Ya’ahowu Wanunu Fandru? (SdNMT 4)

Tuesday, December 21, 2010
By Redaksi

Selamat merayakan Natal! Setiap tahun dia datang lagi: Hari Natal (h dengan huruf besar). Memang dewasa ini hari Natal nyaris kehilangan H dalam huruf besar, menjadi hari-hari Natal (huruf kecil h dan jamak), karena dirayakan berkali-kali selama bulan Desember. Tak heran karena itu di beberapa tempat Perayaan Natal mengalami inflasi. Maka beberapa tahun lalu Gereja Lutheran dan Gereja Katolik di Jerman berusaha menghimbau orang Kristen mengoptimalkan masa-masa persiapan Natal.

Ya, selamat merayakan Natal. Saya sengaja memakai kalimat ini, karena dewasa ini pengaruh budaya Amerika semakin mengikis makna religius perayaan ini. Selamat Natal, biasanya orang menyingkat. Tetapi untuk apa menginginkan supaya Natal selamat? Mungkin cocok memakai ungkapan ini di Inggeris, karena memang di sana Perayaan Natal sebagai perayaan religius terancam disingkirkan oleh orang-orang yang anti-Kristen dan ateis. Semoga Natal selamat, tak tergerus desakan para musuh Kristus. Di Inggeris.

Tetapi di Indonesia? Kita ucapkan selamat Natal di sini? Semoga yang dimaksud adalah selamat merayakan Natal. Sayangnya di sini pun ucapan Selamat Natal pun makin terdesak kini dengan Merry Christmas, bahasanya Amerika. Orang Inggeris sendiri tidak begitu menyukai kata itu. Ratu Inggeris Elisabeth II bahkan menghindari kata Merry Christmas dan menggantinya dengan Happy Christmas. Mengapa? Karena orang cenderung melupakan Christmas-nya (Christ Mass, misa Kelahiran Kristus) dan hanya ingat merry-nya (enak, sedap, nyaman) saja, yang mereka terjemahkan dengan minum-minum dan makan-makan berlebihan. Pada abad ke-19 kaum kelas bawah di Inggeris memang mengartikan Selamat Merayakan Natal dengan merry Christmas tadi. Kala itu perayaan Natal identik dengan mabuk-mabukan, suatu tradisi yang justru meninggalkan Inggeris menuju Amerika dan dari sana dipopulerkan ke seluruh dunia. Kini Merry Christmas identik dengan makanan, minuman, hadiah, wah-wah, bahkan bagi sebagian orang mabuk-mabukan, foya-foya dan pesta esek-esek.

Seiring dengan degradasi merry christmas komersialisasi figur Sinterklas. Kata Sinterklaas sendiri kita warisi dari bahasa Belanda, tetapi isinya yang komersial justru kita import dari Amerika. Apalagi – lagi-lagi karena pengaruh Amerika – figur Sinterklaas melebur dengan figur Father Christmas, yang berjubah merah menyala itu. Sayang. Karena Sinterklas, dari Santo Nikolaus, tidak ada hubungan dengan komersialisasi perayaan Natal, melainkan dengan mengganjar anak-anak yang berperilaku baik selama setahun yang lewat dan menasihati mereka yang berperilaku buruk.
Sinterklas berjubah merah menyala itu justru cenderung mencemarkan perayaan Natal, karena mengartikannya dengan minum alkohol dan berhaha-hoho-huhu sambil bernyanyi-nyanyi. Sayang bahwa mereka tidak hanya tinggal di Amerika, tetapi juga menyebar ke banyak tempat di dunia, didukung oleh pusat-pusat belanja.

Tetapi saya sendiri lebih menyukai kata Natal daripada Christmas. Bukan hanya karena asosiasi komersialisasi budaya Amerika yang melekat dengan kata Christmas tadi, tetapi karena kata Natal, yang kita warisi dari bahasa Portugis, lebih mengingatkan kita pada apa yang sebenarnya yang kita rayakan: sebuah kelahiran.

Ya, kelahiran. Tepatnya Kelahiran (K dalam huruf besar) Penyelamat. Dan mungkin karena itu ucapan yang lebih tepat: Selamat merayakan kelahiran Tuhan. Kita tentu tidak mengucapkan selamat kelahiran, tetapi selamat merayakan kenangan kelahiran-Nya. Tetapi lebih daripada merayakan ulang tahun seseorang, di sini kita merayakan kelahiran Dia, yang motif kelahiran-Nya hanya satu: karena Allah sedemikian mengasihi dunia, sehingga Sabda menjadi Daging dan tinggal di antara kita (Immanuel). Ini sebuah kelahiran istimewa. Dalam peristiwa di kandang di Betlehem itu Allah lagi merajut keselamatan dunia.

Tetapi kalau kita pulang Nias kita akan mengucapkan Ya’ahowu Wanunu Fandru. Menarik mengamati bahwa tradisi perayaan Natal sendiri sudah dimulai sejak ke-4, tetapi ucapan Selamat Merayakan Natal baru populer pada abad ke-19. Dan tradisi perayaan natal di Nias kemungkinan besar dibawa oleh para misionaris Jerman pada abad ke-19 juga. Kita tahu misi protestan sampai di Nias 1865, itu berarti tidak lama setelah Pohon Natal mulai diperkenalkan di Jerman. Jadi satu tradisi yang jauh lebih muda dibanding tradisi Kandang Natal, yang sudah mulai populer sejak abad ke-13.

Ya’ahowu wanunu fandru. Kemungkinan ucapan ini ada hubungannya dengan menyalakan lilin di Pohon Natal. Terang lilin dimengerti sebagai lambang Kristus yang baru lahir yang adalah Terang dunia. Tetapi bagaimana kisahnya kita mengucapkan selamat menyalakan lilin dan bukan selamat merayakan kelahiran Kristus, pastilah menarik untuk dipelajari. Pasti ada makna rohani di belakangnya, sebab kalau tidak, mungkin tidak begitu disarankan untuk mempertahankannya.
Tetapi yang jelas, kendati ucapan ini sudah mentradisi, ya’ahowu wanunu fandru tidak begitu mengenai sasaran perayaan kelahiran Tuhan. Ya’ahowu Wa’atumbu Zo’aya (selamat hari kelahiran Tuhan), mungkin agak lebih baik, karena kalau dijabarkan berarti ya’ahowu ita sangowasaini wanörötödö wa’atumbu Zo’aya (selamat bagi kita yang merayakan peringatan kelahirana Tuhan). Selamat bukan bagi Tuhan (Dia sendiri adalah sumber keselamatan), tetapi selamat bagi kita.

Ya’ahowu Wa’atumbu Zo’aya atau Ya’ahowu Wanunu Fandru? Yang terakhir ini telah mentradisi. Tetapi bagi orang Kristen yang sadar akan apa yang dilakukannya kalau merayakan Natal pasti lebih menggugah kesadaran bila mengatakan Ya’ahowu Wa’atumbu Zo’aya. Terasa tidak lazim memang, karena itu kalimatnya harus diucapkan secara sadar, dan karena itu lebih membantu untuk menyadari makna di balik hiruk-pikuk perayaan Natal: Kelahiran Penyelamat, yang terjadi tanpa hiruk pikuk di sebuah kandang di sebuah padang. Semoga kejadian tanpa hiruk pikuk ini tidak terjepit oleh hiruk pikuk berbagai perayaan Natal. Selamat merayakan kelahiran Penyelamat. Ya’ahowu wanörötödö wa’atumbu Zo’aya. (Keterangan foto: Tradisi Kandang Natal jauh lebih tua daripada tradisi Pohon Natal. Lukisan Kandang Natal ini berasal dari abad ke-4. Sumber Foto: Wikipedia.org).

London, 20 Desember 2010

Sirus Laia

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2010
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031