Sejak tiga bulan saya mengunjungi sekolah bahasa di London. Sekolah ini disubsidi pemerintah Inggeris dan ditujukan bagi mereka yang telah usia kerja. Di kelas saya ada orang dari berbagai bangsa: Spanyol, Italia, Somalia, Jepang, Iran, Bulgaria, Cina, dll. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang teman kursus dari China bernama Qi.

Kisahnya dimulai tadi pagi ketika saya membaca di Guardian, koran ternama Inggeris, satu kelompok di China, yang bekerja sama dengan Kementrian Kebudayaan, merencanakan penganugerahan “Confucius Peace Prize”, sebagai tandingan terhadap Hadiah Nobel. Menurut mereka, Norwegia hanyalah negara kecil dan Komite Hadiah Nobel pasti bias dan salah. China berpenduduk lebih 1 trilliun dan karena itu harus mendapat suara lebih dominan di dunia.

Saya yakin para pembaca tahu masalahnya. Tahun ini Komite Hadiah Nobel memilih Liu Xiaobo, yang lagi mendekam dalam penjara di China, menjadi pemenang hadiah nobel perdamaian tahun ini. Thorbjoern Jagland, Presiden Komite Hadiah Nobel mendasarkan keputusan Komite dengan mengatakan, “Kalau seorang dihukum penjara 11 tahun, hanya karena ia mengeluarkan pendapatnya, maka tak mungkin bagi Komite untuk tidak menganugerahkan Hadiah Nobel kepadanya.”

Hal ini membuat China murka dan langsung mengecam keputusan itu. Selain itu China juga “mengancam” negara-negara yang mengirim utusannya menghadiri penganugerahan Nobel tahun ini. Dan hari ini diberitakan China berhasil melobi 18 negara untuk tidak menghadiri penganugerahan hadiah tsb. di Oslo pada hari Jumat 10 Desember 2010.

Liu dipenjara karena ikut menulis dokumen yang disebut Charter 08, yang menyerukan reformasi demokrasi di China. Untuk itu dia dihukum 11 tahun penjara. Katakanlah Liu merupakan tokoh Petisi 50-nya China. Jadi Liu murni tahanan hati nurani (prisoner of conscience), bukan seorang pelaku kejahatan atau kekerasan.

Maka saya pun tergoda mengetahui pendapat Qi. “Hai Qi, apakah kamu merasa bangga akan Liu Xiaobo?”

Qi terdiam. Dan itu mengejutkan saya. “Siapa dia?” balasnya setelah beberapa detik. “Well, pemenang hadiah nobel perdamaian tahun ini,” terangku. Dan aku bisa membaca sesuatu yang kurang enak di wajah Qi. “Komite Hadiah Nobel itu hanya bertujuan mempermalukan negara China dan itu tidak baik,” ujarnya seolah menahan kejengkelan.

Saya pun tidak mau mendesaknya lebih lanjut, kendati beberapa pertanyaan muncul dalam benak saya. Tapi jujur saja, apakah China, negara yang sedang bangkit menjadi adi kuasa baru itu, tidak lebih malu memperlakukan warganya seperti Liu? Penjahat dan pelaku kekerasan patut dihukum, tetapi pantaskah seorang seperti Liu dkk., yang menyuarakan perlunya reformasi politik di China, dihukum penjara? China selalu mengatakan bahwa negara tirai bambu itu punya nilai-nilai nasional sendiri dan gaya hidup yang berbeda. Tetapi saya rasa orang China pun pasti punya rasa keadilan yang sama seperti kita, bahwa perlakuan terhadap Liu dkk. keterlaluan. Untuk melihat hal ini tak perlu kita mencari dukungan pendapat dari Orang Barat.

Tetapi setelah perbincangan sekilas dengan Qi, saya teringat akan bacaan-bacaan saya tentang sejarah masa lalu. Dan saya bertanya-tanya dalam hati, apakah reaksi China semacam itu merupakan tanda-tanda zaman?

Inisiatif China untuk menciptakan Hadiah Nobel tandingan mengingatkan kita pada apa yang dilakukan Hitler pada tahun 1937. Karena geram atas penganugerahan hadiah nobel kepada wartawan Jerman Carl von Ossietzky, yang sedang mendekam dalam penjara (jadi mirip nasib Liu Xiaobo), Hitler membentuk Hadiah Nasional untuk Seni dan Ilmu. Dan kita tahu gebrakan ini justru menandai permulaan kegagalan Hitler.

Demikian juga dengan negara adi daya masa lalu Uni Soviet. Keruntuhan negara komunis itu dimulai ketika pertumbuhan ekonomi negara itu lagi sedang mencapai puncaknya. Dan masa itu banyak orang yakin bahwa kemajuan ekonomi negara itu akan melampaui Eropa dalam hal ekonomi dan teknologi. Seandainya saja Uni Soviet mendengar Andrei Sakharov, pemenang hadiah Nobel saat itu, barangkali sejarah negara itu akan berbeda. Kita tahu apa yang terjadi, negara adi kuasa itu justru runtuh.

Apa yang terjadi dengan China sekarang? Apakah ada paralelitas sejarah antara Uni Soviet dan China? Apakah ada kemiripan antara Carl von Ossietzky, Andrei Sacharov dan Liu Xiaobao? Apakah sejarah akan berulang, kendati dalam bentuk lain? Apakah ini tanda-tanda zaman?

Catatan:
Siapa berminat silakan baca profil Liu Xiaobo di situs BBC:
http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-11492131

London, 8 Desember 2010

Sirus Laia

* SdNMT adalah singkatan dari Surat dari Negeri Matahari Terbenam.

(Foto:  Situs Nobel Prize: http://nobelprize.org/nobel_prizes/peace/laureates/2010/ – Redaksi)

Facebook Comments