Niat besar Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama Cabang Gunung Sitoli, Abdul Majid Chaniago, SE maju sebagai bakal Calon Walikota Gunung Sitoli, Nias mendapat dukungan penuh dari Ketua Tanfidziyah Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Utara H. Ashari Tambunan.

Dalam pembicaraan via telpon dengan penulis, Ashari merasa bangga karena ada niat besar dari anak buahnya untuk ikut terjun dalam pemilihan umum kepala daerah kota Gunung Sitoli untuk yang pertama kalinya. “Tapi tetap saja Pak Majid harus menghitung kekuatan politik dan finansialnya,” ujarnya.

Menurut Ashari, niat pencalonan anak buahnya itu hendaknya disikapi dengan elegant tanpa curiga akan sesuatu hal, karena pada prinsipnya, keberadaan kaum nahdliyin di Indonesia bukan untuk tujuan mendominasi sebuah ajaran, tetapi untuk menghidupkan demokrasi yang lebih sehat.

“Namun, bukan berarti orang diluar NU tidak baik, karena NU menganggap semua orang atau golongan itu baik, maka NU tidak pernah menolak bekerjasama dengan siapa saja, terlebih itu untuk kepentingan rakyat,” tandas Ashari.

Ashari menjelaskan, keberadaan orang NU ditengah-tengah masyarakat dipastikan akan membawa manfaat ketimbang mudhorotnya. Sebab, lanjut pengusaha itu, dibidang agama, NU akan melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada persatuan dalam perbedaan. Dibidang sosial budaya, NU akan bekerja keras untuk kesejahteraan rakyat dengan semangat kebudayaan yang sesuai dengan nilai-nilai ke-Islaman dan kemanusiaan.

Dibidang ekonomi, lanjut Ashari Tambunan, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk mendapatkan hasil pembangunan dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi yang berbasis kerakyatan. Kalau dibidang sosial politik, NU akan menjaga seluruh tumpah darah Indonesia agar tetap bersatu, tentunya juga akan merangkul dan bekerjasama dengan semua golongan. “Almarhum GUs Dur membuktikan itu, NU mampu dihormati dan disegani di seluruh dunia karena sikap toleran-nya yang sangat tinggi,” tandas pengusaha sukses di Medan itu.

Dalam menghadapi pemilu kada nanti, kata Ashari, warga NU yang mau maju dalam percaturan politik itu, dia sangat mendukung dan dia juga yakin bahwa warga NU itu akan mampu bersikap demokratis, elegan dan tidak ekslusif. Warga NU akan terbuka dengan perbedaan karena diyakini dari perbedaan itu akan muncul persamaan yang muaranya kepada persaudaraan. “Orang NU lebih senang bersaudara daripada musuhan,” ujarnya.

Menyinggung minimnya dukungan untuk Abdul Majid, Ashari tidak mempermasalahkan, karena dia yakin sebagai ketua cabang NU Nias, Majid akan mampu bersikap negarawan dalam melihat situasi dan kondisi secara objektif. “Kalau mampu teruskan, kalau tidak hentikan,” tandasnya. Sebagai Ketua NU Wilayah Sumatera Utara, dirinya tidak berhak menghentikan langkah Abdul Majid karena yang tahu akan peta kekuatannya itu dia sendiri. “Saya hanya mendukung sebatas dukungan moral,” kata Ashari.

Pengagum berat almarhun Gus Dur itu juga menghimbau kepada semua khalayak untuk tidak alergi akan keberadaan orang NU yang minoritas di satu wilayah, karena pada dasarnya NU tidak pernah membedakan status, golongan atau agama seseorang. Sikap pluralisme yang diwariskan almarum Gus Dur terbukti mampu mempersatukan ummat semua golongan dan terbukti kuat. “Warga NU sangat menghormati semua manusia terlepas apa agama dia, suku, golongan dan adat istiadatnya dan siap bekerjasama dalam bingkai untuk kepentingan bersama,” tandas Ashari Tambunan. (www.kabarindonesia.com – 21 Juli 2010)

Facebook Comments