Jepang Dukung Situs Bawömataluo Jadi Nominasi Warisan Dunia

Saturday, September 11, 2010
By susuwongi

POZNAN, POLANDIA – Pemerintah Jepang menyatakan minatnya untuk mendukung peninggalan budaya berupa rumah adat tradisional di Desa Bawömataluo (Bawömataluo site), menjadi nominasi warisan dunia (world heritage). Selain dukungan terhadap daerah kunjungan wisata andalan di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara tersebut, Jepang juga memberikan dukungan yang sama untuk Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Hal itu terungkap dalam pertemuan para Menteri Kebudayaan Asia dan Eropa pada Asia-Europa Culture Minister Meeting (ASEM) ke-4 pada 9-10 September 2010 di Poznan, Polandia. Pertemuan itu dihadiri oleh delegasi 40 negara di Asia dan Eropa.

“Jepang akan ikut dalam upaya konservasi di Tana Toraja, khususnya terkait dengan rumah adat di daerah itu. Pemerintah Jepang juga menyatakan minatnya dalam konservasi rumah adat di Nias, Sumatera Utara,” ujar Hubertur Sadirin, salah satu anggota delegasi Indonesia dalam pertemuan dengan delegasi pemerintah Jepang di Poznan, Sabtu, (11/9).

Seperti dikutip dari Kompas.com, delegasi Indonesia, selain Sadirin, adalah staf ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat, Direktur Peninggalan Purbakala Junus Satrio Atmodjo. Sedangkan delegasi Jepang diwakili, di antaranya, oleh Seiichi Kondo dan Koji Kitayama dari Departemen Hubungan Kebudayaan Pemerintah Jepang.

Sadirin menambahkan, dukungan Jepang tersebut sangat dibutuhkan mengingat negara itu memiliki banyak ahli dan data yang kuat terkait konservasi. Dukungan pemerintah Jepang itu, kata dia, merupakan bagian dari kerjasama proyek konservasi antara Jepang dan Indonesia yang telah dimulai pada 1998. Selain kedua daerah itu, kerjasama konservasi juga di antaranya dalam konservasi istana tua Sumbawa di Nusa Tenggara Barat yang telah dimulai pada 2006.

Sebelumnya, pada 6 Oktober 2009, Unesco telah menominasikan rumah adat di Desa Bawömataluo (Bawömataluo Site) menjadi nominasi warisan dunia dengan memasukkannya dalam daftar tentatif (tentative list). Perkampungan tradisional tersebut merupakan salah satu dari 27 situs budaya di Indonesia yang telah diajukan menjadi warisan dunia sejak 1995.

khusus pada 2009, Bawömataluo masuk tentative list bersama empat situs budaya lainnya. Yaitu, situs candi Muara Takus (Jambi), situs candi Muarajambi, situs gua prasejarah di Maros (Pangkep), rumah ada tradisional Tana Toraja dan situs Trowulan, bekas ibukota kerajaan Majapahit. (Etis Nehe, dari berbagai sumber)

Sumber: Kompas.com, www.unesco.org


Daftar Nominasi Warisan Dunia dari Indonesia

1. Banda Islands (07/02/2005)
2. Banten Ancient City (19/10/1995)
3. Bawomataluo Site (06/10/2009)
4. Belgica Fort (19/10/1995)
5. Besakih (19/10/1995)
6. Betung Kerihun National Park (Transborder Rainforest Heritage of Borneo) (02/02/2004)
7. Bunaken National Park (07/02/2005)
8. Cultural Landscape of Bali Province (18/01/2007)
9. Derawan Islands (07/02/2005)
10. Elephant Cave (19/10/1995)
11. Great Mosque of Demak (19/10/1995)
12. Gunongan Historical Park (19/10/1995)
13. Muara Takus Compound Site (06/10/2009)
14. Muarajambi Temple Compound (06/10/2009)
15. Ngada traditional house and megalithic complex (19/10/1995)
16. Penataran Hindu Temple Complex (19/10/1995)
17. Prehistoric Cave Sites in Maros-Pangkep (06/10/2009)
18. Pulau Penyengat Palace Complex (19/10/1995)
19. Raja Ampat Islands (07/02/2005)
20. Ratu Boko Temple Complex (19/10/1995)
21. Sukuh Hindu Temple (19/10/1995)
22. Taka Bonerate National Park (07/02/2005)
23. Tana Toraja Traditional Settlement (06/10/2009)
24. Trowulan – Former Capital City of Majapahit Kingdom (06/10/2009)
25. Wakatobi National Park (07/02/2005)
26. Waruga Burial Complex (19/10/1995)
27. Yogyakarta Palace Complex (19/10/1995)

4 Responses to “Jepang Dukung Situs Bawömataluo Jadi Nominasi Warisan Dunia”

  1. 1
    Agus Paterson Sarumaha Says:

    Sungguh sangat banyak situs-situs peninggalan budaya di indonesia yang terabaikan begitu saja, kita sebagai generasi penerus, seringkali mengabaikan sejarah, sehingga merasa kehilangan jatidiri sesungguhnya sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi. Hal ini nampak terlihat dalam artefak, situs peninggalan-peninggalan yang ada, masih berdiri kokoh seutuhnya. Celakanya lagi, orang-orang luar bahkan lebih peduli melestarikannya dari pada bangsa sendiri, betapa tidak, ambil satu contoh, sebagai pelajaran yang sangat berharga yaitu Candi Borobudur, dulu Candi Borobudur merupakan satu dari antara tujuh keajaiban dunia, sekarang sudah tidak lagi, oleh karena kurangnya apresiasi dari bangsa kita sendiri, akibatnya, situs tersebut kalah dalam voting. Akhir-akhir ini, Pulau Komodo sedang diusulkan menjadi salah satu tujuh keajaiban dunia, nampaknya masih sangat jauh dalam urusan voting, pada hal kita merupakan negara yang termasuk salah satu dari enam negara penduduk terbesar di dunia, ironis bukan? Khusus untuk desa Bawomataluo, salah satu desa yang masih sarat kita jumpai nuansa budaya, kehidupan nenek moyang masih kental, terlihat dari kesehariannya dalam menapaki kehidupan, sudah saatnya kita masyarakat Nias sendiri yang lebih dulu mendukungnya, memelihara, serta melestarikannya melalui kapasitas masing-masing, dengan memberikan contoh kepada orang lain, bahwa kita mampu menjaga, memelihara serta melestarikannya, niscaya masyarakat indonesia, bahkan dunia akan mendukungnya. Saya beberapa kali dapat berkunjung di desa Bawomataluo, memang atmosfirnya terasa sekali nuansa kehidupan nenek moyang, namun tatakelola desa tersebut nampaknya kurang di manage, sehingga bagi wisatawan yang berkunjung sedikit banyak terganggu kenyamanannya oleh sebab keberadaan penjualan souvenir-souvenir, postcard, agaknya sedikit memaksa untuk dibelikan. Pada hal saya sendiri berasal dari desa Siwalawa, nenek saya juga berasal dari desa Bawomataluwo. Saya sendiri tak menyalahkan mereka seperti itu, ini karena urusan perut, mereka tanpa menyadarinya, disinilah perlu pembinaan terhadap mereka, karena tanpa harus menjajakan langsung pun yakni dengan menggelar saja souvenir-souvenir tersebut dengan tertib, saya yakin para wisatawan akan sangat berminat untuk membelinya, sehingga mereka yang datang berkunjung kesana akan nyaman, tidak cepat-cepat untuk bergegas pulang, karena bagi para wisatawan budaya, ini yang mereka dambakan, dapat bersosialisasi terhadap kehidupan masyarakat Nias khususnya desa Bawomataluwo, bila perlu masyarakatnya di bina untuk menerima homestay disana, belajar budaya nias, tarian maena, tradisi memakan siri, banyak yang dapat ditawarkan guna meyediakan keinginan wisatawan. melalui dinas BudPar Nisel sudah seyogianya menyisihkan anggarannya, membina masyarakat yang ada disekitarnya melalui program pembagunan karakter, guna menjamin keamanan para wisatawan yang berkunjung. Apabila ini terwujud bukan tidak mungkin desa ini akan menyumbang devisa bagi kabupaten Nisel sendiri, dan yang paling terasa dampaknya adalah ekonomi masyarakat bisa semakin baik. Promosi dari mulut-kemulut juga merupakan senjata yang sangat ampuh dalam membesarkan daerah tujuan wisata, dan juga bisa sebagai senjata pemusna, apabila kita tak bisa menjamin rasa aman bagi wisatawan yang berkunjung. Untuk itu, Desa Bawomataluwo, sudah selayaknya pemda Nisel, melalui dinas BudPar, sudah seharusnya menempatkan skala prioritas anggarannya dalam membangun sustainable program (program pariwisata yang berkelanjutan) melalui partisipatory masyarakat Bawomatalowo sendiri guna menjaga seutuhnya warisan budaya yang nantinya tak lekang dimakan zaman. Warga Dunia, senantiasa akan dapat berkunjung dan belajar akan warisan budaya nenek moyang Nias.

    Salam,

    Agus Paterson Sarumaha

  2. 2
    Agus Paterson Sarumaha Says:

    Sungguh sangat banyak situs-situs peninggalan budaya di indonesia yang terabaikan begitu saja, kita sebagai generasi penerus, seringkali mengabaikan sejarah, sehingga merasa kehilangan jatidiri sesungguhnya sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi. Hal ini nampak terlihat dalam artefak, situs peninggalan-peninggalan yang ada, masih berdiri kokoh seutuhnya. Celakanya lagi, orang-orang luar bahkan lebih peduli melestarikannya dari pada bangsa sendiri, betapa tidak, ambil satu contoh, sebagai pelajaran yang sangat berharga yaitu Candi Borobudur, dulu Candi Borobudur merupakan satu dari antara tujuh keajaiban dunia, sekarang sudah tidak lagi, oleh karena kurangnya apresiasi dari bangsa kita sendiri, akibatnya, situs tersebut kalah dalam voting. Akhir-akhir ini, Pulau Komodo sedang diusulkan menjadi salah satu tujuh keajaiban dunia, nampaknya masih sangat jauh dalam urusan voting, pada hal kita merupakan negara yang termasuk salah satu dari enam negara penduduk terbesar di dunia, ironis bukan? Khusus untuk desa Bawomataluo, salah satu desa yang masih sarat kita jumpai nuansa budaya, kehidupan nenek moyang masih kental, terlihat dari kesehariannya dalam menapaki kehidupan, sudah saatnya kita masyarakat Nias sendiri yang lebih dulu mendukungnya, memelihara, serta melestarikannya melalui kapasitas kita masing-masing, dengan memberikan contoh kepada orang lain, bahwa kita mampu menjaga, memelihara serta melestarikannya, niscaya masyarakat indonesia, bahkan dunia akan mendukungnya. Saya beberapa kali dapat berkunjung di desa Bawomataluo, memang atmosfirnya terasa sekali nuansa kehidupan nenek moyang, namun tatakelola desa tersebut nampaknya kurang di manage, sehingga bagi wisatawan yang berkunjung sedikit banyak terganggu kenyamanannya oleh sebab keberadaan penjualan souvenir-souvenir, postcard, agaknya sedikit memaksa untuk dibelikan. Pada hal saya sendiri berasal dari desa Siwalawa, nenek saya juga berasal dari desa Bawomataluwo. Saya sendiri tak menyalahkan mereka seperti itu, ini karena urusan perut, mereka tanpa menyadarinya. Disinilah perlu pembinaan terhadap mereka, karena tanpa harus menjajakan langsung pun, yakni dengan menggelar saja souvenir-souvenir tersebut dengan tertib, saya yakin para wisatawan akan sangat berminat untuk membelinya, sehingga mereka yang datang berkunjung kesana akan nyaman, tidak cepat-cepat untuk bergegas pulang. Bagi para wisatawan budaya, ini yang mereka dambakan, dapat bersosialisasi terhadap kehidupan masyarakat Nias, khususnya desa Bawomataluwo. Bila perlu masyarakatnya dibina untuk menerima homestay disana, belajar budaya Nias, tarian maena, tradisi memakan siri, banyak yang dapat ditawarkan guna meyediakan keinginan wisatawan. Melalui dinas BudPar Nisel sudah seyogianya menyisihkan anggarannya, membina masyarakat yang ada disekitarnya melalui program pembangunan karakter, guna menjamin keamanan para wisatawan yang berkunjung. Apabila ini terwujud bukan tidak mungkin desa ini kan memberi devisa bagi kabupaten Nisel sendiri, dan yang paling terasa dampaknya adalah ekonomi masyarakat bisa semakin baik. Promosi dari mulut-kemulut juga merupakan senjata yang sangat ampuh dalam membesarkan daerah tujuan wisata, dan juga bisa sebagai senjata pemusna, apabila kita tak bisa menjamin rasa aman bagi wisatawan yang berkunjung. Untuk itu, Desa Bawomataluwo, sudah selayaknya pemda Nisel melalui dinas BudPar, menempatkan skala prioritas anggarannya dalam membangun sustainable program (program pariwisata yang berkelanjutan) melalui partisipatory masyarakat Bawomatalowo sendiri, guna menjaga seutuhnya warisan budaya yang nantinya tak lekang dimakan zaman. Warga Dunia, senantiasa akan dapat berkunjung dan belajar akan warisan budaya nenek moyang Nias.

    Salam,

    Agus Paterson Sarumaha

  3. 3
    elman sarumaha Says:

    Jepang Dukung Situs Bawömataluo Jadi Nominasi Warisan Dunia
    Saturday, September 11, 2010
    By susuwongi

    POZNAN, POLANDIA – Pemerintah Jepang menyatakan minatnya untuk mendukung peninggalan budaya berupa rumah adat tradisional di Desa Bawömataluo (Bawömataluo site), menjadi nominasi warisan dunia (world heritage). Selain dukungan terhadap daerah kunjungan wisata andalan di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara tersebut, Jepang juga memberikan dukungan yang sama untuk Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

    Hal itu terungkap dalam pertemuan para Menteri Kebudayaan Asia dan Eropa pada Asia-Europa Culture Minister Meeting (ASEM) ke-4 pada 9-10 September 2010 di Poznan, Polandia. Pertemuan itu dihadiri oleh delegasi 40 negara di Asia dan Eropa.

    “Jepang akan ikut dalam upaya konservasi di Tana Toraja, khususnya terkait dengan rumah adat di daerah itu. Pemerintah Jepang juga menyatakan minatnya dalam konservasi rumah adat di Nias, Sumatera Utara,” ujar Hubertur Sadirin, salah satu anggota delegasi Indonesia dalam pertemuan dengan delegasi pemerintah Jepang di Poznan, Sabtu, (11/9).

    Seperti dikutip dari Kompas.com, delegasi Indonesia, selain Sadirin, adalah staf ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat, Direktur Peninggalan Purbakala Junus Satrio Atmodjo. Sedangkan delegasi Jepang diwakili, di antaranya, oleh Seiichi Kondo dan Koji Kitayama dari Departemen Hubungan Kebudayaan Pemerintah Jepang.

    Sadirin menambahkan, dukungan Jepang tersebut sangat dibutuhkan mengingat negara itu memiliki banyak ahli dan data yang kuat terkait konservasi. Dukungan pemerintah Jepang itu, kata dia, merupakan bagian dari kerjasama proyek konservasi antara Jepang dan Indonesia yang telah dimulai pada 1998. Selain kedua daerah itu, kerjasama konservasi juga di antaranya dalam konservasi istana tua Sumbawa di Nusa Tenggara Barat yang telah dimulai pada 2006.

    Sebelumnya, pada 6 Oktober 2009, Unesco telah menominasikan rumah adat di Desa Bawömataluo (Bawömataluo Site) menjadi nominasi warisan dunia dengan memasukkannya dalam daftar tentatif (tentative list). Perkampungan tradisional tersebut merupakan salah satu dari 27 situs budaya di Indonesia yang telah diajukan menjadi warisan dunia sejak 1995.

    khusus pada 2009, Bawömataluo masuk tentative list bersama empat situs budaya lainnya. Yaitu, situs candi Muara Takus (Jambi), situs candi Muarajambi, situs gua prasejarah di Maros (Pangkep), rumah ada tradisional Tana Toraja dan situs Trowulan, bekas ibukota kerajaan Majapahit. (Etis Nehe, dari berbagai sumber)

    Sumber: Kompas.com, http://www.unesco.org

  4. 4
    Agusdamai Sarumaha/Anggota DPRD Nias Selatan Says:

    Nias Selatan yang terkenal dengan budayanya dan situs peninggalan nenek moyang seperti rumah adatnya didesa Bawomataluo (Bawomataluo site),pantai sorakenya di Botohilitano,lagundri dan pantai Moale di Lolowau dan air terjunnya dijumali di Desa Siwalawa Kecamatan Fanayama yang perlu dilesatarikan dan dikembangkan kembali menjadi daerah pariwisata manca negara.Pemerintah Daerah Kabupaten Nias Selatan dan DPRD perlu menjadi perhatian khusus yang serius yang sudah cukup lama potensi ini terabaikan bahkan hampir punah akibat orang orang yang tidak mempunyai rasa memmiliki dan moralitas untuk mengembangkan budaya yang tercinta ini.Potensi ini sangatlah berarti bagi masyarakat kepulauan nias sebelum nias dimekarkan menjadi 4 kabupaten dan 1 kotamadya khususnya kabupaten nias selatan. Ini akibat dari mentalitas oknum oknum masyarakat yang tidak cinta akan budaya leluhurnya dan sistim pemerintahan yang belum tertata rapi.Mudah mudahan dengan kepemimpinan Bupati Nias Selatan Bapak Idealisman Dakhi dan Bapak Wakil Bupati Nias Selatan Hukuasa Ndruru potensi ini dapat digali kembali melalui gerakan gerakan sadar wisata,menyusun perda perda tentang keparawisataan,mengembangkan sarana prasarana perhubungan seperti lapangan udara,laut dan membuka jalan jalan yang terisolir menuju daerah daerah parawisata.
    Salam,

    Agusdamai Sarumaha/Anggota DPRD Nisel

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam