Simpang Empat – Pasca ratusan warga Jorong Giri Maju mendatangi kantor Bupati dan DPRD Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), Sumatra Barat, yang menuntut ketegasan Pemkab setempat dalam meyikapi keberadaan penduduk liar yang dianggap telah merusak kelestarian hutan lindung di kaki Gunung Pasaman Jorong Giri Maju Kenagarian Nagari Koto Baru Kecamatan Luhak Nan Duo akhirnya tim gabungan yang dijanjikan oleh Bupati Syahiran mendatangi lokasi pemukiman liar tersebut.

Tim gabungan yang terdiri atas Dinas Kehutanan, Dinas Catatan Sipil, Kesebangpol Linmas, anggota DPRD, TNI, Polri serta tokoh masyarakat setempat dan dipimpin langsung oleh Darul Chutni, Asisten I Pemkab Pasbar tersebut telah melihat kondisi hutan lindung yang telah digarap secara liar oleh warga Nias tersebut.

“Memang benar telah terjadi penebangan hutan lindung secara liar di kaki Gunung Pasaman dan diperkirakan sekitar 200 Ha hutan lindung di kawasan tersebut telah digarap dan ditanami dengan tumbuhan coklat dan Nilam” ungkap Ir.Nofdinal, Kepala Dinas Kehutanan Pemkab Pasbar.

“Perbuatan mereka ini telah melanggar UU No. 41 tentang kehutanan karena kawasan hutan lindung tersebut tidak boleh ditebang oleh penduduk bahkan dihuni sebagai suatu pemukiman penduduk,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Jorong Giri Maju Hendri Dunan mengatakan hasil tinjauan langsung tim gabungan tersebut telah menghasilkan kesepakatan dengan para warga Nias bahwa mereka diberikan tenggang waktu hingga 28 April 2010 untuk mengosongkan lokasi hutan lindung tersebut.

“Diperkirakan ada sekitar 300 orang telah mendiami hutan lindung tersebut dan apabila hingga batas waktu yang sudah ditentukan maka warga Jorong Giri Maju mengancam akan melakukan tindakan pengosongan secara paksa dan anarkis apabila warga Nias tidak mentaati kesepakatan pengosongan lahan yang telah dibuat,” tegas Hendri dengan nada mengancam.

(indowarta)

Facebook Comments