Oleh Sirus Laia*

Rasanya tidak terlalu berlebihan untuk mengatakan, bahwa akhir-akhir ini teologi dogmatik mengalami rasa jenuh. Jenuh dalam arti, ia terjerat dalam rutinitas yang menekan, dan tidak mampu menawarkan horizon baru, yang bisa menimbulkan impuls-impuls baru dalam diskusi.

Tetapi tidak demikianlah dengan teologi fundamental dan teologi agama, yang dulu kita kenal sebagai filsafat agama atau ilmu perbandingan agama. Kedua disiplin ini lagi mengalami “kebangkitan” kembali. Terutama disiplin yang terakhir itu banyak menggulirkan tema-tema kritis yang hangat didiskusikan luas akhir-akhir ini. Salah satunya adalah tema pluralismus, yang mempertanyakan kedudukan sentral agama Kristen terhadap agama-agama lainnya dan erat terkait dengan itu peranan sentral Kristus (baca: satu-satunya) dalam sejarah keselamatan Allah. Barangkali di lain kali kita punya kesempatan untuk mengintip ke dalam tema-tema kontroversial tsb. Dalam tulisan ini saya batasi diri pada tendens (atau hanya fenomena belaka?) yang muncul di haribaan teologi fundamental.

Kebangkitan Kembali ABBA
Dalam dua dekade terakhir teologi fundamental menampakkan tanda-tanda kebangkitan kembali interese untuk meninjau ulang argumen bukti-bukti adanya Allah (selanjutnya disingkat ABBA). Menarik, sebab sampai sekarang belum ada ABBA yang sukses. Kisahnya selalu berakhir pada kapitulasi iman di hadapan ratio. Yang baru dari kebangkitan kembali ini adalah pergeseran strategi. Jadi masalahnya bersifat epistemologis, artinya di sini dimasalahkan bukan soal ada atau tidak adanya Allah, melainkan soal bagaimana kita bisa mengenal bahwa Dia ada atau tidak ada. Fenomena kebangkitan kembali ABBA ini terutama menarik, karena ia bukan hanya muncul di kalangan para teolog fundamental Katolik, yang secara tradisional melahap porsi tertentu ABBA dalam disiplinnya, melainkan juga di antara teolog Protestan, terutama yang berhaluan Kalvinistis (dikenal di Jerman sebagai reformierte Theologen). Pendekatan-pendekatan dari mereka bahkan menyuntikkan darah segar dalam tema ini, sehingga pantas dipertimbangkan sebagai alternatif oleh para teolog Katolik, terutama apa yang dinamakan ABBA berdasarkan pengalaman religius

Tiga tokoh utama yang aktif dalam pembaharuan epistemologis ABBA ini: Alvin Plantinga, William P. Alston, dan Nicholas Wolterstorff. Ketiganya adalah teolog berhaluan Kalvinistis dari daerah berbahasa Inggeris, tetapi nampaknya menimbulkan gema di Jerman, yang dikenal sulit ditembus temboknya dari luar. Yang menarik adalah: kendati tetap berpijak pada tradisi teologi protestan, yang berpegang teguh pada jurang tak terjembatani antara rasio dan iman, mereka menceburkan diri dalam usaha mencari kemungkinan bagaimana rasio toh bisa memainkan peranan penting dalam beriman. Kendati pendekatan ini berbeda, strategi sedemikian mengingatkan kita pada tradisi teologi Katolik, yang enggan mengadu rasio dengan iman, dan cenderung menjembatani keduanya (Ingat tradisi skolastik yang bisa disimpulkan dalam ungkapan Anselm dari Canterbury berikut: credo ut intelligam — saya percaya, supaya saya mengerti).

Jadi bagaimanakah posisi mereka? Mereka beranggapan, bahwa beriman itu rasional. Tetapi dengan tegas mereka juga menolak, bahwa iman harus dimasak dulu dalam periuk rasio sebelum mendapat atribut rasional. Jadi di sini mereka masih protestan, dan dengan demikian merelatifkan kedudukan ABBA sebagaimana bisa diduga ada dalam teologi fundamental Katolik. Karena itu mereka tidak begitu antusias menjalankan ABBA, artinya mencoba membuktikan adanya Allah. Eksistensi Allah tak dapat dibuktikan, melainkan dikenali dan dialami! Rasio dan iman tetap tak dapat dijembatani. Prinsip credo ut intelligam, tak meyakinkan mereka. Jadi kalau demikian kemanakah argumentasi diarahkan? Nah di sinilah muncul pendekatan yang menarik.

Rasional: Apanya?
Ketiga epistemolog di atas mengejutkan kita dengan pertanyaan mereka yang sangat sederhana tetapi membongkar “kesalahan” dalam cara berpikir kita dari dasarnya. Misalnya mereka bertanya: Mengapakah untuk percaya kepada Allah engkau membutuhkan ABBA? Bukankah engkau telah mengalami kalau Allah itu ada dan berkarya dalam hidupmu? Nah, yang perlu diperiksa secara rasional itu bukanlah iman akan Allah, melainkan kebalikannya! Saya mengatakan di atas tadi “membongkar”, sebab demikian lazim kita berpikir, bahwa iman akan Allah itu tidak rasional, sehingga kita tidak pernah berpikir, bahwa sebaliknyalah yang harus diuji secara rasional.

Hal ini sebenarnya tidak sulit untuk dibayangkan. Selama ini orang berimanlah yang panas dingin harus membuktikan kepada para ateis (baca: para rasionalis) bahwa beriman itu rasional. Sementara para ateis bisa tenang-tenang memberi sanggahan, tanpa harus membuktikan rasionalitas posisi mereka. Seolah orang beriman selalu berada posisi lemah. Padahal iman kan berdasar dari pengalaman? Bukankah setiap lembaran dari KS merupakan rekaman pengalaman iman kaum terpilih? Mengapakah Yesus harus membuktikan adanya Allah? Bukankah Dia berkomunikasi dengan Allah itu sendiri? Mengapakah Ia harus membuktikan bahwa imannya akan Bapa-Nya rasional? Bukankah sebaliknya: adalah tidak rasional bagi Yesus untuk tidak beriman kepada Allah Bapa-Nya, yang kehadiran-Nya Dia alami dalam hidup-Nya? Pertanyaannya bagi Yesus bukanlah apakah iman-Nya kepada Allah rasional, melainkan apakah ketidakberimanan kaum ateis itu rasional! Jadi yang harus dibuktikan adalah rasionalitas anggapan para ateis, bahwa Allah tidak ada. Yang harus dibuktikan bukanlah, apakah iman bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang hidup, asal dan tujuan dunia ini. Sebaliknyalah yang harus dibuktikan, apakah pertanyaan-pertanyaan tsb. bisa dijawab secara rasional tanpa iman? Bisakah diterangkan asal dan tujuan hidup kita di dunia ini tanpa iman kepada Allah? Bisakah dijelaskan secara rasional tanpa iman mengapa alam semesta ini ada dan proses evolusi itu berlangsung? Justru dalam hal ini pandangan ateistis berada pada posisi lemah, sedangkan iman mempunyai jawaban-jawaban “rasional” terhadap pertanyaan-pertanyaan
itu.

Jadi rasionalitasnya bukan terletak pada obyek yang mau dibuktikan keberadaannya, melainkan pada keputusan kita untuk meyakini adanya obyek yang mau dibuktikan itu. Obyek tidak pernah dikatakan rasional. Dia hanya entah ada atau tidak ada. Yang rasional adalah orang yang membuat statement tentang obyek tsb. Contohnya tidak sulit. Misalkan seseorang menyuguhkan statement: planet yupiter itu ada. Kita tidak akan bisa mengatakan, yupiter itu rasional. Yupiter itu ada atau tidak ada. Statement bahwa dia ada itu bisa benar atau salah, tetapi yupiter sendiri tidak bisa dikatakan rasional. Orang yang membuat statement itulah yang disebut rasional atau tidak. Bila statementnya ditunjang oleh argumen-argumen yang kuat, maka kita mengatakan dia itu rasional. Sebaliknya ia kita sebut tidak rasional, bila ia berpegang pada statementnya, tanpa ada argumen yang mendukung untuk itu. Analog bisa kita terapkan hal ini pada pertanyaan mengenai eksistensi Allah. Rasionalitas itu tidak terletak pada Allah, melainkan pada orang yang percaya kepada Allah. Seorang yang percaya kepada Allah kita sebut rasional, bila ia memang memiliki alasan-alasan yang lebih mendukung kepercayaannya itu daripada ketidakpercayaannya, jadi semacam “bukti” adanya Allah (dalam contoh di atas: Yesus dan pengalaman religius-Nya). Dan ia kita katakan tidak rasional, bila ia memiliki “bukti” yang lebih mendukung kepada imannya, tetapi memilih untuk tidak beriman!

Masalahnya adalah apakah bukti itu, dan bagaimana membuktikannya? Artinya menyangkut kriteria dan metode untuk menjalankan kriteria tsb (verifikasi). Nah, untuk ini perlu pembeda-bedaan, sebab tidak semua statement memiliki gradasi verifikasi yang sama. Ada statement yang kebenarannya bisa dibuktikan tanpa menuntut usaha maksimal. Misalnya bila dikatakan: di Medan ada ular yang panjangnya satu kilometer. Maka untuk mengverifikasi hal ini, cukup kalau kita berangkat ke sana dan melihatnya apakah memang ada ular sepanjang 1 km tsb. Tetapi ada statement yang lebih sulit untuk diverifikasi. Katakanlah misalnya pernyataan: X seorang ksatria sejati. Barangkali untuk membuktikan hal itu kita menyebut satu atau dua perbuatan yang telah dilakukan oleh X. Tetapi sekaligus kita “tahu”, bahwa dengan menyebut kedua perbuatan X tsb. kita belumlah “seluruhnya” (ekshaustif) membuktikan bahwa X seorang ksatria sejati. Sebab hal yang dimaksud dengan ksatria sejati itu lebih “mendalam” daripada satu dua perbuatan konkrit. Bahkan pernyataan itu menginklusifkan sikap dan perbuatan-perbuatan X di masa depan. Karena itu proses verifikasinya tidak berhenti pada satu dua bukti seperti pada kasus ular sepanjang 1 km di atas, melainkan masih berlangsung terus sampai masa depan. Baru setelah X meninggal kita boleh mengatakan secara definitif apakah X memang benar seorang ksatria sejati. Hal yang sama juga berlaku bagi teori evolusi. Bagaimana membuktikan hal itu? Kendati teori tsb. adalah teori ilmiah sains, untuk “membuktikannya” paling-paling bisa ditunjuk hal-hal yang menunjuk (indikasi) pada adanya proses evolusi itu. Tapi bukti “tuntas” tak ada!

Tetapi dalam kasus-kasus di atas ini kita masih bisa menjalankan verifikasi karena obyek yang dimaksud masuk dalam “waktu dan ruang”, artinya selalu merupakan bagian dari dunia ini, yang bisa kita “pandang” dari jarak jauh, artinya suatu hal yang bisa di-obyek-kan. Tetapi bagaimana dengan asal usul alam semesta, tentang adanya Allah, bahwa Allah telah berkarya dalam diri Kristus? Hal-hal ini tidak dapat diobyektivikasikan, sebab ia tidak masuk bagian “waktu dan ruang” dunia ini, melainkan keseluruhan dunia ini dan bahkan melebihinya. Untuk membuktikan bahwa Allah berkarya di dalam dunia tak dapat ditunjuk misalnya terjadinya mukjijat, sebab itu mengandaikan bahwa dunia normal di luar Allah, dan hanya sekali-sekali Ia menyentuhkan jari ke dalam dunia bila terjadi mukjijat, yang sangat jarang terjadi. Padahal dunia dan segala isinya adalah ciptaan Allah. Bahwa air mengalir, angin berhembus, pohon bertumbuh, anak lahir, itu semua masuk dalam lingkup karya Allah. Argumen yang bertopang pada mukjijat justru pada hakikatnya bersifat ateistis, seolah dunia ini bukan dari Allah, dan bahkan Ia kemungkinan besar telah mati, sebab bukankah mukjijat tidak terjadi lagi?

ABBA: Bukti atau Jalan?
Bila demikian masalahnya, artinya bila eksistensi Allah tidak bisa diverifikasi dengan berpegang pada satu perisitiwa dalam dunia, jadi bagaimana membuktikannya? Para teolog Kalvinistis di atas memiliki hanya satu jawaban: eksistensi Allah tidak bisa dibuktikan, melainkan dialami dan dikenali. Dan dalam hal ini seseorang disebut rasional, bila ia mempercayai pengalamannya. Jadi bukan argumen rasional yang membuat kita yakin akan adanya Allah, melainkan keyakinan akan Allah, pengalaman tentang pengaruh-Nya dalam hidup kita, itulah yang membuat argumen kita rasional. Dan dalam hal ini para teolog Kalvinis ini sangat selaras dengan para teolog skolastik yang sebenarnya tidak mau menyodorkan bukti-bukti adanya Allah, melainkan menunjuk “tangga” atau “jalan” untuk mengenal Allah. Eksistensi dan pengalaman bersama Dia selalu telah diandaikan. Karena itulah Anselm tidak membuktikan adanya Allah, melainkan mencoba mengerti bagaimana memahami eksistensi Allah dalam hidupnya. Bahkan Anselm sendiri menulis ABBA versinya sendiri dalam bentuk doa kepada Allah. Mana mungkin ia baru membuktikan adanya Allah, yang kepadanya ia sedang berkomuniskasi dalam doa?

Demikian juga St. Thomas Aquinas yang mewariskan kepada kita lima bukti adanya Allah yang terkenal itu. Thomas sendiri menyebutnya lima jalan (quinque viae), dan bukan bukti. Jadi dia menunjuk lima jalan, yang bisa menuntun kita kepada kenyataan di belakang fenomena dunia ini, yakni Allah sendiri. Kelima argumen itu merupakan batu loncatan saja untuk mengenal Allah. Hal-hal fana tidak bisa membuktikan hal baka, tetapi bisa menunjuk kepadanya!

Bila demikian mengapakah filsafat dan teologi terlanjur menganggap jalan-jalan pengenalan ini menjadi ABBA? Asal-muasalnya bisa dirunut pada filsafat modern sejak masa pencerahan (Aufklärung), yang mencoba berpijak pada kemampuan rasio sendiri, tanpa mengandaikan eksistensi Allah. Sejarah menunjukkan bahwa telah terjadi perang antara iman dan rasio, yang akan tetapi lahir dari perebutan kekuasaan antara kekuatan-kekuatan ilmu pengetahuan dan institusi Gereja. Jadi awal-awalnya munculnya diskrepanz antara ilmu dan iman itu lebih bersifat politis. Penguasa Gereja, yang menganggap segala otoritas (ilahi dan duniawi) berada dalam tangannya, berusaha dilucuti oleh para ilmuan yang mencoba memperjuangkan otonomi dari ilmu pengetahuan, yang mengarah kepada konflik (ingat kasus Galileo Galilei). Akibatnya adalah pecahnya harmoni iman dan rasio versi skolastik, dan perang yang berkelanjutan antara keduanya. Yang paling merasakan kerugian tentu Gereja, sebab tidak jarang ia mempertahankan satu pandangan pseudo ilmiah yang sebenarnya secara ilmiah nonsens.

Konflik abadi Rasio dan Iman?
Pertanyaannya kini di ambang era postmodern ini adalah: apakah rasio dan iman itu memang benar tidak memiliki titik temu? Haruskah kita mempertahankan konflik rasio-iman warisan jaman Aufklärung? Ataukah di postmodern ini kita harus kembali melihat fenomena yang namanya manusia itu secara keseluruhan, dan itu berarti rasio dan imannya? Bisakah manusia postmodern melepaskan diri dari bayang-bayang permusuhan antara otoritas ilmu dan otoritas agama yang berakibat pada pseudo konflik iman-rasio?

Di tahap awal masa Aufklärung berdiri Immanuel Kant, yang sampai pada kesimpulan, bahwa Allah tidak memiliki tempat dalam lingkungan rasio, yang disebutnya rasio murni (reine Vernunft). Dia mengadakan dikotomi antara rasio murni dan rasio praktis. Rasio murni adalah apa yang biasa kita kenal secara umum sebagai rasio, sedangkan rasio praktis dimaksud rasio menurut kategori moralitas. Dan menurut dia Allah tidak termasuk kategori rasio murni, dan karena itu kita tidak mungkin mengenal Dia dalam modus rasio. Allah hanyalah merupakan tuntutan dari hidup moral praktis (Postulat der praktischen Vernunft). Allahlah yang menjadi garansi supaya yang kita sebut “baik” secara moral itu memang baik adanya. Tanpa Allah sifat imperatif moral tidak memiliki dasar, tanpa jaminan keabsahan. Kendati Kant bukan seorang ateis (Kant tidak menolak eksistensi Allah), dia tidak melihat kemungkinan sedikit pun bahwa rasio (rasio murni!) bisa mengenal Allah. Logika Kant adalah: Kategori dari rasio kita bersifat terbatas. Dan karena itu ia hanya bisa menyerap obyek yang sifatnya terbatas (endlich, fana). Sedangkan Allah itu menyandang atribut tak terbatas (unendlich, baka), yang dalam kosa kata Anselm “Yang Maha Besar, yang tak dapat dibayangkan, bahwa ada yang lebih besar dari Dia” (aliquid quo nihil maius cogitari potest). Jadi kesimpulannya: rasio tidak akan bisa mengenal Allah. Selain itu menurut Kant, adalah tidak mungkin bagi Allah masuk dalam kategori rasio kita. Sebab secepat Dia “membatasi” diri masuk kategori terbatas, atribut ke-tak-terbatas-an-Nya otomatis terlucuti alias ke-Allah-an-Nya
terlukai. Dan itu tidak mungkin.

Kant hampir menjadi otoritas sakral dalam filsafat, yang kepadanya para filsuf sesudah dia harus mengorientasikan diri. Pernah ada usaha dari Neo-Skolastik mencoba mengatasi batas demarkasi rasio yang digariskan Kant dengan menempuh apa yang dinamakan metode transendental. Artinya mereka setuju dengan Kant, bahwa rasio yang terbatas tak mungkin bisa mengenal Allah yang tak terbatas. Tetapi bahwa kita mengenal ke-terbatas-an itu, itu sendiri sudah menunjuk, bahwa ada yang tak-terbatas. Jadi melalui metode ini mereka menempuh strategi “memakai Kant untuk mengatasi Kant”. Dalam daerah inilah banyak teolog modern menjalankan refleksinya.

Sekali lagi Demarkasi
Awal abad ini batas demarkasi antara rasio dan iman itu dihidupkan kembali oleh Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf asal Austria yang mempengaruhi aliran-aliran utama filsafat di daerah yang berbahasa Inggeris, terutama yang dinamakan filsafat bahasa. Wittgenstein adalah seorang filsuf yang hidupnya sangat bersahaja, bukan seorang Katolik aktif, kendati di dalam batinnya ia seorang saleh, seperti bisa dilihat dari Buku Hariannya.

Juga bagi Wittgenstein Allah tak bisa dikenal dalam modus rasio. Dia membuat pembedaan mendasar antara “hal yang bisa diungkapkan” (dan itu maksudnya, yang bisa secara rasional dikenal dan diuraikan), dan “hal yang tak dapat diungkapkan”. Logika Wittgenstein adalah: apa yang bisa dijelaskan, bisa juga dijelaskan. Itulah optimisme ilmiah, yang menganggap segala hal dalam dunia ini bisa diuraikan secara ilmiah. Selebihnya adalah omong kosong. Dan karena pengalaman religius itu tak bisa diuraikan secara eksakta, maka ia masuk dunia yang tak dapat diungkapkan, dan itu berarti secara ilmiah omong kosong. Toh, itu tidak berarti, bahwa Wittgenstein menyepelekan pengalaman religius. Bahkan dalam karya utamanya Tractatus, dia menegaskan: kalaupun suatu hari pertanyaan-pertanyaan ilmiah semua terjawab, pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah hidup belumlah terjawab dengan itu. Dan dia menambahkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan jauh lebih penting daripada pertanyaan-pertanyaan ilmu! Tetapi Wittgenstein adalah korban dikotomi dua dunia.

Properly Basic
Jadi di manakah terletak masalahnya, sehingga dilema dua dunia itu bisa terjadi? Atau memang itulah nasib kita sebagai manusia, harus menelan pil pahit rasio, dan akhirnya harus memoles di atasnya iman, yang lebih baik dicap “buta” dan omong kosong?

Para teolog Kalvinistis di atas mencoba menunjuk, bahwa dilema ini sebenarnya pseudo-dilema, dan berdasar pada kesalahan dalam cara berpikir kita mengenai kriteria dan metode verfikasi ilmiah. Mereka menyebut cara beargumentasi ala verifikasi semacam ini sebagai classical foundalism, yang dalam perangkapnya hampir semua orang terjerat. Menurut Plantinga ada inkoherensi dalam argumentasi ala verifikasi ini, dan inkoherensi tsb. sudah melekat pada premis dasarnya, yang dianggap merupakan proposisi dasar, yang tak membutuhkan evidensi lebih lanjut lagi (artinya bersifat properly basic). Tapi Plantinga bertanya, dari mana kita tahu bahwa premis dasar tsb. sudah properly basic? Konkrit itu berarti: bagaimana kita tahu bahwa premis berikut “satu hal baru bisa mendapat atribut bereksistensi, kalau hal tsb. bisa dibuktikan” (premis yang dipakai untuk melawan eksistensi Allah) dalam dirinya sudah eviden, artinya sudah jelas, tak membutuhkan pen-dasar-an lebih lanjut? Orang yang fanatik mempertahankan rasio pun tidak bisa mendasarkan hal ini lebih lanjut secara rasional! Jadi setiap proposisi toh didasari oleh satu proposisi dasar yang tidak bisa didasarkan lagi?

Ya, keabsahan dari premis itu memang tidak bisa dibuktikan lagi, melainkan merupakan satu hal yang diterima begitu saja, jadi sifatnya tidak rasional dan harus dipercaya saja, bahwa memang demikianlah adanya! Ia merupakan satu proposisi yang disebut properly basic yang tak perlu didasarkan lagi.

Pertanyaannya ialah: mengapa hal itu bisa berlaku bagi proposisi rasional ilmiah, dan tidak boleh untuk proposisi religius dan teologis, dan karena itu juga seyogyanya disebut rasional? Nah, di situlah kesalahan cara berpikir umum. Artinya kita sudah terlanjur mendiskriminasikan sejak awal-awalnya proposisi religius bila berhadapan dengan proposisi ilmiah, yang seolah-olah merupakan satu-satunya proposisi yang berhak mendapat atribut rasional. Padahal sebenarnya setiap proposisi berlandaskan pada satu proposisi dasar yang disebut properly basic, yang masing-masing berbeda untuk setiap bidang. Jadi ada proposisi properly basic untuk proposisi ilmiah dan ada pula proposisi properly basic untuk proposisi religius.

Satu versi baru ABBA: Pengalaman Religius
Nah, sekarang kita masuk ke inti karangan ini. Titik tolaknya kini adalah, bahwa setiap pernyataan itu, entah dia teologis atau ilmiah, selalu berpijak pada satu proposisi dasar yang sifatnya properly basic. Ia tidak bisa dibuktikan, melainkan hanya dipercaya begitu saja menurut pengalaman. Tanpa menguraikannya di sini panjang lebar, bisa dikatakan, bahwa biasanya kita hidup atas dasar kepercayaan kepada pengalaman kita. Itu berlaku untuk rasio maupun iman, atau lebih luas: berlaku dalam dunia ilmu, maupun dalam dunia religius. Sejauh pengalaman tidak membuktikan sebaliknya, sesuatu itu benar. Ingat di sini kritik dasar Karl Propper, yang mengajukan kriteria falsifikasi, artinya satu hipotese benar, sampai ia suatu hari terbukti salah. Dan dalam kategori ini harus masuk rumusan-rumusah ilmiah juga. Kendati tidak bisa dibuktikan secara tuntas, kita percaya bahwa teori hukum gravitasi itu benar, selama belum ada kasus yang membuktikan bahwa ia salah!

Tetapi di atas kita sudah menyebut mengenai rasionalitas berbagai statement. Kita tahu rasionalitas terletak pada orang dan bukan dalam obyeknya. Jadi dalam hal “membuktikan” adanya Allah, yang bisa diverifikasi bukan Allah sendiri, melainkan proposisi properly basic yang saya pakai untuk membuat statement bahwa Allah itu ada. Kalau proposisi “Allah ada” berdasar pada satu proposisi yang berdasar, maka kita menyebut orang yang mengeluarkan statement tsb. sebagai rasional. Dan kalau ia melakukan sebaliknya ia tidak rasional.

Pertanyaannya kini adalah apakah proposisi dasar yang digunakan orang tsb? Nah, di sinilah unsur baru itu muncul, yang sebenarnya tidak sama sekali baru lagi. Menurut John Hick, salah seorang yang menempuh haluan baru berargumentasi ini, proposisi dasar tsb. adalah pernyataan seperti “saya telah mengalami Allah” atau “saya mempunyai pengalaman dengan Allah”. Jadi dia merujuk kepada pengalaman religius. Menurut dia, hal ini sangat eviden, seperti dalam contoh di atas tentang Yesus. Rasional bagi Yesus adalah mengatakan bahwa Allah ada, sebab ia berdasar pada pengalamannya yang seharusnya properly basic. Sebaliknya Yesus tidak rasional, kalau mengatakan Allah tidak ada, padahal Ia sendiri telah mengalami kehadiran-Nya!

Jalan Keluar: Epistemologi
Tapi mengapa demikian? Mengapa Yesus mempunyai pengalaman religius tsb. sedangkan yang lain tidak? Dalam hal ini Hick maju selangkah dibanding para koleganya. Ia mengembangkan satu epistemologi yang bisa merangkul dan memperdamaikan rasio dan iman. Dengan membaharui epistemologi Hick yakin, persaingan kotor antara rasio dan iman bisa diakhiri. Dan untuk itu Hick menunjuk pada pengalaman sebagai dasar dari segala pengetahuan kita, entah itu ilmiah atau moral-religius.

Tiga Modus Pengalaman
Menurut Hick secara obyektif dunia yang kita pahami dengan intelek dan yang kita kenal dengan iman tidaklah berbeda. Perbedaannya terletak pada modus pengalaman kita, yang disebutnya dengan significance dan mendasari semua pengalaman dan pengetahuan lainnya. Ada tiga modi pengalaman: natural, moral, dan religius, yang menurut Hick ketiganya tersusun bak piramida. Artinya, modus pengalaman natural adalah dasar, di atasnya ada modus pengalaman moral, yang mencakup dan mengandaikan modus pengalaman natural, dan di puncak piramida terdapat modus pengalaman religius, yang mencakup dan mengandaikan kedua modi pengalaman pertama.

Dalam modus natural, kita “mengalami” obyek di luar diri kita berdasarkan hal-hal yang bersifat fisis. Melalui proses belajar kita bisa membedakan antara keras dan lembut, tinggi dan rendah, terang dan redup, dlsb. Dan bahkan dalam tingkat pengalaman ini kita “harus” belajar. Siapa yang tidak mau belajar, dia akan dihancurkan oleh alam! Bayangkan saja kalau kita tidak belajar membedakan antara bukit dan jurang, atau misalnya antara racun dan makanan, atau antara api dan air. Barangkali tak ada seorang pun yang bisa mencapai umur 10 tahun! Untunglah hal-hal tsb. telah kita batinkan melalui proses belajar dan menjadi bagian dari hidup kita (baca: menjadi proposisi properly basic bagi proposisi lainnya). Dalam level inilah ilmu pengetahuan (sains) merekrut keterangan-keterangan dan proposisi properly basic-nya.

Dalam modus moral, kita “mengalami” obyek di luar secara moral. Melalui proses belajar kita bisa membedakan antara cinta dan benci, sopan dan kasar, rajin dan malas, bertanggungjawab dan plin-plan. Juga di sini kita “harus” belajar menyesuaikan diri. Bayangkanlah bila kita tidak bisa lagi membedakan antara cinta dan benci, atau antara bertanggungjawab dan tak-bertanggungjawab. Dunia kita menjadi chaos! Dan bahwa hal ini cukup serius, bisa dilihat dari apa yang harus dilakukan bila seseorang kehilangan kemampuan untuk membeda-bedakan hal tsb. Rumah Sakit Jiwa adalah jawabannya bila orang tidak bisa lagi membedakan antara cinta dan benci, dan menafsirkan segalanya seakan sedang memusuhi dia. Dalam level inilah beroperasi manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam modus religius, kita “mengalami” obyek di luar diri kita secara religius. Kita mulai belajar, bahwa dunia ini dan segala isinya adalah ciptaan Allah. Melalui pengalaman hidup kita mengenal, bahwa Allah berkarya dalam hidup kita. Juga di sini berlaku, kita belajar membeda-bedakan antara pengalaman yang religius sejati dan tipuan. Karena itu kita tahu apa itu bersyukur, kepada Tuhan, membuka diri kepada-Nya, mendengar bisikan-Nya, dituntun oleh-Nya. Siapa yang tidak mau belajar, tidak akan masuk dalam kenikmatan pengalaman religius! Dalam level inilah kaum beriman menafsirkan dunia. Tidak bahwa mereka menyangkal statement ilmiah (level natural). Sebaliknya itu diandaikan! Tetapi nilai plusnya adalah bahwa mereka mengatasi level natural ini dan memiliki pandangan yang menyeluruh tentang dunia.

Iman: Unsur Interpretatif
Ada satu hal, yang selalu memainkan peranan mahapenting dalam ketiga modi pengalaman itu, yakni kesadaran kita (atau katakanlah roh) yang senantiasa aktif menafsirkan dunia di luar kita, yang memungkinkan kita belajar membeda-bedakan itu. Dan kegiatan menafsirkan ini (fungsi interpretatif kesadaran) aktif dalam ketiga modi pengalaman tsb. Dalam modus pengalaman religius fungsi interpretatif tsb kita kenal sebagai iman. Imanlah yang berusaha menafsirkan dunia sekeliling kita secara religius, sehingga kita “mengalami” dunia di luar kita secara religius pula. Sama seperti dalam modus natural kesadaran kita menafsirkan dunia sekeliling secara natural, dan dalam modus moral secara moral, demikian pula dalam modus religius.

Tetapi seperti dikatakan di atas secara obyektif dunia di luar kita adalah tetap dunia yang sama. Hanya pengalaman kita terhadapnya yang berbeda, sesuai dengan modus pengalaman yang aktif dalam diri kita. Itulah jawaban Hick atas pseudo-dilema Wittgenstein dan Kant. Dengan menempatkan “pengalaman” di dasar segala pengalaman lainnya, ia menempatkan ilmu dan rasio pada tingkat yang setara. Jadi semacam emansipasi pengalaman religius terhadap rasio.

Penutup
Proyek ABBA ini masih berjalan. Tentu epistemologi ala Hick masih menyimpan bahan perdebatan kritis yang harus dijawab. A.l. masih harus diselidiki entah bisa diterima andaian dasarnya, yang menempatkan pengalaman pada dasar segala refleksi kita. Ataukah justru yang kita sebut pengalaman itu merupakan hasil dari refleksi? Tapi satu hal jelas bagi Hick dunia di luar kita tetap yang sama, dan manusia yang menghadapi obyek dunia itu pun yang sama. Hanya pendekatan dan pengetahuan kita akan dunia obyektif itulah yang berbeda, dan masing-masing bertolak pada suatu pengalaman mendasar yang pada akhirnya bersifat properly basic. Kalaupun Allah tidak bisa dibuktikan eksistensinya, tetapi rasionalitas iman kita akan eksistensi Allah bisa diuji. Dasar tsb. adalah pengalaman religius. Tanpa dia segala ungkapan teologis kita tak berdasar, dan karena itu iman kita harus dicap tak rasional. Iman dan rasio (dan dalam arti tertentu: sains) tidak boleh dipertentangkan, sebab keduanya merupakan modi legitim pengalaman kita akan dunia.

Dan satu hal lagi: bila logika Hick sah, maka bukankah lebih rasional mengatakan bahwa Allah itu ada, melihat faktum fenomena religius, yang terdapat di setiap jaman, setiap bangsa, dan di setiap tempat di dunia? Hal ini jauh lebih menarik lagi untuk ditelusuri. Teologi agama bertugas
untuk itu!

Rujukan Lanjutan:

Döring, Heinrich; Kreiner, Armin; Schmidt-Leukel, Perry, Den Glauben dennken. Neue Wege der Fundamentaltheologie, QD 147, Freiburg i.Br.: Herder, 1993.

Davis, Stephen T., God, Reason and Theistic Proofs, Edinburgh: Edinburgh University Press, 1997.

Hick, John, Faith and Knowledge, London; Melbourne: Macmillan, 1967.

Hick, John, An Interpretation of Religion, London: Macmillan, 1989.

* Penulis adalah Pencetus dan Pemimpin Redaksi situs Nias Portal (nias-portal.org) yang hadir di dunia maya 2003-2006. Tulisan ini ditayangkan di Nias Online atas izin penulisnya. Tulisan asli dapat diakses di Achida.net.

Facebook Comments