* Paus akanh memperingati karamnya kapal yang ditumpangi Santu Petrus 1950 tahun lalu.

Paus Benediktus tiba di Malta hari Sabtu (17/4) dalam kunjungan keluar negerinya yang pertama sejak maraknya skandal pelecehan seksual yang dilakukan rohaniwan Katolik.

Tujuan kunjungan Paus ke Malta adalah memperingati karamnya kapal yang ditumpangi Santu Petrus 1950 tahun lalu. Santu Petrus dipandang sebagai misionaris besar pada awal perkembangan agama Kristen.

Paus Benediktus kepada wartawan dalam penerbangan ke Malta mengatakan, Gereja Katolik telah dilukai dosa. Tetapi dia tidak menyebut skandal seks secara langsung.

Paus Benediktus bertemu dengan Presiden Malta George Abela dan muda-mudi Katolik Malta. Berkotbah di depan ribuan umat di Valleta, ibukota Malta, Paus Benediktus mendorong rohaniwan Katolik untuk mempertahankan panggilan mereka yang penuh tantangan dan kepahlawanan itu.

“Malta memberikan kontribusi besar untuk memeprtahankan Kekristenan lewat darat dan lewat laut,” kata Paus dalam sambutannya ketika bertemu dengan Presiden Malta.

“Anda terus memainkan peran dalam debat yang berkelanjutan tentang identitas, kultur dan kebijakan Eropa. Malta telah berkontribusi banyak terhadap berbagai masalah menyangkut toleransi, reprositas, imigrasi, dan isu-isu lain yang krusial terhadap masa depan benua ini,” kata Paus.

Sebelumnya, Abela mengajak rakyat Malta untuk menyambut Paus dengan “antusiasme dan tangan terbuka”, dalam pesannya lewat radia dan televisi.

Dalam kunjungan ini Paus Benediktus mendapat tantangan besar menyampaikan pesannya untuk Malta, khususnya tentang imigrasi. Malta, yang berada di anata Sisilia dan garis pantai utara Afrika menerima sebanyak 3,000 manusia perahu pada tahun 2008, jumlah yang tercatat dalam rekor. Masih ratusan manusia perahu dari Afrika berada dalam penampungan sementara menunggu keputusan atas nasib mereka.

Paus Benediktus telah berkali-kali menghimbau dalam beberapa bulan terakhir untuk menemukan solusi yanga dil dan manusiawi terhadap isu manusia perahu ini.

Tema lain yang mendapat perhatian khusus Paus adalah pelestarian warisan kristiani Eropa.

Malta adalah negara anggota Uni Eropa terkecil dengan jumlah penduduk sekitar 443,000 jiwa.

Malta memiliki 1 imam untuk melayani 490 umat Katolik dibandingkan dengan rata-rata dunia sebesar 1: 2900, menurut statistik Gereja.

Di Malta, aborsi adalah ilegal dan bahkan tidak diperdebatkan; tetapi semakin banyak menginginkan relaksasi terhadap perceraian.

Akan tetapi selama kunjungannya Paus menegaskan kembali sikap tegasnya terhadap perceraian.

“Negara Anda sebaiknya terus mempertahankan keutuhan perkawinan,” katanya.

Kunjungan Paus Benediktus ke Malta merupakan kunjungannya ke 14 ke luar negeri sejak 2005 dan yang pertama tahun ini.

Bagi Malta, kunjungan Paus ini merupakan kunjungan Paus ketiga, setelah Paus Johannes Paulus II ke sana pada tahun 1990 dan 2001. (VOA/AP/maltadiocese.org/brk*)

Facebook Comments