JAKARTA – Pemerintah Kerajaan Belanda setiap tahun menyediakan sedikitnya 250 beasiswa bagi masyarakat umum dan pegawai negeri sipil untuk meraih gelar master di negeri tulip itu. Alokasi beasiswa itu belum termasuk kerja sama pendidikan antara universitas-universitas di Belanda dengan kementerian teknis.

“Bila ditambah kerja sama bilateral dan nonbeasiswa, rata-rata 500 orang yang berangkat menempuh studi di Belanda setiap tahun. Tak heran kalau jumlah alumni Belanda saat ini sudah lebih dari 21 ribu orang,” tutur Duta Besar Belanda Nikolaos van Dam di Jakarta kemarin (9/7).

Sejumlah tokoh nasional yang merupakan alumni Belanda antara lain praktisi hukum Adnan Buyung Nasution, Ir Sutami, hingga Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

Nikolaos mengatakan, kedekatan sistem hukum Indonesia dan Belanda membuat bidang hukum masih menjadi tujuan utama mahasiswa Indonesia. “Tidak saja mahasiswa, bahkan Mahkamah Agung Indonesia hingga kini juga belajar reformasi sistem hukum di Belanda,” terang pria yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Selain itu, kemampuan Belanda dalam teknik hidrologi sehingga mampu mengeringkan daratan yang berada di bawah air laut menyebabkan fakultas teknik difavoritkan mahasiswa asal Indonesia.

Namun, bidang studi yang diambil mahasiswa Indonesia saat ini jauh lebih beragam. Mulai sastra, kedokteran, ekonomi, jurnalistik, hukum, teknik, hingga peternakan dan pertanian. “Kalau dulu hanya di enam universitas, sekarang sudah di 16 universitas,” terangnya.

Menurut pakar masalah Timur Tengah dari Universitas Rotterdam ini, salah satu daya tarik mahasiswa untuk belajar ke Belanda adalah peringkat universitas di Belanda rata-rata di kisaran 10-20, jauh di atas peringkat universitas di Australia yang berada di kisaran 80 dunia. Selain itu, biaya kuliah dan biaya hidup bagi mahasiswa nonbeasiswa juga relatif lebih murah.

“Meski biaya kuliah lebih mahal dibandingkan sastra, kuliah kedokteran di Belanda jauh lebih murah dibanding di negara karena Eropa lain karena seluruh mahasiswa mendapat subsidi dari pemerintah,” tutur mantan duta besar Belanda di Libya dan Lebanon tersebut.

Ketua Ikatan Alumni Netherland Theo Lekatompessy menambahkan, minat pelajar untuk menempuh studi di Belanda berubah. Dulu, mahasiswa Indonesia lazim menempuh pendidikan hukum humaniter, ekonomi makro, dan teknik hidrologi di enam universitas top di Belanda, seperti Universitas Rotterdam, Universitas Leiden, dan Univesitas Amsterdam.

“Sekarang, justru hukum ekonomi dan ilmu ekonomi internasional yang menjadi jurusan favorit mahasiswa. Di jurusan itu kan tidak saja diajarkan cara membuat kontrak di perusahaan multinasional tapi juga menangani sengketa dagang hingga pembuatan letter of intent dengan IMF,” papar direktur Humpuss ini. (www.jpnn.com – 10 Junli 2010)

Facebook Comments