Oleh: E. Halawa*

Pada pagaraf 1 dan 2 halaman 42 sebuah buku Hammerle [1], ditulis yang berikut:

Kata la’uma punya arti yang berbeda di Nias. Di Nias Selatan la’uma berarti mereka mencium. Sering juga seorang anak kecil diajak untuk mencium tangan atau pipi seseorang dengan berkata: Uma !

Akan tetapi di Onowaembo lain artinya. Sila’uma di daerah Idanoi berarti dahi.

Ada sejumlah hal yang perlu diluruskan dalam paragraf itu.

Uma dan La’uma
Pertama, dua kata dasar uma dan la’uma adalah dua kata yang berbeda dan tidak memiliki kaitan. uma – baik dalam bahasa Nias varietas Selatan seperti ditulis di depan maupun varietas Utara – berarti: cium.

I’uma gangango namania ono da’õ. – Anak itu mencium dahi ayahnya.

Dalam artikel Dada, Nidada, Fodada, Ladada, Dinidadakan [2] telah dijelaskan fungsi awalan la-. Jika awalan la- dilekatkan dengan kata dasar uma, maka muncullah kata bentukan la’uma (mereka mencium) seperti dalam kalimat kedua paragraf yang dikutip di depan. Sebenarnya, la- dalam kata bentukan la’uma (mereka mencium) bukanlah awalan murni. Demikian juga dalam kata ladada bila artinya mereka turunkan (lihat artikel Dada, Nidada, Fodada, Ladada, Dinidadakan [2]). La- dalam hal ini boleh dikatakan sebagai kata ganti orang ketiga: ya’ira (mereka).

‘Kebingungan’ terjadi karena dalam Li Niha, kata ganti orang mengalami perubahan bentuk ketika difungsikan dalam kalimat.

Beberapa contoh:

Kalimat: “Mereka melempar saya” tidak bisa diterjemahkan lurus ke dalam Li Niha menjadi ‘Ya’ira tebu ya’odo’.

Dalam Li Niha, Mereka melempar saya menjadi Latebudo. Kata tebu (lempar) diapit langsung oleh pelaku ya’ira (mereka) yang mengalami perubahan bentuk menjadi la- dan pelengkap penderita ya’odo (saya) yang disingkat menjadi do.

Lahangöiga – Mereka membentak kami.

Bentuk panjang, janggal dan yang tak berterima dari lahangöiga adalah Ya’ira hangöi ya’aga. Tentu saja Ono Niha tidak menggunakan versi terakhir itu. Versi yang lebih panjang dari Lahangöiga adalah Lahangöi ndra’aga.

Saya pribadi berpendapat, pemisahan kata ganti pelaku dari kata kerja bisa membantu meminimalkan atau bahkan meniadakan ‘kebingungan’ ini, sehingga kata la uma (mereka mencium) dengan mudah dibedakan dari kata la’uma (dahi yang tinggi/besar).

La’uma dan La uma (La-uma)

Jadi seperti dijelaskan di depan,  la’uma yang berarti dahi yang besar adalah kata dasar, bukan kata bentukan dari awalan la- dan uma. Di pihak lain, la’uma yang lain berarti: mereka mencium, adalah kata bentukan dari awalan la- dan uma. Dan seperti yang saya usulkan di depan, penulisannya menjadi la uma menghindari kebingungan itu. Atau, alternatif lain, tanda apostrof (‘) tetap dipakai untuk kata dasar sementara tanda hubung biasa (-) dipakai untuk kata bentukan.

Dengan penjelasan ini, kedua pertama dalam kalimat kutipan di atas “Kata la’uma punya arti yang berbeda di Nias. Di Nias Selatan la’uma berarti mereka mencium” adalah kurang tepat.

Dengan usul penulisan baru ini:
La’uma = dahi,  pakai apostrof (‘), sedangkan
La uma atau la-uma = mereka mencium, terpisah atau pakai tanda hubung biasa

Kalimat “La’uma zebua la’uma” karena memakai tanda apostrof (‘) yang sama bisa berarti:

  1. Mereka mencium orang yang berdahi besar, atau:
  2. Dahi orang yang berdahi besar (terlepas dari makna kalimat dulu …)

Dengan memisahkan kata ganti orang pelaku dari kata kerja, maka kalimat pertama dapat ditulis dalam Li Niha sebagai;

La uma zebua la’uma atau La-uma zebua la’uma.

Dengan menggunakan aturan yang diusulkan ini, kalimat di bagian awal tulisan ini dapat diulis menjadi:

I uma gangango namania ono da’õ, atau
I-uma gangango namania ono da’õ.

Dahi, Lau’ma, Angango, Mbangombango

Pada halaman 42 dari buku tersebut [1], Hammerle mencantumkan dalam sebuah table arti dari kata dahi dalam bahasa Nias Selatan, Nias Idanoi dan Nias Utara.

Bahasa Indonesia Bahasa Dearah Nias
Nias Selatan Nias Idanoi Nias Utara
Dahi Dahi* (si) la’uma Angango

   * Barangkali ini hanya kesilafan, yang dimaksud mungkin adalah la’uma.

Dalam Li Niha varietas Utara, la’uma memang berarti dahi atau kening tetapi dahi atau kening yang panjang/tinggi dan agak menonjol ke depan. Sebua la’uma adalah sebutan kepada seseorang yang memiliki dahi yang besar ini, dan agak bernada negatif – mengejek. Sebenarnya penyebutan sebua la’uma sendiri berlebihan (redundant), karena dalam kata la’uma sudah terkandung makna ebua (besar). Namun hal itu banyak ditemukan dalam Li Niha. Ebua sibai la’umau, besar kali dahimu – orang tua terkadang mengelakari anak-anak.

Dalam Li Niha varietas utara, dahi (yang normal) adalah angango. Ada kata lain yang searti, yakni: mbangombango.

“Tezu manö mbangombangonia” -> “Tinju saja dahinya”, sering dikatakan oleh orang mabuk dan atau yang suka berkelahi kepada teman yang lain di harimbale-harimbale pada masa lalu.

Sila’uma, Sola’uma
Apakah sila’uma berarti dahi menurut Li Niha varietas Idanoi? Pada halaman yang sama Hammerle selanjutnya menulis:

Nah, kalau ornamen kayu di dalam rumah disebut sila’uma, apakah istilah si’lauma dalam pembuatannya terinspirasi oleh bentuk ujung muka? Kelihatan seperti kepala patung yang mempunyai dahi (si’lauma) yang tinggi atau mempertujukkan dahi-nya kepada kita. Contoh Schröder, seorang pegawai Belanda yang betugas di Nias pada awal abad ke-20, dulu diberi gelar Sila’uma. Mengapa? Mungkin karena dahinya yang tinggi dan menonjol ke depan ? Sehingga ciri khas wajahnya menjadi alasan untuk memberi gelarnya Sila’uma? Di luar itu mitologi masih mengenal seorang leluhur dengan nama Sila’uma.

Paragraf kutipan ini sebenarnya memberi petunjuk kepada kita bahwa si’aluma tidak dapat diartikan sebagai dahi. Menurut saya, ‘si’ dalam kata silau’ma lebih berfungsi sebagai semacam kata sandang. Dengan demikian si’lauma adalah yang memiliki dahi yang besar, agak menonjol ke depan. Tapi mengapa patung disebut si’lauma ? Jawabannya: mengapa tidak? Sila’uma dalam pengertian ini adalah patung yang memiliki dahi yang besar. Sangat mungkin, seperti ditulis Hammerle, bahwa Schrõder memiliki dahi yang tinggi dan menonjol ke depan, paling tidak di mata orang-orang Nias di zaman itu.

Fungsi imbuhan ‘si’ telah cukup dibahas panjang lebar di bawah artikel: Sibaya, Paman, Uncle [3]. Salah satu komentar di sana mencoba ‘berhipotesis’ bahwa ‘si’ dalam kata sibaya bermaksud memberi makna ‘penghormatan’. Tulis komentar itu:

… saya setuju penulisan sibaya – menjadi satu tidak dipisah, tetapi saya beranggapan “si” yang didepan kata baya tetap saja berasal dari artikel yang ingin memberi pengertian “penghormatan” pada baya, kasarnya “sibaya” bisa diartikan “yang terhormat baya” …

Julukan sila’uma yang diberikan kepada Schrõder tentulah tidak bermakna penghormatan, paling netral adalah julukan yang muncul secara spontan dari ciri yang menonjol sosok Schrõder.

Di Nias, harus diakui, kebiasaan menggelari/menjuluki orang melalui tampilan fisik cukup kental. Maka muncullah ‘sanau kaewa’ – kepada orang yang berkaki panjang, sanau ikhu – kepada yang berhidung panjang, dan seterusnya. Kebiasaan ini seharusnya mulai ditinggalkan.

Mengapa sola’uma tidak dipakai untuk menamakan patung itu? Padahal sola’uma berarti juga orang yang memiliki dahi panjang, agak menonjol ke depan? Dalam sebuah komentar saya di bawah artikel Sibaya, Paman, Uncle, saya menulis:

Sibowo dan sobowo kayaknya agak berbeda pengertiannya, walau sangat tipis: sibowo -> si (sang) kuntum bunga, sementara sobowo -> yang berkuntumkan …

Gelar (julukan) Sila’uma yang diberikan kepada Schröder berarti: si dahi besar; jadi ‘si’ di sini kurang lebih seperti kata sandang ‘si’ atau ‘sang’ dalam bahasa Indonesia.

Dari penjelasan di depan, tabel Hammerle tadi dapat dimodifikasi  sebagai berikut:

Bahasa Indonesia

Bahasa Dearah Nias

Nias Selatan Nias Idanoi Nias Utara
Dahi La’uma ? la’uma Angango, Mbangombango
Dahi besar

?

La’uma La’uma = angango (mbangombango) sebua
Julukan bagi orang yang memiliki dahi panjang dan agak menonjol ke depan

?

Sila’uma

Si’lauma

? Penulis tidak bisa memberi pendapat untuk Li Niha varietas Selatan.

Rujukan:

[1]. Hammerle, J., (tak bertahun), Daeli Sanau Talinga & Tradisi Lisan dari Onowaembo Idanoi. Yayasan Pusaka Nias.

[2]. Halawa, E., 2010: Dada, Nidada, Fodada, Ladada, Dinidadakan –  www.niasonline.net/2010/10/29/dada-nidada-fodada-ladada-dinidadakan/

[3]. Halawa, E., 2008: Sibaya, Paman, Uncle – www.niasonline.net/2008/05/07/sibaya-paman-uncle/

Facebook Comments