Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Utara menyediakan Rp. 350 juta untuk biaya vasektomi atau Medis Operasi Pria ( MOP). Biaya tersebut sebagai uang pengganti tidak bekerja selama 2 hari kepada akseptor yang mengikuti program vasektomi dari BKKBN, dan juga untuk penggarap atau petugas lapangan.
Salah satu program BKKBN dalam menekan angka kelahiran bayi adalah dengan vasektomi, yaitu pemutusan sambungan/aliran (pasdeperen) sperma yang mengandung benih agar tidak terjadi kehamilan . Pengoperasian itu dengan cara diikat bagian kiri dan kanan , kemudian diputus.
Setiap akseptor yang mengikuti program ini akan mendapatkan Rp. 100.000,- sebagai pengganti biaya tidak bekerja selama 2 (dua) hari agar tidak terjadi infeksi atau luka bekas pada bekas operasi.
Selain akseptor, petugas lapangan atau penggarap juga akan mendapatkan uang pengganti sebesar Rp. 75.000,- . Jumlah akseptor vasektomi terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2008 ada 491 akseptor dari 400 target yang diberikan pusat yang diberikan Pusat. Tahun 2009 meningkat tajam menjadi 1.356 akseptor dari 870 akseptor target yang ditetapkan pusat atau naik 155,86%.
Dan di tahun 2010 ini, hingga Februari ada 173 akseptor dari 2000 target yang diberikan hingga akhir tahun nanti. Untuk menekan angka kelahiran bayi, KB untuk pria sangat membantu. Meskipun secara medis vasektomi adalah kontrasepsi permanen, sehingga tidak bisa membuahi lagi, namun banyak manfaat didapat pria dengan vasektomi ini, Antara lain meningkatklan vitalitas seksual, perkasa / tahan lama, dan libido tinggi, sebab sperma yang mengandung benih kembali lagi kedalam darah yang menimbulkan libido.
Selain itu , KB pria dengan vasektomi ini tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi. Jika menggunakan kondom persentasenya hanya 50-50, maka vasektomi tingkat keberhasilannya mencapai 100%.
Pun demikian bukan berarti pria yang sudah mengikuti vasektomi tidak bisa lagi memiliki anak. “Bisa disambung kembali atau rekenalisasi (penyambungan kembali. Namun BKKBN tidak ada program itu. Kalau Operasi itu di Rumah Sakit dam biayanya sangat mahal bisa mencapai Rp. 10 jutaan”

(Posmetro Medan)

Facebook Comments