Tiga pulau di Simeulu lenyap setelah gempa 7 April 2010. Pulau Tuanku terangkat lagi.

Puing-puing masih berserakan di sekitar 43 rumah yang roboh. Sebanyak 631 rumah lain temboknya retak. Pemerintah Kabupaten Simeulu, Provinsi Aceh, menaksir kerugian akibat gempa sebesar Rp 52 miliar.

“Kami berharap pemerintah pusat dan provinsi memberikan bantuan,” kata Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Simeulu, Zul Mufti. Termasuk untuk 22 korban yang luka-luka.

Rabu pekan lalu (7 April) pukul 05.15 WIB memang terjadi gempa berkekuatan 7,7 skala Richter (SR). Lokasi gempa di 2.33 Lintang Utara dan 97.02 Bujur Timur atau di bawah laut. Lokasi ini 75 kilometer arah tenggara Kota Sinabang, Pulau Simeulu, tepatnya dekat Kepulauan Banyak.

Tidak hanya korban jiwa dan rusaknya bangunan, gempa juga menenggelamkan Pulau Jejani, Pulau Malelo, dan Pulau Gosong Sianjei di Kepulauan Banyak. Memang ketiga pulau tidak berpenghuni ini telah lama ambles akibat gempa sebelumnya: gempa Aceh, 26 Desember 2004, dan gempa Nias, Maret 2005 (8,7 SR).

Pemerintah kabupaten melaporkan pada beberapa kawasan di sekitar Kota Singkil, terjadi amblesan tanah. Di Desa Kilangan, Kecamatan Singkil, sejumlah rumah ambles sedalam 30-60 sentimeter.

Selain amblesan yang mudah terlihat, gempa ini membuat sejumlah pulau dan wilayah naik ke permukaan. “Menurut perkiraan kasar kami, Pulau Tuanku naik kembali seperti sebelum gempa 2005 karena sumber gempa berada di bawah pulau tersebut,” kata Danny Hilman Natawidjaja, ahli paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Di sisi lain, menurut Danny, Pulau Bale dan Singkil akan lebih turun beberapa puluh sentimeter.

Sumber gempa 7 April berada di bawah Pulau Tuanku. Lokasi ini persis ada di sebelah timur sumber gempa Nias, Maret 2005. Kepulauan Banyak lokasinya di antara Pulau Simelue dan Pulau Nias sebelah timurnya.

Tim Peneliti Gempa LabEarth LIPI–Danny tergabung di dalamnya–dan Tim Prof Kerry Sieh telah memetakan sumber gempa Nias 2005 dan gempa Aceh 2004. Mereka memperkirakan bagian-bagian mana saja yang masih mampu mengeluarkan gempa cukup besar. Termasuk bagian yang sekarang ini pecah mengeluarkan gempa pada 7 April 2010.

Ketika terjadi gempa Nias pada Maret 2005, Pulau Tuanku turun 70 sentimeter sehingga sebagian wilayah Desa Haloban berada di bawah air laut. Pulau Bale ketika itu turun sampai 1 meter sehingga rumah-rumah di pinggir pantai terendam air laut. Kota Singkil juga turun 50-100 sentimeter. “Kami berencana ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan,” kata Danny.

Dia akan meneliti lokasi di sekitar sumber gempa 7 April. Maklum, populasi manusia yang terdekat ke sumber gempa adalah Desa Haloban dan Kecamatan Bale di Pulau Bale. Selain itu, di Sinabang dan Kota Singkil.

Menurut Danny, selain kedekatan dengan sumber gempa, banyaknya kerusakan bergantung pada arah pergerakan retakan gempa. Ini disebut sebagai seismic directivity. Dia tidak tahu saat ini ke mana seismic directivity-nya. Prinsipnya, lokasi yang berada di arah seismic directivity guncangannya akan jauh lebih keras daripada yang sebaliknya. Tapi bisa juga, kata Danny, seismic directivity ini ke segala arah.

Penelitian tentang sumber gempa sangat berguna, kata Danny, karena dapat memprediksi potensi gempa bumi ke depan. Tentunya pengetahuan ini jadi pedoman melakukan mitigasi bencana gempa bumi.

(Koran Tempo – www.korantempo.com – 13 April 2010)

Facebook Comments