E. Halawa*

Seperti apa sebenarnya sosok Anand Krishna dalam pandangan seorang muridnya ? Dalam situs Anand Krisna (www.anandkrishna.org) ada sebuah tulisan berjudul Kenapa Kami Mencintaimu Bapak? tulisan seorang pengikut meditasi Anand Krishna untuk coba memaparkan alasan mengapa ia begitu “mencintai bapak”. Mari kita simak:

Kenapa kami mencintai bapak ?, jawabanya karena memang bapak pantas untuk dicintai. Cinta di hati kami tumbuh karena kasihMu bapak. Buat yang belum merasakan, atau mungkin lebih tepatnya tidak mau membuka diri untuk kasihMu itu tentunya akan sulit untuk merasakan apa yang kami rasakan.”

Perhatikan penggunaan kata ganti kepunyaan yang diawali dengan huruf besar “M” dalam kata “kasihMu”. Setelah membaca seluruh tulisan itu dengan seksama, dapat juga disimpulkan bahwa penulisan itu konsisten, bukan kesilafan. Ada sebanyak 7 kata “kasihMu” yang ditulis seperti itu (dengan huruf kapital M). Dan ada sebanyak 2 kata “kasihNya” yang ditulis dengan huruf capital N.

Kita asumsikan, si penulis tentulah seorang yang cukup terpelajar, bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya lewat tulisan, dan tentu memahami sedikit banyak tata bahasa Indonesia. Sejauh saya tahu, penggunaan kata kepunyaan dengan awalan huruf besar hanyalah untuk Tuhan. Lantas mengapa sang murid menulis “kasihMu” dan bukan “kasihmu” ?

Setidaknya ada dua alasan. Pertama, memang, orang-orang yang telah terisap daya-daya irasional itu tidak bisa berpikir jernih kritis lagi. (Baca ciri 6 dalam artikel: Ciri-ciri Pemilik Daya Irasional).

Mereka begitu terpukau dengan sang idola sehingga menganggapnya sebagai seorang dewa. Orang-orang yang berada di bawah pengaruh kharisma irasional itu tidak mampu lagi membedakan kepantasan dalam mengekspresikan perasaannya. Mereka begitu terpukau, tergila-gila dengan sang idolanya.

Hal kedua, memang, berdasarkan ajaran Anand Krishna, Anand sendiri adalah Tuhan.

Stones are God, so are hills and high mountains; grass on the ground, and tall trees, all are God; Kaba, Kashi, Sarnath and Jerusalem, all belong to God; You are God, they are God, i too am God; We are born in God to die in God, this very life is God! I bow to all directions, my Qibla is everywhere, for God is everywhere, within the tiniest amoeba, unseen atom, to plants, animals, humans, demons and angels…. — Anand Krishna” (dari artikel: Anand Krishna dan Irasionalitas – yang mengutip dari situs Aumkar – www.aumkar.org).

Tulisan sang murid ini selanjutnya mengisahkan bagaimana pengalaman sang murid akan kasih sang guru yang bisa “menghirup semua marah” mereka.

Namun izinkan saya untuk sedikit bercerita, mungkin dengan cerita ini, mereka yang menutup hatinya dapat membuka diri, hanya membuka. Cukup dengan membuka maka kasihMu akan berhembus dan menyejukan relung batin yang selama ini penuh dengan kegelisahan dan amarah.

Bagi yang pernah datang ke acara opeh house Anand Ashram tentunya tidak asing mengikuti meditasi katarsis, dimana peserta meditasi di minta untuk mengeluarkan amarahnya dengan berteriak sekeras-kerasnya selama 10 menit.

Dari sisi perserta meditasi yang dihasilkan adalah ketenangan, ya jelas, selama ini memendam amarah, ngga tahu mau dilempar kemana tiba-tiba mendapatkan penyaluran, tentunya kepuasan dan kelegaan yang di dapatkan.

Namun coba lihat dari sisi bapak, betapa luar bisanya beliau, kasih beliau. Pernahkan anda menghadapi orang marah yang berteriak kepada anda dengan sepenuh energi marahnya, apa rasanya ?. Saya punya seorang teman yang bapaknya galak sekali, kalau marah satu rt bisa mendegar suaranya menggelegar. Teman saya itu langsung lemas, ingin menangis tetapi ditahan olehnya, karena jika ia menagis bapaknya makin marah, kian menggila amarahnya, tidak memukul, tetapi suaranya keras.

Bayangkan itu baru satu orang, bapak Anand Krishna dalam acara Open House di bombardir oleh teriakan amarah lebih dari 50 orang dengan volume amarah yang berbeda-beda. Tidak hanya dari teriakan saja, dari energi amarah itu, semua itu menghajar bapak. Kekuatan kasihNya itulah yang menghirup semua marah kami.”

Sang murid terkagum-kagum karena sang guru mampu “mengirup semua amarah” mereka yang jumlahnya lebih dari 50 orang itu. Di sini kelihatan jelas, sang murid sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Ia terkagum-kagum karena Anand Krisha – sang guru mampu “mengirup” amarah yang dibuat-buat itu …, amarah yang diminta sendiri oleh sang guru dalam rangka meditasi. (Baca kembali kalimat sang murid di depan: Bagi yang pernah datang ke acara opeh house Anand Ashram tentunya tidak asing mengikuti meditasi katarsis, dimana peserta meditasi di minta untuk mengeluarkan amarahnya dengan berteriak sekeras-kerasnya selama 10 menit”)

Perhatikan juga kalimat berikut yang masih terus mengesankan kekaguman, kekaguman yang sudah di luar batas kewajaran:

Tidak hanya amrah, bapak juga menghirup kesedihan kami. Tangis kami di hirup olehnya, pernahkan anda mendengar orang yang sedang bersedih dan nangis di hadapan anda?, apa perasaan anda ?, anda akan ikut menjadi ‘biru’, dan ke ‘biruan’ itu pun di hirup oleh bapak, diolahnya dan di kembalikan kepada kami semua menjadi suka cinta, menjadi kegembiraan.”

Sang murid tak memberikan penjelasan bagaimana sang guru “menghirup” kesedihan dan tangis mereka.

Pembaca yang berminat membaca tulisan lengkapnya, silahkan ke situs Anand Krishna – www.anandkrishna.org.

* Pemerhati masalah-masalah (i)rasionalitas.

Facebook Comments