* Kota Gunung Sitoli sebanyak 17 kasus

MEDAN – Kasus gigitan hewan penular rabies di Sumut meningkat secara signifikan. Data Program Pencegahan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Dinkes Sumut, kasus rabies yang belum genap satu tahun di 2010, meningkat 4 kali lipat dari tahun 2009.

Berdasarkan data, kasus rabies 2008 di Kabupaten Dairi ditemukan sebanyak 2 kasus dan Simalungun 1 kasus. Sedangkan tahun 2009, Kabupaten Simalungun ditemukan 1 kasus, Taput 1 kasus, Humbahas 3 kasus, Dairi 1 kasus dan Batu Bara 1 kasus.

Sementara itu pada tahun 2010 kasus rabies dilaporkan oleh 9 kabuten/kota yaitu: Asahan 2 kasus, Taput 1 kasus, Samosir 3 kasus, Tapteng 1 kasus, Nias 5 kasus, Nisel 1 kasus, Dairi 1 kasus, Nias Barat 1 kasus dan Kota Gunung Sitoli sebanyak 17 kasus.

Sebelumnya berdasarkan data Depkes RI (2006) Nias merupakan wilayah bebas rabies bersama beberapa daerah lain di Indonesia seperti pulau Bali, NTB, Maluku dan Jawa Timur.

“Namun pada awal 2010 dilaporkan adanya kasus rabies yang hingga pertengahan tahun 2010 telah merenggut nyawa sedikitnya 31 orang di wilayah pulau Nias,” kata Teguh Supriyadi, Koordinator P2B2 Dinkes Sumut, Senin (25/10).

Menurutnya, jumlah kasus gigitan hewan penular rabies ini merupakan kasus terbanyak dalam periode waktu yang sama sepanjang sejarah rabies di wilayah Provinsi Sumatera Utara.

Hal ini menurutnya dikarenakan meningkatnya frekuensi kasus, ditambah meningkatnya jumlah hewan penular rabies, namun akibat kurangnya follow up terhadap kasus yang dirawat, tidak diperoleh data akhir dari kondisi penderita yang dirawat di rumah sakit.

“Tapi, merujuk dari berbagi literatur bahwa kasus rabies umumnya berujung pada kematian, dalam hal ini setiap kasus rabies diasumsikan meninggal dunia,” tegas Teguh.

Dia mengatakan, Medan melaporkan 200 lebih kasus gigitan salah satu hewan penular rabies yakni anjing. Untuk mengurangi atau mematikan virusnya terang Teguh, usaha paling efektif ialah mencuci luka tersebut dengan sabun selama 10 menit atau lebih, kemudian diberi antiseptik.

“Namun, jika hewan yang menggigit mati atau hewan itu lari dan tidak bisa ditemukan lagi, pengobatannya harus diberikan VAR (vaksin anti rabies),” terangnya. (www.waspada.co.id – 26-10-2010)

Facebook Comments