MEDAN – Rabies masih menjadi penyakit yang menghantui dan mematikan di Sumatera Utara. Pasalnya, penyakit jenis ini masih ditemukan di Sumut.

Atas kondisi itu, masyarakat dihimbau untuk tetap mewaspadai rabies, karena dalam tiga tahun belakangan ini penyakit tersebut di Sumatera Utara cenderung terus mengalami peningkatan di beberapa kabupaten/kota.

Koordinator Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P3B2) Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Teguh Supriadi, mengatakan berdasarkan data yang ada, diketahui kasus rabies cenderung meningkat sejak tahun 2008 hingga penghujung tahun 2010.

Kabupaten Nias yang saat ini terbagi menjadi lima kabupaten/kota yakni Nias, Nias Selatan, Nias Barat, Nias Utara dan Kota Gunung Sitoli sebelumnya dinyatakan wilayah bebas rabies bersama beberapa daerah lain di Indonesia seperti pulau Bali, NTB, Maluku dan Jawa Timur.

“Namun pada awal tahun 2010 telah dilaporkan adanya kasus rabies yang hingga pertengahan tahun 2010 telah merenggut nyawa sedikitnya 31 orang di wilayah itu. Jumlah ini merupakan kasus terbanyak dalam periode waktu yang sama sepanjang sejarah rabies di Sumut,” katanya, hari ini.

Hingga saat ini, lanjutnya, Dinkes kabupaten/kota di sumut diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan dan melakukan penanggulangan dengan cepat pada setiap kasus gigitan hewan penular rabies.

Karena jumlah kasus gigitan anjing sebagai hewan utama penular rabies di Sumut pada tahun 2010 hingga bulan Juli diketahui mengalami peningkatan yang signifikan dan secara akumulatif per bulan hingga Desember nanti jumlahnya diperkirakan dapat meningkat dua kali lipat dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya.

“Bukan hanya itu saja, baru-baru ini juga ada laporan kasus di pengungsian Gunung Sinabung yang menyatakan lima pengungsi terkena gigitan anjing liar, sehingga harus kita berikan VAR (Vaksin Anti Rabies) guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Mengingat rabies cenderung mengalami peningkatan, lanjutnya, upaya kewaspadaan terhadap kemungkinan penularan rabies dengan jumlah yang lebih banyak di waktu yang akan datang perlu ditingkatkan dengan beberapa upaya, seperti meningkatan surveilans epidemiologi rabies pada hewan dan manusia.

Kemudian meningkatkan keamanan terhadap hewan yang kemungkinan menggigit manusia, penyediaan VAR di kabupaten/kota, pemberdayaan masyarakat tentang upaya pencegahan rabies melalui berbagai kegiatan sosial dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang P3K pascagigitan hewan tersangka rabies.

“Yang terakhir koordinasi yang solid antara Dinkes dan Dinas Peternakan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, sehingga kita dapat melakukan pencegahan penularan rabies secara menyeluruh di Sumut,” katanya. (www.waspada.co.id – 2 November 2010)

Facebook Comments