Deli Serdang – Mulanya atau beberapa tahun lalu kotoran ternak kaki empat menjadi permasalahan tersendiri bagi kelompok tani Sami Tani yang terletak dusun II Desa Karang Anyer Kecamatan Beringin. Disana ada sekitar ratusan ekor hewan kaki empat milik anggota kelompok tani.

Dalam seharinya, hewan ternak kaki empat menghasilkan kotoran seberat 30 kilogram per ekor di dalam kandang. Tentu limbah kotoran itu membuat pening anggota Sami Tani. Pasalnya, aroma yang dikeluarkan menggangu pernafasan warga sekitar dan jumlah kotorannya yang begitu banyak.

Barulah tahun 1980-an, persoalan kotoran ternak dapat teratasi setelah anggota Koptan (kelompok tani) Sami Tani mendapat pelatihan dari berbagai NGO untuk memanfaatkan kotoran ternak menjadi pupuk organik. “Satu persatu anggota kelompok mendapat pelatihan tentang membuat pupuk organik,” ujar Ketua Koptan Sami Tani Jumadi (43), mengenang.

Pelatihan yang diberikan itu tak menjadi sia-sia. Setelah semua petani terampil dan memahaminya, mereka mulai mengkumpulkan kotoran ternaknya dari kandang untuk diubah menjadi pupuk organik yang bisa menghasilkan uang. Bagaimana tidak, per kilogramnya kotoran ternak tersebut saat ini dihargai Rp100.

Semula kotoran ternak sebagai biang kerok penyebar aroma tak sedap, kini mulai terasa sedap karena bernilai ekonomis. “Warga Dusun II mulai rajin membersihkan kandang ternaknya, bahkan jalan-jalan kampung biasanya banyak berceceran kotoran ternak kini bersih,” tambahnya.
Dalam sebulannya, produksi pupuk organik buatan Koptan Sami Tani menghasilkan sekira 30 ton. Awalnya, pupuk yang cocok untuk semua jenis tanaman itu, diedarkan kepada anggota Koptan.

Namun, karena produksi tanam lahan anggota Koptasubur mengunakan pupuk organik, maka stok pupuk non organik mulai terabaikan. Selanjutnya, langkah petani menjalin kerjasama dengan sejumlah toko alat-alat pertanian untuk menjual pupuk organik olahan mereka. Alhasil, empat bulan sekali Koptan Sami Tani mampu mengirim 30 ton pupuk organik daerah ke Riau tepatnya daerah simpang Uli, SP4. “Disana Gapoktan Transmigrasi petani sawit yang membutuhkan,” terang Jumadi.

Agar mudah mengenali pupuk organik butan Koptan Sami Tani, pada goni plastiknya diberikan merek dengan nama Sami Tani yang namanya sama dengan Koptan Sami Tani. Harga pupuk organiknya per kilogramnya dipatok Rp1.000, tetapi agar mempermudah pembeli, pupuk dijual dalam kemasan karung pelastik dengan ukuran berat 50 Kg dengan harga Rp50 ribu per sak.

Untuk mengetahui kandungan unsurnya dipupuk organik itu dilakukan uji laboratorium oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumut.
Segala unsur yang terkandung didalam pupuk organik diperiksa secara teliti oleh ahli pertanian Sumut. Selain menjual pupuk organik, Koptan juga memproduksi Insektisida Nabati yang terbuat dari air seni hewan ternak. “Keuntungan kami sangat lumayan. Bayangkan, tiap bulan menghasilkan 30 ton pupuk organik, harga per kilonya Rp1.000. Ditambah untung dari air seni hewan,” pungkasnya.

Promosi Sambil Praktek Lapangan

Agar membuat petani tertarik mengunakan pupuk organik buatan Kelompok Tani Sami Tani yang berlokasi di Dusun II Desa Karang Anyer Kecamatan Beringin, Ketua Kelompok Tani Sami Tani, Jumadi langsung mempraktekan tatacara penggunaan pupuk organik berbahan baku kotoran ternak kaki empat itu.

Ia mempraktikkannya di lahan pertanian sekitar 12 rante yang berada di samping rumah dan juga sebagai tempat pengolahan pupuk organik. Jumadi menanam palawija sebagai lahan percontohan pengunaan pupuk organik. “Lahan dengan luas 12 rante sudah matang. Awalnya, lahan itu telah terkontaminasi dengan racun yang dihasilkan pupuk kimia buatan pabrik,” bilangnya.

Dibutuhkan waktu dua tahun untuk menyuburkan kembali lahan pertanian yang semula menggunakan pupuk kimia buatan pabrik. Caranya dengan mengkombinasikan pengunaan pupuk kimia dengan pupuk organik secara berlahan-lahan. Tujuannya, agar kondisi lahan yang semula terbiasa menerima pupuk kimia lambat laun dapat menyesuaikan dengan keberadan pupuk organik.

”Disarankan bagi petani yang hendak beralih ke pupuk organik agar memperhatikan kondisi lahan pertaniannya. Bila pengunaan pupuk organik digunakan secara sporadis akan berakibat fatal,  akan terjadi penuruan produksi tamanan secara sepontan,” ungkapnya.
Sehingga, sambungnya, pemasaran pupuk organik kepada petani tidak dapat dilakukan seperti pupuk kimia umumnya. Seperti kebun percontohan yang ada saat ini, di sana ditanam kacang kedelai yang bisa menghasilkan 1 ton kacang kedelai.  Bahkan demi mempopulerkan pengunaan pupuk organik tersebut tak jarang Jumadi harus melatih kelompok tani disatu daerah. Misalnya, bapak yang memiliki empat orang anak ini pernah dikontrak Dinas Pertanian di salah satu Kabupaten di Kepulauan Nias.

Disana, tugas Jumadi selain mengajari pola pertanian menggunakan pupuk organik juga melatih kelompok tani untuk membuat pupuk organik dari bahan baku kotoran ternak.

Selain itu, Koptan Sami Tani juga kerab menerima pemuda atau kelompok warga yang dibiayai lembaga masyarakat untuk mengikuti pelatihan di kediamannya yang menjadi tempat serta kantor Kelompok Tani Sami Tani.
Jumadi tidak pernah menarik kutipan dari kegiatan pelatihan yang dilakukannya. “Hitung-hitung bentuk promosi pupuk organik buatan Koptan Sami Tani,” ungkapnya.

Bebas Pestisida, Aman Bagi Kesehatan

PENGGUNAAN pupuk organik sampai pemilihan benih tanaman organik akan memberi nilai kesehatan bagi yang mengkomsumsi hasil tanamnya karena tidak mengandung racun.  Sebab, pertanian organik melalui proses yang ramah lingkungan atau organis, maka produk yang dihasilkan tidak mengandung pestisida beracun. “Organis adalah cara hidup yang menghargai keseimbangan dan fungsi makhluk hidup,” terang Ketua Kelompok Tani Sami Tani, Jumadi, ketika ditemui awak koran di rumahnya dusun II Desa Karang Anyer Kecamatan Beringin.

Menurutnya, dalam praktik pertanian organis, lahannya tidak tercemar oleh bahan-bahan sintetis seperti pupuk, pestisida, air tercemar. Mengalami olah tanah yang minimum, bermacam keanekaragaman hayati masih bisa hidup, benih bebas rekayasa genetik.  Pengendalian hama dan penyakit dengan rotasi tanam, mekanis dan selektif.

Bila dibandingkan praktik pertanian konvensional, lahan mengandung unsur kimia sintetis karena menggunakan pupuk kimia atau pabrikan serta pestisida sintetis, mengalami olah tanah yang intensif, pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida kimia, dengan tujuan mematikan, bahkan seringkali salah sasaran. “Petani akan terus tergantung dengan pupuk kimia, akibatnya biaya produksi terus meningkat untuk belanja pupuk,” ungkap Jumadi.

Hasil produk pertanian organik yang mengunakan pupuk organik, diyakini akan menyehatkan tubuh karena tanamannya tidak mengandung racun kimia, tapi justru kadar nutrisi hasil pertanian organik tinggi. Hasil tanamnya pun lebih renyah, manis, bebas residu pestisida serta ramah lingkungan. Sedangkan harga hasil pertanian yang mengunakan pupuk organik tidak kalah bersaing dengan pertanian konvensional. Biasanya harga produk pertanian organik selalu lebih mahal.

(sumutpos)

Facebook Comments