh Roh-Nya

Inilah yang harus menjadi alasan utama saya untuk bersukacita merayakan Natal. Saya bersukacita karena ia datang ke dunia untuk menebus dosa saya yang dahulu, sekarang dan yang akan datang. Saya bersukacita karena melalui Dia, saya yang tidak kudus berani datang menghampiri Allah yang Mahakudus dan memanggil Dia: Bapa. Saya bersukacita karena Dia menganugerahkan keselamatan yang pasti dan tidak akan pernah hilang bagi saya. Dia memanggil saya dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib.

Meratapi Kegagalan Saya

Melihat setahun ke belakang, terdapat banyak cerita kegagalan, jatuh-bangun, ketidaktaatan dan ketidaksetiaan pada-Nya. Saya merindukan hidup sepenuhnya taat namun sering menemukan diri saya gagal. Saya merasa jauh dan merasa tidak berkenan pada-Nya. Terkadang membuat frustrasi dan kesedihan mendalam. Bahkan, saya sering terjebak untuk berusaha mendapatkan penerimaan-Nya dengan perbuatan baik namun hal itu tidak menolong saya.

Natal menolong saya mengerti bahwa Kristus datang untuk saya, Kristus mencintai saya bahkan ketika saya masih berdosa. Sayalah yang menjadi alasan Dia datang ke dunia. Ia menunjukkan kepada saya bahwa Allah menerima saya, bukan karena saya orang yang baik, yang telah taat tanpa cacat cela tetapi Allah menerima saya semata-mata karena kasih karunia-Nya.

Natal Sesungguhnya

Jadi Natal bukanlah tentang hiasan Natal, tentang diskon-diskon besar dan hadiah Natal. Bukan juga tentang kemeriahan perayaan Natal. Natal adalah tentang Kristus yang datang untuk saya untuk menawarkan rekonsiliasi dengan Allah dan memanggil saya untuk kembali hidup memuliakan dan menikmati Allah.

Meminjam kalimat Pdt. Eka Darmaputera, “Natal adalah saatnya kita berdiri, merentangkan tangan dan menengadahkan wajah kita ke atas, berteriak dan bersorak dalam syukur dan sukacita. Hari ini telah lahir bagi kita Juruselamat!

Selamat Natal teman, Kristus datang untuk kita.

Kar’na kasih-Nya padaku Yesus datang ke dunia
Ia t’lah memb’ri hidup-Nya gantiku yang bercela
O, betapa mulia dan ajaib kuasa-Nya
Kasih Jurus’lamat dunia menebus manusia
(Kidung Jemaat No. 178)

Facebook Comments