PEKANBARU: Untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara antarkabupaten dan provinsi di Pulau Sumatra, PT Riau Airlines (RAL) membutuhkan sedikitnya 50 pesawat.

Penambahan armada sangat dibutuhkan mengingat perusahaan penerbangan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau tersebut baru memiliki tujuh pesawat. Direktur Utama PT RAL Teguh Triyanto kepada Media Indonesia, Senin (22/2), menjelaskan penambahan pesawat juga untuk memenuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1999 tentang Penerbangan.

Dalam UU tersebut diatur sebuah maskapai penerbangan wajib memiliki minimal 10 pesawat. Sementara PT RAL baru memiliki 7 unit pesawat, masing-masing 5 jenis Fokker 50 dan 2 jenis jet Avro RJ-100. Tiga unit dari lima pesawat tipe Fokker 50 milik PT RAL dan selebihnya dengan sistim sewa.

“Target tahun 2010 minimal kita menambah 10 armada. Semuanya tipe jet dengan kapasitas 30 hingga 35 seat. Karena sasaran PT RAL adalah penerbangan jarak pendek di Pulau Sumatra,” kata Teguh. Penerbangan regular yang saat ini telah dilakukan PT RAL, seperti rute Medan – Nias, Lubuk Linggau – Jakarta, Tanjung Karang – Palembang, Batam – Palembang, dan Batam – Padang. Dalam waktu dekat, RAL akan membuka rute Pekanbaru – Jambi.

Saat pertemuan Gubernur se-Sumatra awal tahun 2010, disepakati PT RAL sebagai maskapai yang akan menjadi transportasi udara antar daerah di Pulau Sumatra. Dalam kesepakatan tersebut, terbuka peluang bagi kabupaten dan provinsi di Pulau Andalas untuk menanamkan sahamnya di PT RAL.

“Saat ini, Kabupaten Nias termasuk pemilik saham terbesar di luar daerah-daerah di Provinsi Riau,” kata Teguh. Namun, Teguh tidak menjelaskan secara terbuka nilai saham yang dimiliki Kabupaten Nias. Riau Airlines adalah maskapai penerbangan daerah yang berpusat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Didirikan pada tahun 2002 dengan tujuan untuk membuka dan memajukan trasportasi udara di Riau. (Media Indonesia – www.mediaindonesia.com – 22 Februari 2010)

Facebook Comments