Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji mata-Mu. Dengan apakah kubalas Tuhan, s’lain puji dan sembah Kau.’ Hekinus Manaö mengutip dan menyanyikan refrain lagu rohani itu, menyela kata-kata pamitannya pada acara syukuran dan perpisahan dengan keluarga besar, masyarakat Bawömataluo dan Nias di kediamannya di Gading Serpong, Banten, Minggu (24/10).

Hekinus mengakui, semua perjalanan dan pencapaiannya sampai saat ini, semata-mata karena pekerjaan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan memperlakukannya seperti biji mata-Nya. Di jaga dan dipelihara. “It is very wonderful. Berkat Tuhan itu luar biasa. Dia amat baik. Terus terang, Tuhan memperlakukan saya seperti biji matanya. Sangat luar biasa,” pungkas dia usai menyanyikan lagu yang mengutip ayat-ayat Alkitab (Kitab Ulangan 32:10; Mazmur 17:8 dan Zakaria 2:8) itu.

Bagi pria yang biasa dipanggil Ama Jesse tersebut, perjalanan hidup dan karirnya sampai saat ini, adalah sebuah perjalanan rohani (spiritual journey). Nuansa itu sangat terasa ketika dia merujuk pada berbagai aktifitasnya yang sering dilatarbelakangi dengan suasana yang amat memrihatinkan. Mulai dari ketika masa kecil sampai menginjakkan kaki di Jakarta pada Oktober 1973.

Nuansa spiritual itu juga dirasakan dengan kehadiran penolong sejatinya dari Tuhan, yakni sang istri, Inti Zebua ketika menempuh pendidikan selama delapan tahun di Amerika Serikat. Dengan segala keterbatasan, tanpa pembantu dan penolong, sambil kuliah harus merawat ketiga anak mereka yang semuanya kini sekolah dan kuliah di Los Angeles. “Dialah tulang rusuk sejati saya dari Tuhan,” tegas dia.

Seperti sudah banyak diberitakan di media massa, per 1 November 2010, pria kelahiran Desa Bawömataluo 54 tahun lalu itu akan menduduki jabatan prestisius sebagai Direktur Eksekutif Bank Dunia (World Bank) di Washington DC. Selama dua tahun, akan bekerja di sana bersama mantan atasannya di Kementerian Keuangan, Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) yang telah sekitar lima bulan menjadi Managing Director.

Dengan mereka berdua, Indonesia menempatkan dua putra-putri terbaiknya di antara total 28 top leader bank yang dipimpin Robert B Zoellick itu. Empat top leader terdiri atas Presiden Direktur dan tiga managing director, dimana salah satunya dijabat oleh SMI. Sedangkan 24 lainnya adalah direktur eksekutif yang sekaligus mewakili 185 negara. Hekinus adalah salah satu dari 24 direksi itu.

Khusus untuk posisinya sendiri, pria yang pernah berkarir di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) itu akan mewakili 11 negara. Yakni, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Nepal, Brunei dan Fiji dan Tonga di kepulauan Pasifik. Karena itu, selain tugas sebagai direksi, juga akan sering melakukan perjalanan ke negara-negara itu untuk mengetahui perkembangan pembangunannya. “Di sana saya satu kantor dengan SMI. Dia di lantai 12, saya di lantai 13. Harapan saya, kami bisa bekerja sama dengan baik sesuai harapan,” kata dia.

Full of Compassion
Kesulitan demi kesulitan tidak mendistorsi semangat dan komitmennya. Berbagai tugas diemban dan dijalankannya dengan kesungguhan. Apa pun jabatan itu, bila itu amanat dari Tuhan, maka dia yakin, semuanya akan berjalan mengalir saja. Tanpa bermaksud mengekspos diri, dia mengaku, semua koleganya di Kemenkeu tahu, dirinya tidak pernah mengejar jabatan mau pun uang. Sebaliknya, fakta menunjukkan, jabatanlah yang mengejarnya. Dan tentu saja, uang.
Bagi dia, bekerja adalah bagian dari perjalanan rohaninya. Nilai-nilai itu bekerja dan diterapkan dalam pekerjaannya. Bekerja itu harus dengan penuh cinta (full of compassion). Ketika menduduki jabatan baru pun, selalu memastikan bahwa tidak cukup hanya melanjutkan (program) yang lama, tapi juga berusaha melakukan sesuatu yang baru, yang berguna. “Saya kerja full of compassion. Penuh cinta. Mungkin akan terkesan berlebihan kalau saya mengatakan, perjalanan hidup saya, sejak SMP sampai saat ini adalah perjalanan spiritual (spiritual journey),” kata dia.

Perlahan tapi pasti, Hekinus memanen hasil kesetiaan dan kerja kerasnya. Hingga akhir bulan Oktober 2010, dia masih menjabat sebagai Inspektur Jenderal Kemenkeu. Sebuah lompatan luar biasa dari jabatan sebelumnya sebagai Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Kementerian Keuangan.

Kini lompatan luar biasa terjadi lagi. Dia mendapat kepercayaan negara dan pemerintah dengan menjadi wakil Indonesia, bahkan mewakili 10 negara lainnya menduduki posisi Direktur Eksekutif Bank Dunia. Hekinus mengaku, terkait posisi itu, dirinya tidak pernah mengajukan diri, atau pun mengikuti ujian apa pun tentang hal itu. “Justru pada 6 September 2010, saya mendapat pemberitahuan tiba-tiba untuk mempersiapkan diri untuk jabatan baru itu,” terang dia.
Dari Nias ke Washington DC

Hal yang sangat menyentuh dan memaksa menitikkan air mata terungkap ketika alumni Cleveland State University, Ohio, USA itu menjelaskan sekelumit perjalanan hidupnya, mulai dari masa kecilnya. Sama seperti kebanyakan masyarakat Nias saat itu, hidup begitu sulit. Mengacu pada masa lalu itu, dia pun memilih memodifikasi judul di milist alumni STAN yang dibuat rekan-rekannya angkatan 1976 yang menulis, “Hekinus Manaö: Dari Nias ke Washington DC.” Menurut dia, bila bicara ‘darimana’ secara lebih spesifik lagi, maka judul itu bisa diubah menjadi, “Dari Tidak Pakai Sandal sampai Memimpin Bank Dunia”.

Hal yang sangat berkesan dan membekas adalah kesulitan di masa kecil, termasuk ketika menapaki setahap demi setahap pendidikannya mulai dari Sekolah Dasar. Kala itu, dia menjalani masa kecilnya tanpa sandal. Dia ingat, setelah menginjak kelas lima, baru memiliki sandal. Bahkan, saking kagetnya dan karena tidak terbiasa, sandal itu sering terlupa atau tertinggal entah dimana.

Menginjak tingkat SMP pun juga lumayan menyedihkan. Saat itu, setiap hari minggu, bersama temannya satu sekolah harus kucing-kucingan. Perasaan gengsi dan malu selalu mengganggunya bila akan berpapasan dengan anak-anak gadis yang akan ke asrama sekolah. Sebab, setiap hari minggu sore, bersama saudara sulungnya, Asli Manaö (Ama Fika) akan ke Teluk Dalam dan tinggal di asrama. Saat berangkat dari Desa Bawömataluo, mereka harus membawa kelapa untuk dijual.

Kelapa-kelapa tersebut, harus dijual sore itu juga agar bisa membeli sebanyak empat dumba beras (takaran beras seukuran kaleng roti bulat ukuran sedang atau setara dengan delapan kaleng beras bila ditakar dengan bekas kaleng susu kental). Beras itu merupakan ‘tiket’ untuk masuk asrama dan bisa sekolah. “Terus terang saja, ada rasa malu ketemu cewek-cewek karena saya juga anak muda saat itu,” ungkapnya sambil menitikkan air mata mengenang masa-masa sulit itu.

Demikian juga ketika tamat SMP. Oleh orangtuanya, diarahkan masuk di SMA BNKP Gunungsitoli. Sedangkan abangnya, Ama Fika, diarahkan masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Alasannya, orangtua ingin agar salah satu dari mereka cepat selesai. Waktu itu, dia merasa dikalahkan, karena dengan sekolah di SMA pasti akan lama prosesnya. Sedangkan kalau SPG akan lebih cepat. Termasuk lebih cepat menikah.

Tapi ternyata, kata dia, justru dia yang lebih cepat menikah dari abangnya yang kini berpangkat perwira menengah di Polda Metro Jaya itu. Dan kini, salah satu pimpinan Bank Dunia itu adalah lulusan SMA BNKP. “Jadi bisa dikatakan, ‘Dari SMA BNKP ke Bank Dunia’,” pungkas dia.

‘Ke Jakarta Aku kan Kembali’
Mengemban jabatan presitius dengan tugas berat, tidak menyebabkan anak kedua dari tujuh bersaudara itu kehilangan selera humor, juga makanan khasnya. Itu sebabnya dia mengaku merasa sedih meninggalkan Indonesia. Selama dua tahun ke depan, kata dia, akan berpisah, di antaranya, dengan bulu gowi farasi (sayur daun singkong) dan bulu mbala (sayur daun pepaya).

Banyak hal juga harus kembali dibiasakan. Misalnya, bila selama ini sang istri tidak perlu memasak, maka di Washington DC harus memasak sendiri. Bila selama ini di Jakarta kemana-mana di antar supir pribadi, kenikmatan itu sudah tidak ada. Harus nyetir sendiri, bahkan harus ikut tes untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) di sana.

Berpisah dengan tukang cukurnya, seorang pria asal Leuwiliang, juga adalah salah satu sumber ‘kesedihan’nya. Telah bertahun-tahun menjadi spesialis tukang cukurnya. Hekinus merasa akan kehilangan karena memiliki kebiasaan aneh, setiap kali cocok dengan satu merek atau seseorang, maka tidak akan beralih kemana-mana. Dia pun mengaku telah mengadakan acara perpisahan dengan sang tukang cukur dengan menggelar ‘ritual’ cukur terakhir. Dia pun berharap, bila kembali ke Indonesia dua tahun mendatang, masih bisa bertemu.

Suasana campur aduk itu sangat membekas. Membuatnya tidak bisa melupakan Indonesia. Tak heran, pada bagian akhir kata-kata pamitannya, Hekinus bersama istri menutupnya dengan lantunan lagu “Ke Jakarta Aku ‘kan Kembali.” (Etis Nehe)

Apa Kata Mereka ?

‘Capaian Karir Tertinggi Putra Nias’ sejauh ini …

Mewakili masyarakat Nias pada acara perpisahan itu, Brigjen Christian Zebua mengatakan, posisi Hekinus di Bank Dunia itu, merupakan pencapaian karir tertinggi yang pernah diraih oleh putra Nias sejauh ini. Karena itu, penugasan oleh negara ke Bank Dunia itu merupakan kebanggaan luar biasa bagi masyarakat Nias, selain bagi bangsa dan negara.

Perjuangan Hekinus, sejak kecil sampai saat ini, kata dia, layak menjadi teladan bagi generasi muda masyarakat Nias. Bahwa segala sesuatu bisa dicapai asal memiliki tekad. Apa pun yang dikerjakan, dalam profesi apapun, harus digeluti secara profesional. Berada di profesi mana pun, keberadaan itu harus bisa dirasakan oleh sekitar.

“Bapak Ama Jesse mengatakan, dia tidak mengajukan diri. Tapi dia diminta dan ditempatkan karena profesional di bidangnya. Di mana dia ada, di situ dia berbuat sesuatu yang luar biasa. Ini contoh bagi kita. Bahkan, anak-anak Nias lainnya, harus bisa lebih tinggi dari capaian ini. Kita jangan berpuas dengan yang ada saat ini,” kata dia.

Pernyataan senada disampaikan Waspada Wau, yang mewakili keluarga besar dan masyarakat Bawömataluo. Berbicara dalam bahasa daerah dengan dialek Teluk Dalam, dia mengatakan, pencapaian sebagai pimpinan di Bank Dunia ini bukanlah karena cita-cita tapi sebagai konsekuensi dari segala sesuatu yang diperjuangkan selama ini sehingga dia mendapat penghargaan.

Dia mengaku sebagai salah satu saksi hidup bagaimana Hekinus jungkir balik dalam perjuangannya. Dia ingat, suatu kali, ketika masih sekolah di Nias. Hekinus akan ujian besok sore pada pukul 17.00. maka mulai pukul 17.00 hari ini, memulai belajarnya. “Saat itu dia minta kami untuk mo’ana’aisi ya’ia (merondainya). Siapa tahu dia pingsan karena kecapaian. Jadi kami bergantian menjaga dia,” ungkap sepupu kandung Hekinus itu.

Pesan utama dari semua cerita sukses itu, kata dia, bahwa kini, dalam keluarga, dan komunitas masyarakat Nias, sudah ada sosok teladan. Tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Karena itu, keluarga sangat berbahagia dan tidak merasa kehilangan bila harus pergi jauh untuk beberapa saat ini. Bahkan diharapkan, sekembali dari sana, bisa lebih meningkat lagi dan lebih lagi dalam hal menjadi saluran berkat Tuhan, bagi keluarga, bangsa dan negara.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Nias Online, ternyata, Hekinus juga bukan tipe pejabat aji mumpung dalam memanfaatkan fasilitas jabatannya. Dia tidak memanfaatkan fasilitas pengawalan yang melekat pada jabatannya. Baik untuk dirinya, mau pun untuk keluarganya.

Bagi ponakannya, Yediel Lase, Hekinus meninggalkan kesan mendalam sebagai pekerja keras. Yediel yang juga alumni STAN tersebut mengungkapkan, setiap hari, pamannya berangkat ke kantor pukul 5.30 Wib dan selalu tiba di kantor sebelum para bawahannya tiba. Sebaliknya, juga pulang paling akhir, bahkan seringkali larut malam. “Bahkan, terkadang kita yang menunggu di rumah sudah tidur duluan sebelum paman pulang,” ungkap dia.

Meski sangat sibuk, ternyata Hekinus selalu menyisihkan waktu untuk berolahraga. Tidak salah bila penampilannya terlihat berstamina dan segar. Setiap pukul 05.00 melakukan lari pagi dan setiap minggu pagi bermain tenis meja.

Pria yang kini bertugas di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jayapura tersebut mengatakan, meski menduduki posisi strategis di Kemenkeu, pamannya bukan tipe orang yang memanfaatkan posisinya untuk kepentingannya, keluarganya dan saudara-saudaranya. “Misalnya, berusaha untuk memasukkan saudaranya, ponakan atau kenalan ke instansi tersebut tanpa melalui prosedur yg normal dan fair,” jelas dia. (Etis Nehe)

***
Nama: Dr. Hekinus Manaö, Ak., CFGM
Tempat, Tgl Lahir: Bawömataluo, 14 Juli 1956
Status: Menikah
Istri: Inti Zebua
Anak-anak: Jesse Manaö, Elisabeth Manaö, Jeremy Manaö

Pendidikan:
1984: Diploma IV Bidang Akuntansi, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), Jakarta
1981-1986: Fakultas Ekonomi Ekstensi, Universitas Indonesia
Fall 1990: Master of Accountancy, Case Western Reserve University, Cleveland, Ohio USA
1995: Pendidikan Doktoral bidang studi Business Administration (Major: Accounting; Minor: Finance & Information
Systems, Cleveland State University, Ohio USA

Jabatan
Terhitung mulai 1 Nov 2010: Direktur Eksekutif Bank Dunia
12 Agst 2008-31 Okt 2010: Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan
2006-2008: Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Ditjen Perbendaharaan, Kemenkeu
2004-2006: Direktur Informasi dan Akuntansi, Ditjen Perbendaharaan, Kemenkeu
2003-2004: Kepala Pusat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Badan Akuntansi Keuangan Negara, Kemenkeu
2008–sekarang: Inspektur Jenderal, Departemen Keuangan
2005-sekarang: Komisaris PT Kereta Api (Persero)
2003–sekarang: Anggota Dewan Standar Akuntansi Keuangan, Ikatan Akuntan Indonesia
2002–sekarang: Anggota Komite Standar Akuntansi Pemerintahan
2005–sekarang: Anggota Tim Kerja & Ketua Tim Pengadaan Proyek Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara
2004–sekarang: Ketua Tim Pelaksana State Audit Reform Project
2005–sekarang: Wakil Ketua Tim Pelaksana Local Government Finance & Governance Reform Project
2005–sekarang: Anggota Tim Kerja Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah
2005–sekarang: Liaison Officer pada Dewan Pengarah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias
2006–sekarang: Anggota Tim Penilai Aplikasi BLU
2007-sekarang: Anggota Dewan Pengawas Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta
Maret 1998–sekarang: Staf Pengajar dan Dosen Pembimbing Program Doktor Pascasarjana Studi Manajemen, Universitas Indonesia
Maret 1998–sekarang: Staf Pengajar Studi Magister Akuntansi (MAKSI) Univ. Indonesia
2006–sekarang: The European Institute of Advanced Studies in Management

Keterangan Gambar: 1. Dr. Hekinus Manaö, 2. Hekinus Manaö dengan istri, Inti Zebua.

Tulisan Terkait:
Hekinus Manaõ, Karakter “õ/ö”, dan Kompas

Facebook Comments