Salju dan Garam

Sejak beberapa bulan ini saya mengambil kursus bahasa di Inggeris. Inggeris adalah negara paling barat dari negara-negara yang dalam tulisan-tulisan zaman dulu sering disebut negeri matahari terbenam (the occident). Karena itu saya memilih judul tulisan ini Surat dari Negeri Matahari Terbenam (SdNMT).

Ada banyak yang bisa dikisahkan dari negeri matahari terbenam ini. Selain fenomena siang hari yang pendek dan malam yang lebih panjang pada musim dingin, ada banyak hal lain yang menarik untuk diamati, apalagi dengan memakai kacamata Indonesia. Saya mulai dengan surat pertama tentang salju dan garam.

Ketika menatap ke luar jendela pagi ini, saya merasakan sesuatu yang istimewa. Secepat gorden terbuka, mata saya disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Di mana-mana putih. Dedaunan dihinggapi salju bagaikan kapas yang sedang bertengger indah. Rerumputan “menghilang” ditutupi lapisan salju lembut. Permukaan tanah seolah “bersembunyi” di balik selimut salju empuk. Saya tertegun sejenak. Malam-malam ternyata Sang Kuasa telah menyelimuti bumi dengan selimut empuk berbahankan bebutiran salju. Ia bagaikan seorang ibu yang menatap sang bayinya di tengah malam dan mengecupnya sebelum menyelimutinya sambil mengucapkan doa.

Melihat pemandangan mencengangkan ini mereka yang dibesarkan di Barat pasti terpikir akan Hari Natal. Tapi karena ini masih awal Desember, sementara Hari Natal masih lebih tiga minggu lagi, dan justru karena itu, pemandangan ini menimbulkan kerinduan: kerinduan akan hari-hari penuh berkat, kerinduan akan pengalaman bersama keluarga di Hari Natal, kerinduan akan gemerincing lonceng dan dendang syahdu lagu-lagu Natal. Kendati dewasa ini derap komersialisasi pusat-pusat perbelanjaan semakin mencekik denyut Natal yang sebenarnya, arus bawah kerinduan itu masih terasa. Suasana indah ini yang dibungkus lembut oleh selimut salju membuat kerinduan akan kehadiran DIA yang dirayakan pada Hari Natal semakin terasa.

Dalam suasana seperti ini masa Adven atau masa penantian akan kedatangan Dia, yang akan hadir di Hari Natal, lebih berdaya. Mungkin sudah terlanjur, sebagai orang Indonesia kepekaan akan masa Adven hampir pupus, karena mereka-mereka yang sedemikian bersemangat menyambut Natal, sehingga tidak perlu lagi mempersiapkannya.

Yah, di Indonesia kita sudah terlanjur merayakan kehadiran-Nya (baca: Natal) sebelum kita menantikan kedatangan-Nya. Bagaikan seorang pengantin, yang tanpa persiapan menuju ke pesta pernikahan. Betapa malangnya sang pengantin: pesta belum direncanakan, perlengkapan belum dipersiapkan, baju dan gaun belum didisain, hidangan belum dimasak, hati belum siap, tiba-tiba sudah berada di tengah pesta instan. Dan kita tahu tanpa persiapan matang satu peristiwa besar dalam hidup akan merosot menjadi dangkal, tak meninggalkan kesan.

Tapi kita tinggalkan dulu kesan suasana yang ditimbulkan oleh sang salju. Ini adalah fakta fisika: Salju turun karena suhu udara merosot ke bawah nol. Itu berarti air akan menjadi beku. Maka embun yang seyogyanya hinggap di permukaan bumi malam-malam, malah membeku menjadi lapisan es yang tipis. Karena itu permukaan bumi menjadi satu lapisan licin yang berbahaya, yang bisa membuat manusia tergelincir atau kendaraan meluncur tak terkendali.

Untunglah pemerintah Inggeris merasa memiliki tanggungjawab menghindari bahaya kecelakaaan sedemikian. Diperkirakan kebutuhan garam yang akan ditebarkan di jalan-jalan tahun ini sebanyak 3,3 juta ton. Defisit kebutuhan garam telah diimport dari luar negeri. Pemerintah Inggeris rupanya tidak kalah cekatan dibanding pemerintah kita di Tanah Air, yang selalu tanggap akan bencana. Benar kan?

Ya, syukur ada pemerintah Inggeris. Karena garam itu saya merasa aman melangkah keluar rumah dan berjalan menuju stasiun kereta api hari ini. Betapa penting garam pada masa-masa seperti ini. Dan aku teringat akan kata-kata Sang Guru, “kamulah garam dunia”. Aha, seolah Ia berkata, jadilah seseorang yang mengupayakan supaya orang lain tidak jatuh dan terluka di jalan yang licin. Hadirlah di jalan-jalan dan upayakan, supaya setiap mereka yang melintas bisa aman tanpa cedera. Wow, betapa sederhananya kata-kata ini dan betapa ia menyentuh urat nadi keselamatan kita. Tentu saja saya harap, bukan hanya di jalan-jalan orang Inggeris, tetapi juga di jalan-jalan kita di Tanah Air. Hadirlah di jalan-jalan dan upayakan, supaya orang lain selamat sampai ke tujuan. Hadirlah supaya mereka yang sedang berkelana jangan sampai tersesat atau terjatuh. Jadilah garam dunia. Khususnya di masa-masa ini, ketika kita menantikan kedatangan Dia yang mengusahakan keselamatan kita yang sesungguhnya.

London, 1 Desember 2010

Sirus Laia

Facebook Comments