MEDAN – Sebanyak enam lembar uang palsu masuk ke Bank Indonesia Medan per hari dalam masa Pilkada Kota Medan. Pada Januari-Maret 2010 penemuan upal yang sudah masuk ke BI sebanyak 255 lembar, dengan nominal uang sebesar Rp14,620 juta.

Pemimpin Bank Indonesia (BI) kantor Regional Sumut dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Gatot Sugiono mengatakan, sepanjang tahun 2009 kurang lebih sebanyak 853 uang lembaran yang terdiri dari pecahan Rp100 ribu, Rp50 ribu, Rp20 ribu hingga Rp5 ribu dinyatakan palsu.

“Temuan uang palsu (upal) berhasil diidentifikasi BI dari uang yang masuk melalui loket dan transaksi pembayaran bank di Sumut,” jelasnya kepada Bisnis di Medan (8/4).

Gatot mengungkapkan, khusus Januari-Maret 2010 penemuan upal yang sudah masuk ke BI sebanyak 255 lembar, dengan nominal uang sebesar Rp14,620 juta, yakni dengan rincian lembaran Rp50 ribu sebanyak 55 lembar, lembaran Rp20 ribu ada 22 lembar, Rp10 ribu ada 1 lembar dan Rp5 ribu ada 4 lembar.

Gatot menambahkan, sehingga, angka 255 lembar tersebut lebih besar (meningkat) dibandingkan temuan pada bulan yang sama tahun 2009. Untuk 2009 (triwulan I) upal yang ditemukan sebanyak 229 lembar.

Kepala Bidang Sistem Pembayaran Kantor Bank Indonesia Medan, Eko Yulianto beberapa bulan lalu untuk tahun 2008 temuan upal di kantor BI sebanyak 531 lembar.

Ia merincikan, bila dilihat dari jumlah per pecahan (dalam lembar), temuan paling banyak adalah pecahan Rp50 ribu sebanyak 232 lembar, diikuti pecahan Rp100 ribu sebanyak 158 lembar, lalu pecahan Rp20 ribu sebanyak 76 lembar, pecahan Rp10 ribu sebanyak 62 lembar, dan pecahan Rp5 ribu sebanyak 3 lembar. Bila dilihat dari sumber penerimaan, temuan terbanyak berdasarkan laporan bank sebanyak 450 lembar, loket pembayaran sebanyak 37 lembar, laporan masyarakat sebanyak 32 lembar, dan hitung ulang sebanyak 12.

Sedangkan temuan Januari-November 2009, temuan paling banyak pecahan Rp50 ribu sebanyak 468 lembar, lalu menyusul pecahan Rp100 ribu sebanyak 221, pecahan Rp20 ribu sebanyak 124, pecahan Rp10 ribu sebanyak 16 lembar, dan pecahan Rp5 ribu sebanyak 23 lembar.

“Tidak ada negara terbebas dari peredaran uang palsu. Dan saya rasa, rata-rata oknum pembuat upal bermotif ekonomi, politik dan coba-coba. Apalagi, menjelalang Pilkada Kota Medan diperkirakan peredaran upal akan mengalami peningkatan dalam jumlah besar,” tambahnya.

(sumatrabisnis, kaskus)

Facebook Comments