Jakarta (Nias Online) – Informasi mengenai prediksi gempa antara 10-20 November 2010 di Nias Selatan tampak semakin meresahkan. Dari sejumlah warga yang dikontak Nias Online terungkap, sejumlah warga, terutama di dataran rendah dan dekat pantai melakukan pengungsian, termasuk memindahkan barang-barangnya.

“Informasi itu sudah tersebar ke mana-mana. Banyak yang resah. Tapi informasinya simpang siur. Saya dengar ada beberapa yang mengungsi,” ujar pengelola penginapan Shady Palm Beach Rupawan Luahambowo di Pantai Sorake ketika dihubungi melalui telepon genggamnya pada Senin (8/11).

Rupawan menjelaskan, dia dan keluarganya, setiap malam kembali ke kampung di Bawömataluo yang secara geografis lebih tinggi dari pantai Sorake. Dia mengakui, hal itu dilakukan sebagai antisipasi bila prediksi itu benar-benar terjadi.

Dia menambahkan, isu gempa dan tsunami tersebut, juga membuat sejumlah calon tamunya, turis mancanegara, yang saat ini sudah berada di Bali, ragu-ragu untuk datang dan kemungkinan membatalkan kunjungan mereka ke pantai tempat selancar terkenal itu.

Sementara itu, beberapa warga yang dihubungi di Bawömataluo mengungkapkan, pihak aparat desa telah mengumumkan melalui pengeras suara kepada warga agar mengantisipasi bila informasi soal gempa itu benar-benar terjadi. Selain itu, juga ada penjelasan serupa dari aparat kecamatan yang disampaikan pada saat kebaktian di gereja pada hari Minggu (7/11).

“Selain resah, ada yang borong beras sampai berkarung-karung. Akibatnya, harga beras naik. Demikian juga dengan susu untuk kebutuhan anak-anak. Semua sangat resah,” ujar salah satu warga yang tidak mau disebut namanya. Dia juga menjelaskan, sejumlah warga yang selama ini tinggal di kota Teluk Dalam mulai memindahkan dokumen-dokumen ke rumah mereka di Bawömataluo.
Sikap Pemda

Dihubungi terpisah, Camat Fanayama Elikasi Wau membenarkan adanya sejumlah penduduk yang mengungsi tersebut meski jumlahnya tidak banyak. Dia juga membenarkan adanya warga yang memborong sejumlah bahan makanan pokok.

Dia menjelaskan, sebelumnya di masyarakat beredar informasi yang katanya diperoleh dari media massa. Yakni, bahwa sekitar tanggal 15-17 November 2010 akan terjadi gempa dengan kekuatan 8,8 SR dan gelombang tsunami yang mencapai tujuh meter. Meski begitu, dia mengakui, informasi yang beredar di masyarakat simpang siur.

Dia menjelaskan, menanggapi isu yang beredar tersebut, pimpinan Pemda telah melakukan rapat dengan semua aparatnya untuk membahasnya. Rapat itu membahas upaya menjelaskan kepada masyarakat agar tidak gelisah serta menyikapi informasi itu dengan antisipasi yang wajar dan tidak berlebihan. Cuma, menurut dia, mungkin karena faktor trauma gempa waktu lalu, warga berespons terlalu cepat dan bahkan ada yang berlebihan sehingga panik seperti itu. “Jadi Pemda hanya mempersiapkan warga untuk mengantisipasi informasi itu. Bukan memastikan bahwa pasti akan terjadi seperti isu itu,” kata dia.

Sebelumnya, Nias Online telah meminta penjelasan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Jakarta mengenai kebenaran informasi prediksi gempa tersebut. Deputi Geofisika BMKG Dr. Prih Harjadi mengatakan, prediksi itu sebagai isu tidak berdasar. Tidak pernah ada institusi resmi yang pernah mengerluarkan prediksi seperti itu, apalagi dengan menyebut tanggal.

“Itu isu tidak berdasar. Kami pastikan info yang beredar itu tidak benar. Sebab, gempa belum pernah bisa diprediksi. Jadi tidak usah ditanggapi. Jangan disebarluaskan. Kalau disebarluaskan, ya, sebarluaskan bahwa isu itu tidak benar,” tegas dia.

Dia menjelaskan, teknologi yang dimiliki saat ini, baik di Indonesia mau pun di negara dengan teknologi lebih maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, belum bisa memrediksi tanggal akan terjadinya gempa.

Dia mengingatkan, bukan hanya wilayah Kepulauan Nias, tapi sebagian besar wilayah Indonesia adalah daerah rawan gempa. Karena itu, seluruh masyarakat harus selalu waspada dan tahu apa yang harus dilakukan bila gempa itu terjadi. “Jadi, apakah dari perhitungan ahli dari Inggris itu, dari Amerika Serikat, Jepang atau pun perhitungan BMKG, semua tahu bahwa pasti di situ akan gempa. Tapi kapan waktunya, kita tidak tahu. Jadi kita minta masyarakat antisipasi dan paham masalah itu,” tukas dia. (Etis Nehe)

Facebook Comments