JAKARTA (Nias Online) – Victor Zebua, salah satu dari sedikit penulis produktif tentang Nias, budaya dan masyarakatnya, kembali akan meluncurkan buku terbarunya. Buku tersebut berjudul Jejak Cerita Rakyat Nias yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka Pelajar.

Kepada Nias Online, Victor menjelaskan, buku itu sebenarnya direncanakan akan diluncurkan di Pulau Nias. Namun, karena masih ada kendala terkait biaya, maka peluncuran akan dilakukan Yogyakarta. “Bila semua berjalan dengan baik, peluncuran akan dilaksanakan minggu depan,” ungkap Victor.

Victor yang juga salah satu awak redaksi situs Nias Online tersebut mengatakan, buku itu berisi penuturan tentang folklor (cerita rakyat) berdasarkan penelusuran yang dikaitkan dengan konteks kolektif pendukungnya. Cerita-cerita yang ditampilkan, secara umum berasal dari beberapa wilayah sesuai pendukung tiap versinya. Tapi secara total mencakup seluruh Nias. Buku yang terdiri atas 10 Bab tersebut, disusun dalam bingkai analisis sosial budaya, sehingga setiap cerita muncul sesuai konteksnya.

Bagi Victor, buku Jejak Cerita Rakyat Nias ini merupakan buku ketiga tentang Nias dan secara total merupakan buku kelimanya. Buku pertama tentang Nias berjudul Meraih Fajar Pariwisata Nias dan buku kedua berjudul Ho Jendela Nias Kuno. Adapun tujuan penulisan buku itu, jelas dia, sebagai wujud pelestarian dalam bentuk tulisan folklor Nias sebagai budaya yang dipraktikkan namun banyak yang telah punah.  “Buku yang ada selama ini sifatnya parsial. Saya rasa belum ada yang utuh mencakup hampir seluruh folklor Nias dalam satu buku,” kata dia.

Setiap bab dalam buku itu, papar dia, terbuka untuk penelusuran lebih lanjut dan mendalam. Siapa pun, kata dia, bisa melakukannya. Harapannya, dengan penerbitan buku tersebut, masyarakat Nias, minimal mengetahui folklor Nias yang hampir terlupakan. Di sisi lain, juga agar setiap orang tidak sembarang menafsirkan folklor Nias yang berbentuk mite, legenda dan dongeng terlepas dari konteks sosial budaya di mana budaya folklor itu tumbuh.

Folklor yang terkumpul tersebut, ternyata tidak sekedar sebuah cerita. Tetapi juga sekaligus menunjukkan keunikan tertentu dalam budaya masyarakat Nias yang bahkan orang Nias sendiri pun banyak yang tidak mengetahuinya. Misalnya, tentang Kalender Sara. Sebuah bentuk kalender versi Nias yang dapat disejajarkan dengan kalender Masehi atau pun kalender Hijriah. “Bila kalender Masehi berdasarkan posisi matahari dan kalender Hijriah berdasarkan posisi bulan, maka kalender Sara berdasarkan posisi bintang. Apa gak hebat Nias?” pungkas dia.

Buku yang dipasar akan dijual seharga Rp 40 ribua per buku tersebut dapat diperoleh di toko-toko buku yang memiliki link dengan penerbit Pustaka Pelajar. (Etis Nehe)

Facebook Comments