Masa pra-paskah dan paskah tahun ini diselimuti oleh awan kabut berupa berita-berita skandal penutupan kasus-kasus pelecehan seksual dalam Gereja Katolik yang dilakukan oleh para imam Katolik dan yang melibatkan para uskup sebagai pelindung yang melakukan penutupan (cover up). Skandal yang menjadi sorotan pers di seluruh dunia itu terjadi di wilayah keuskupan-keuskupan Katolik di Irlandia, Amerika Serikat, Jerman dan Australia.

Hingga kini, kasus-kasus serupa di dunia ketiga, di mana jumlah umat Gereja Katolik semakin meningkat, dan yang oleh berbagai kalangan disebut sebagai masa depan Gereja, belum menjadi sorotan pers dunia. Hal ini tidak berarti kasus atau skandal semacam itu tidak terjadi di dunia ketiga, melainkan faktor budaya, sosial dan ekonomi menjadi penghalang mencuatnya kasus-kasus itu ke permukaan. Kondisi ini seharusnya menjadi kesempatan bagi Gereja di dunia ketiga (termasuk Indonesia) untuk mempersiapkan diri, bukan untuk mempersiapkan cover up, melainkan untuk mulai membersihkan Gereja dari praktek-praktek semacam itu. Gereja dalam hal ini bukanlah terbatas pada hirarkhi, melainkan melibatkan dan terutama menuntut partisipasi aktif anggota Gereja, umat katolik yang memiliki anak, putra atau putri yang melayani Misa Kudus atau yang bekerja di lembaga-lembaga Katolik, yang bersekolah di sekolah-sekolah Katolik, yang mendapat bantuan dari Gereja Katolik baik secara formal atau melalui bantuan informal para imam katolik. Daftar yang disebut di depan sangat rentan terhadap pelecehan karena posisi mereka yang selalu di ‘bawah’ dan karena hingga saat ini – terutama di dunia ketiga – para imam menjadi semacam lambang kesempurnaan, bukan manusia biasa tetapi manusia istimewa: pemberi nasehat, pemberi pertolongan spiritual dan finansial, penjaga moral dan insan surgawi.

Dari berbagai kasus yang mencuat di permukaan, ternyata mereka – para imama Katolik itu – adalah manusia biasa, sama seperti kita orang awam: punya keinginan daging, termasuk hasrat seksual, punya ambisi, punya keinginan-keinginan manusiawi layaknya seorang awam. Bahkan, selain memiliki hasrat seksual layaknya seorang manusia, ada juga di antara mereka yang memiliki karakter psikologis yang menyimpang: menyukai anak-anak sebagai objek pelampiasan hasrat seksual mereka. Singkat kata, meereka sama dengan kita.

Lantas apa yang membedakan kita – orang awam – dari para imam itu ? Mereka bertugas melayani umat Katolik terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas. Dan karena hal-hal spiritual tidak dapat dipisahkan dari yang bersifat jasmaniah (orang yang sedang lapar berat susah mendengar kotbah misalnya), maka mereka juga tidak jarang ikut memberikan layanan sosial dalam bentuk bantuan-bantuan yang tidak terkait langsung dengan hal-hal spiritual. Lewat hirarkhi, Gereja Katolik (dan gereja-gereja lain) memiliki semacam departemen sosial yang bergerak di bidang sosial tadi untuk membangun aspek sosio-ekonomi umatnya. Karena gereja juga memiliki misi menggarami dunia, maka aktivitas sosial tadi tidak hanya ‘merembes’ ke umat Katolik, tetapi juga kepada umat lain seperti dalam kegiatan pendidikan yang dinikmati oleh umat berbagai agama.

Singkat kata, seorang imam Katolik, yang dikenal sebagai Romo, Pater, Ama dan sebutan mulia lain adalah juga manusia – sama seperti kita, belum lagi menjadi makhluk surgawi.

Oleh karenanya umat Katolik berkewajiban turut menjaga agar mereka bisa menjalankan misi pewartaan mereka dengan baik. Kalau kita memiliki anak perempuan atau anak-anak, tak bijaklah apabila kita membiarkan mereka bergayutan dengan para imam kita, atau membiarkan mereka datang mengunjungi para imam di biara di kamar-kamar pribadi, atau di tempat-tempat yang bisa memunculkan kesempatan bermesum. Ingat, para imam kita bukan (atau belum lagi menjadi) manusia surgawi, mereka memiliki hasrat kedagingan juga, sama seperti kita. Bahkan godaan mereka lebih berat dari kita yang awam, karena kaul selibat mereka menuntut mereka untuk menjauhi hubungan dengan kaum lawan jenis seumur hidup.

Di negara-negara maju, sudah ada kesadaran bahwa para imam, terutama imam-imam muda perlu juga memiliki orang-orang tempat mereka bisa curhat. Kepada mereka disediakan tenaga-tenaga profesional atau para konsulen psikologi yang coba menampung dan menyalurkan keluhan-keluhan mereka sebagai manusia untuk meringankan beban atau melepaskan ketegangan psikologis mereka.

***
Untuk mencoba memahami kehidupan pribadi para imam, terutama para imam muda, saya terkadang membayangkan saya adalah seorang imam muda, yang sedang dalam proses memulai karir keimamatan saya: baru keluar dari seminari dengan pengetahuan filasafat, teologi, dan bekal spiritual yang lumayan, dan baru ditahbiskan jadi imam. Penampilan fisik saya tidak kalah dengan bintang-bintang idola remaja saat ini karena gizi yang cukup lumayan dalam biara.

Karena saya salah seorang imam muda yang penuh dengan berbagai bakat, Uskup memberikan saya kesempatan menjalani tahun-tahun awal imamat saya di sebuah gereja di kota yang jumlah umatnya (termasuk muda-mudinya) cukup besar. Saya diberi tugas sebagai pemimpin rohani para mudika (muda-mudi katolik). Itu berarti setiap hari saya berhadapan dengan anak-anak muda yang menarik secara fisik dan butuh penggemblengan dan pengembangan spiritual. Para muda-mudi ini umumnya lugu, dan mereka percaya penuh kepada saya, imam pemimpin rohani mereka. Hal-hal yang barangkali mereka rahasiakan kepada orang tua mereka, dengan mudahnya mereka beberkan kepada saya, entah di ruang konsultasi pastoran atau di ruang pengakuan dosa. Kepercayaan mereka (yang hingga saat ini saya junjung tinggi – sebab ucapan kaul kekal yang saya ucapkan beberapa tahun lalu masih mengiang-ngiang dengan lantang di telinga saya) menimbulkan masalah baru. Mereka (para mudika ini) ini tidak lagi takut-takut lebih dekat secara fisik dengan saya, karena di dalam pikiran mereka saya seperti ayah atau kakak mereka, tempat mereka berkeluh kesah dan juga bisa bermanja-manja tanpa ada terancam oleh bahaya apa pun, termasuk bahaya pelecehan seksual. Maka mereka mulai bergayutan kepada saya, menarik jubah atau mulai menarik tangan saya. Di sinilah debu-debu irasionalitas (istilah lama: jaring setan) itu mulai bekerja ingin menjerat saya dan mereka, anak-anak atau kaum muda di bawah asuhan spiritual saya.

Agar selamat, saya – sebagai seorang imam muda – harus memiliki sistem peringatan dini (early warning system). Begitu gejala-gejala yang diilustrasikan di atas muncul, saya harus langsung mengambil tindakan pencegahan: (1) menjaga jarak, terutama jarak fisik, (2) menutup pintu kamar pribadiku untuk mereka, yang berarti hanya ruang-ruang konsultasi resmi yang boleh mereka masuki (3) secara berterus terang memberikan penjelasan tentang siapa saya dalam hubungan saya dengan mereka, (4) menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa saya tidak bisa dijadikan pacar, tidak bisa diperlakukan seperti para pemuda lain yang bukan imam, (5) sedapat mungkin menghindari bepergian dalam mobil atau bis dengan mereka berdamping-dampingan, dan hal-hal lain yang menurut saya mengundang kabut irasionalitas.

Sistem peringatan dini yang tak jauh berbeda akan saya kembangkan misalnya saja apabila saya, karena tugas yang diberikan Uskup kepada saya, memerlukan sekretaris yang kebetulan seorang wanita.

Saya sadar, peringatan dini seperti ini ini bisa saja membawa konsekuensi ‘buruk’ terhadap saya pribadi: mereka menjauhi saya, dan lari kepada Romo lain. Dan itu menimbulkan kecemburuan saya. Akan tetapi saya harus menyadari, saya adalah seorang imam yang telah bersumpah di hadapan Tuhan Allah, bahwa saya akan setia kepada-Nya untuk selamanya, dan sebagai bagian dari kesetiaan dan penyerahan total itu adalah: menjauhi kenikmatan seksual berhubungan dengan lawan jenis saya dalam sebuah pernikahan atau dalam bentuk lain.

Sejauh saya mengamati dari dekat, hirarkhi Gereja Katolik di Indonesia tak pernah membekali para imam baru (imam muda) ini dengan perbekalan yang cukup untuk menghadapi dunia yang terbuka bagi segala kemungkinan itu. Dan ketika seorang imam muda terjatuh, tidak terlalu sulit baginya untuk memasuki jerat-jerat atau lubang-lubang baru yang semakin menambah keterpurukan spiritualnya secara pribadi dan yang membawa aib kepada Gereja secara keseluruhan.

Romo Mangunwijaya almarhum adalah seorang teladan para imam yang sampai akhir hidupnya (sekurang-kurangnya dari berbagai kesaksian berbagai kalangan tentang kesehariannya) selamat: ia dikenang sebagai seorang imam untuk dan pembela kaum miskin. Apakah Romo Mangun tidak memiliki hasrat seksual ? Beliau adalah juga seorang manusia, memiliki daging dengan segala hasratnya. Namun ia bisa mentransformasikan hasrat-hasrat kedagingannya itu untuk tujuan – tujuan yang lebih mulia: melahirkan karya-karya besar di bidang arsitektur, menjadi kolumnis di surat-surat kabar, menjadi pembicara di berbagai seminar untuk mencerahkan banyak orang, dan menulis novel – beberapa di antara menyinggung seksualitas manusia.

***
Mari kita kembali kepada sikap kita sebagai orang tua dalam usaha kita menjaga dan mendukung para imam kita. Ilustrasi di depan bisa menolong kita, orang tua, untuk bisa memahami bagaimana kehadiran anak-anak dan kaum muda kita dalam lingkungan sosial-spiritual para imam.

Bahwa mereka telah bersumpah setia kepada Sang Penebus untuk tetap selibat (tidak menikah) bukanlah menjadi jaminan bahwa mereka akan bisa selamat dari godaan seksual dalam keseharian mereka. Orang tua yang menyerahkan secara total pembimbingan spiritual anak-anaknya kepada para imam adalah orang tua yang tak bijak dan pantas ikut disalahkan apabila di kemudian hari pelecehan terjadi.

Di pihak lain, para imam Katolik, yang di mata umat Katolik sangat dijunjung tinggi, dihormati, hendaknya bersikap bijak, arif, tulus, jujur, menjunjung tinggi sumpah setianya dalam sepak terjangnya mereka melayani umat, terutama anak-anak muda. Kepura-puraan atau tiadanya ketulusan dalam melayani akan menggiring pelayanan menjadi sebuah tragedi spiritual yang mengerikan, baik bagi imam itu sendiri maupun bagi yang dilayani, dalam hal ini muda-mudi dan anak-anak, dan bagi Gereja secara menyeluruh. Dari berbagai kasus yang mencuat di berbagai belahan dunia, pelecehan oleh para imam membawa berbagai tragedi yang menyedihkan dan mengerikan bagi para korban: rasa hina dan dipermalukangoncangan jiwa sepanjang hayat, hilangnya kepercayaan kepada para pemimpin panutan, hilangnya kepercayaan kepada gereja, hilangnya kepercayaan kepada Tuhan, bahkan bunuh diri.

***
Setiap orang pernah dan bahkan berkali-kali melakukan keputusan yang salah dalam hidup. Hal yang sama berlaku bagi para imam Katolik. Itu berarti, apabila seorang imam yang telah mengucapkan sumpah (kaul kekal), dalam kenyataannya menyadari bahwa pilihan ini merupakan pilihan yang salah, tiada kata terlambat: tinggalkan biara, tanggalkan jubah imamatmu, dan mohon ampun kepada Tuhan Allah ! Allah adalah mahapengasih dan penyayang, hal yang sungguh difahami, diimani dan dihidupi secara spiritual oleh para imam Katolik.

Meninggalkan jabatan imamat setelah menyadari bahwa itu ternyata merupakan pilihan yang salah adalah sebuah keputusan yang tepat dan manusiawi. Banyak insan telah mengambil, mengalami dan menikmati keputusan ini. Mereka hidup dalam suasana damai dengan suara hatinya. Dan mereka tetap dikasihi oleh Allah yang mahapengasih dan penyayang yang mereka khianati itu.

Untuk meminimalkan kasus-kasus pelecehan seksual dalam Gereja, hendaknya para imam memiliki prinsip ini: lebih baik mengkhiati Allah yang mahapengasih itu (dengan segera keluar dari biara dan menanggalkan jubah imamat) daripada mengkhianti anak-anak dan muda-mudi yang dipercayakan para orang tua ke dalam asuhan spiritual mereka.

***
Gencarnya sorotan pers dunia terhadap kasus-kasus yang sebenarnya terjadi telah lama berselang – puluhan tahun sebelumnya dan bukan pada tahun-tahun terakhir – cukup merepotkan hirarkhi Gereja Katolik. Sayangnya, sikap reaktif dan defensif para pejabat Vatican, terutama yang dekat Paus Benediktus, menambah kerepotan itu.

Dari cara media menyorot skandal ini, kita dapat melihat dua tujuan yang berbeda. Yang pertama adalah sorotan yang tulus, genuine, yang bermaksud atau berniat baik, atau sekurang-kurangnya netral: mencoba membersihkan borok-borok kronis ini dari dalam tubuh Gereja tanpa bermaksud menghancurkan reputasi Gereja. Sorotan ini datang dari media Katolik dan juga sebagian media umum yang tetap mempertahankan profesionalisme dalam peliputan dan pemberitaannya.

Yang kedua, adalah media yang memang anti Gereja, anti Vatikan, dan terutama anti Paus Benediktus yang dikenal sebagai benteng utama Gereja menghadapi rongrongan dahsyat terhadap ajaran-ajaran murni Gereja. Dan hal itu terkait dengan berbagai masalah: aborsi, pernikahan sesama jenis, pembatasan kelahiran secara artifisial, gerakan zaman baru dan humanisme universal, relativisme, teologi pembebasan, ateisme dan sebagainya. Paus Benediktus, yang sebelum menjadi paus menduduki posisi utama di Vatikan di bawah paus sebagai Prefektur (Kepala) Kongregasi Doktrin dan Kepercayaan, berpendapat bahwa penyangkalan kebenaran objektif oleh faham relativisme merupakan problem utama abad 21.

Wajar juga kita memprihatinkan merasuknya ajaran-ajaran gerakan zaman baru dalam Gereja, dalam berbagai bentuk. Kita terkadang tidak dapat membedakan lagi apakah seorang imam adalah seorang penyembuh menurut ajaran Yesus atau seorang dukun atau paranormal seperti kita lihat berpraktek di mana-mana. Sikap toleran Gereja Katolik Indonesia terhadap penyembuhan alternatif seperti Reiki, Prana, Yoga dan sebagainya merupakan contoh nyata betapa Gereja sudah tak bisa diharapkan sebagai sumber pencerahan umat. Ketika penyembuhan Reiki dilarang oleh Konferensi Uskup-Uskup Amerika Serikat untuk dipraktekkan dalam institusi-institusi Katolik, seorang imam Katolik Indonesia mencapnya sebagai “Galileo Jilid II”.

Hal-hal di atas telah masuk dalam radar Joseph Ratzinger semenjak menjadi orang kedua hingga menjadi orang pertama di Vatikan. Benediktus juga merupakan Paus yang terang-terangan menganjurkan agar Eropa kembali kepada akar kristianinya.

***

Contoh dari pemelintiran yang datang dari media tipe kedua ini adalah berita Associated Press pada awal bulan ini yang berjudul: Pope’s personal preacher offers defense of pontiff. Paragraf pertama pemberitaan itu berbunyi:

Pope Benedict XVI’s personal preacher is likening accusations against the pope and the church in the sex abuse scandal to “collective violence” suffered by the Jews.

Terjemahan bebas: “Pengkhotbah pribadi Paus Benediktus XVI membandingkan (menyamakan) tuduhan terhadap paus dan gereja dalam skandal pelecehan seksual dengan “kekerasan kolektif” yang diderita orang-orang Yahudi.”

Pelintirannya (yang sangat canggih itu) adalah pernyataan AP bahwa yang membandingkan (menyamakan) itu adalah pengkhotbah pribadi Paus – P. Raneiro Cantalamessa. Yang benar adalah yang terdapat dalam paragraf kedua daripemberitaan itu sebagai berikut:

The Rev. Raniero Cantalamessa said in a Good Friday sermon, with the pope listening to him in St. Peter’s Basilica, that a Jewish friend has said the accusations remind him of the “more shameful aspects of anti-Semitism.”

(P. Raniero Cantalamessa mengatakan pada upacara Jumat Agung, di mana paus juga hadir dan mendengar dalam Basilika St. Petrus, bahwa seorang temannya berbangsa Yahudi mengatakan tuduhan-tuduhan itu mengingatkannya pada “aspek-aspek anti-Semitisme yang lebih memalukan”).

Jadi sebenarnya, perbandingan (penyamaan) itu bukan dilakukan oleh P. Raniero Cantalamessa, melainkan teman Yahudinya.

Bahwa P. Raniero Cantalamessa menyetujui pendapat tersebut tentu saja tak dapat dibantah, kelihatan dari usahanya mengutip surat temannya itu (atas izin yang bersangkutan) yang berbunyi sebagai berikut:

I am following with indignation the violent and concentric attacks against the Church, the Pope and all the faithful by the whole world. The use of stereotypes, the passing from personal responsibility and guilt to a collective guilt remind me of the more shameful aspects of anti-Semitism. Therefore I desire to express to you personally, to the Pope and to the whole Church my solidarity as Jew of dialogue and of all those that in the Jewish world (and there are many) share these sentiments of brotherhood. Our Passover and yours undoubtedly have different elements, but we both live with Messianic hope that surely will reunite us in the love of our common Father. I wish you and all Catholics a Good Easter.”

(Saya mengikuti dengan rasa geram serangan-serangan brutal dan konsentrik dunia terhadap Gereja, Paus dan semua orang beriman. Penggunaan stereotip, usaha mengalihkan tanggung-jawab dan kesalahan pribadi ke kesalahan kolektif mengingatkan saya pada aspek-aspek anti-Semitisme yang lebih memalukan. Karena itu, saya ingin menyampaikan kepada Anda secara pribadi, kepada Paus dan kepada Gereja secara keseluruhan solidaritas saya sebagai seorang Yahudi yang berdialog dan semua mereka yang berada dalam dunia Yahudi (dan banyak dari mereka) memiliki sentimen persaudaraan yang sama ini. Paskah kami dan paskah Anda jelas memiliki unsur-unsur yang berbeda, tetapi kita (kami dan pihak Anda) hidup dengan pengharapan mesianik yang akan menyatukan kita dalam kasih Bapa kita bersama. Selamat Paskah buat Anda dan seluruh umat Katolik).

Pemelintiran fakta itu mudah sekali menyulutkan salah pengertian di tengah-tengah arus informasi yang begitu dahsyat ini, dalam mana kita tidak memiliki cukup waktu lagi menelusuri secara kritis sumber-sumber autentiknya. Benar saja, dalam hitungan jam, reaksi keras yang dapat dilihat di internet datang dari berbagai penjuru, termasuk dari pihak Yahudi.

Teks lengkap versi bahasa Inggris dari khobah indah P. Raniero Cantalamessa dapat dibaca pada tautan ini: http://www.zenit.org/article-28840?l=english.

***
Paus Benediktus merupakan korban hirarkhi Gereja Katolik yang kaku dan tak mau membaca tanda-tanda zaman. Yang kita sebutkan kekakuan bukan dalam hal pemeliharaan ajaran inti Gereja seperti disebutkan di atas. Gereja harus tetap ‘kaku’ (lebih tepat: kukuh) memelihara ajaran-ajaran Yesus Kristus, hal yang sungguh-sungguh terealisasi semasa kepausan Benediktus. Yang bermasalah, dan yang perlu ditinjau ulang adalah hirarkhi itu sendiri.

Pastor Tom Doyle, seorang imam Dominikan Amerika, dalam sebuah wawancara dengan televisi Australia – Special Broadcasting Services (SBS) – www.sbs.co.au – baru-baru ini mengatakan:

Well, what I think is up for scrutiny is the image and the way the papacy has been formed or shaped over the past few centuries. The Church is really supposed to be about Jesus Christ, not about the Pope. And the fact is that, whatever his intentions were, the Pope and the Vatican have been knowledgeable of this incredibly serious, horrendous plague that’s been inflicted on the people of the Catholic Church for a long time, and they’ve done exactly the wrong things – they’ve tried to cover it up and lie about it to save their own skin, to save their own reputation and image, forgetting what is most important. And what is most important is that these children, the victims – many whom are now adults – they are the ones who need to be taken care of. They’re the ones who are important.”

“Menurut saya yang memerlukan pemeriksaan seksama adalah citra dan cara kepausan dibentuk atau dikemas selama beberapa abad terakhir. Gereja kan seharusnya tentang Yesus Kristus, bukan tentang Paus. Dan kenyataannya ialah bahwa apapun niatnya, Paus dan Vatikan mengetahui penyakit yang telah ditimpakan secara serius dan mengerikan kepada umat Gereja Katolik sejak lama, dan mereka (Paus dan Vatikan) telah melakukan hal yang sungguh-sungguh salah: mereka berusaha menutupinya dan berbohong tentangnya untuk menyelamatkan mereka, menyelamatkan reputasi mereka, dengan melupakan hal yang terpenting. Dan yang terpenting adalah anak-anak ini, para korban ini, banyak dari mereka telah menjadi dewasa sekarang – merekalah yang harus diurus terlebih dahulu. Mereka yang harus diutamakan”.

Sebenarnya skandal yang dialami Gereja Katolik bukan unik, bukan hanya terjadi dalam Gereja Katolik. Kekerasan fisik dan seksual dalam rumah tangga, institusi-institusi pendidikan, dan juga dalam institusi-institusi agama-agama lain bukan hal yang baru.

Akan tetapi wajar saja semua pihak menuntut standar moral yang jauh lebih tinggi dari pihak Gereja Katolik yang merupakan institusi keagamaan terbesar di dunia, yang mengklaim diri pewaris dan pemelihara ajaran Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia, yang melalui kebangkitan-Nya mendatangkan pengampunan dan harapan akan kehidupan abadi bagi seluruh umat manusia. (eh)

Facebook Comments