E. Halawa**

Pengantar: Daya irasional sangat provokatif. Ketika membaca tulisan ini barangkali Anda menjadi antipati secara berlebihan kepada saya (penulis) karena Anda tidak dapat menerima paparan saya pada artikel ini. Atau sebaliknya, Anda sangat simpatik kepada paparan saya dan menjadi sangat antipati pada Anand Krishna. Sikap ektrim itu (antipati yang berlebihan) hendaknya disadari bisa dan sering terjadi ketika pembahasan tentang irasionalitas sedang berlangsung. Diharapkan para pembaca menyadari akan kemungkinan ini. Kesadaran itu sendiri melemahkan kekuatan provokasi daya-daya irasional yang saya maksud dalam tulisan ini. Intinya: baca artikel ini dengan tenang, jangan terprovokasi. Bila Anda berhasil membaca artikel ini tanpa luapan emosi yang berlebihan, Anda selangkah lebih maju dalam berhadapan dengan irasionalitas.

Beberapa hari belakangan ini beberapa surat kabar memberitakan kasus pelecehan seksual yang konon dilakukan oleh tokoh spiritual Anand Krishna (www. anandkrishna.org). Tulisan ini tidak mengupas tentang benar tidaknya tuduhan orang-orang (mantan murid sang guru) yang merasa menjadi korban dan bantahan dari sang guru sendiri. Biarlah hukum yang mengungkap kebenaran kasus-kasus itu.

Tulisan ini bermaksud menyoroti sisi irasional Anand Krishna yang mengaku sebagai guru spiritual, yang menjadi guru dari para murid (pengikut) yang berasal dari berbagai agama dan kepercayaan. Tulisan ini – kalau dibaca dengan baik dan penuh kesungguhan – bisa membantu para pengikut dan calon-calon pengikut sang guru mampu memposisikan diri mereka secara rasional ketika berhadapan dengan sang guru.

Irasionalitas dalam tulisan ini tiada lain adalah hilangnya, tiadanya atau tidak digunakannya akal sehat. Irasionalitas adalah lawan dari rasionalitas yang tiada lain adalah penggunaan akal sehat. Kedua istilah ini dibahas secara rinci dalam tulisan berjudul: Rasionalitas vs. Irasionalitas [1] dalam situs ini (www.niasonline.net).

Siapa Anand Krishna ?
Bagi yang rajin ke toko-toko buku, nama Anand Krishna tentu tidak asing lagi. Tulisan atau ajaran-ajarannya mengisi berbagai buku hasil karyanya, yang berpusat pada spiritualitas, agama, perdamaian, harmoni, meditasi, cinta, kasih, dan seks. Dari situs www. anandkrishna.org kita bisa membaca sejumlah judul buku Anand Krishna antara lain: Rhythm of Love Peace and Harmony, Maranatha: Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan Bersama Anthony de Mello (ini ditarik sendiri dari peredaran oleh penerbitnya, Gramedia Pustaka Utama). Harian Kompas dan harian berbahasa Inggris The Jakarta Post sudah memuat banyak tulisannya seputar topik-topik yang disebut di atas.

Wikipedia edisi bahasa Indonesia [2] menyebut Anand Krishna sebagai “seorang spiritualis lintas agama, nasionalis, humanis, budayawan dan penulis …” Menurut Wikipedia, sudah 114 judul buku telah dihasilkan oleh Anand Krishna. Sumber yang sama juga menyebutkan bahwa sejak Agustus 2009 Anand Krishna menjadi salah seorang “Ambassador” Indonesia pada forum Parliament of the World’s Religions.

Bagi para tokoh politik, agama, seniman, dan lain-lain Anand Krishna adalah … silahkan melihat komentar mereka di situs www. anandkrishna.org.

Bagi saya, penulis artikel ini, Anand Krishna tiada lain seorang yang memiliki daya-daya irasional yang kuat yang berhasil menohok akal sehat para pengikutnya. Akibatnya, para pengikutnya menjadi begitu fanatis, mengaminkan segala nasehat, pendapat dan ajaran-ajarannya, dan tidak bisa kritis lagi terhadap sang guru.

Beberapa Ajaran Inti Anand Krishna

Ajaran 1: Semua agama membawa kita ke tujuan yang sama
Salah satu inti ajaran Anand Krsihna adalah menisbikan (merelatifkan) kebenaran. Tentang agama, inilah pernyataan Anand Krishna dalam buku berjudul: Jalan Kesempurnaan Melalui KAMASUTRA (Edisi perluasan) – Kenikmatan Seks, Kesejukan Cinta dan Kesadaran Kasih –yang selanjutnya disingkat KAMASUTRA dalam tulisan ini [3]:

Pada tataran yang paling dalam – orang sering menyebutnya mistik atau spiritualitas dan mempertentangkannya dengan sisi institusional dari agama – setiap agama akan membawa kita ke tujuan yang sama. Karena itu pada tataran spiritualitas atau mistik itu, semua orang bersatu.”

Jadi Anand Krishna mengajarkan bahwa semua agama sama, setiap agama akan membawa kita ke tujuan yang sama.

Dalam tulisannya berjudul Agamamu, Agamaku, Agama-Agama Kita [4], Anand Krishna menulis:

Ya, Ayat-Ayat Allah bertebaran dimana-mana, Ada yang dirangkum dan ditulis, dicetak…. Kita menyebutnya Al-Qur’an, Bacaan Mulia. Ada yang menyebutnya Bhagavad Gita, Nyanyian Mulia. Ada pula yang menyebutnya Injil, Berita Mulia. Semuanya mulia.”

Jadi bagi Anand Krishna, semua kitab-kitab suci itu adalah “Ayat-Ayat Allah”.

Ajaran 2: I am God, Saya adalah Tuhan
Kutipan berikut [5] adalah salah satu inti ajaran Anand Krishna yang jelas-jelas merupakan ajaran New Age Movement [6, 7]:

Stones are God, so are hills and high mountains; grass on the ground, and tall trees, all are God; Kaba, Kashi, Sarnath and Jerusalem, all belong to God; You are God, they are God, i too am God; We are born in God to die in God, this very life is God! I bow to all directions, my Qibla is everywhere, for God is everywhere, within the tiniest amoeba, unseen atom, to plants, animals, humans, demons and angels….Anand Krishna

(Terjemahan bebas dari saya: Batu-batu adalah Tuhan, demikian juga bukit-bukit dan gunung-gunung tinggi; rumput di tanah, dan pohon-pohon tinggi, semuanya adalah Tuhan; Kaba, Kashi, Sarnath dan Yerusalem semua milik Tuhan; Anda adalah Tuhan, mereka adalah Tuhan, saya juga adalah Tuhan; kita lahir dalam Tuhan untuk mati dalam Tuhan, hidup ini adalah Tuhan! Aku menunduk ke segala arah, Kiblatku di mana-mana, karena Tuhan di mana-mana, dalam amoeba yang sangat halus, atom yang tak terlihat, terhadap tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, roh jahat dan malaikat …. – Anand Krisna. – penebalan pada beberapa kata dilakukan oleh penulis artikel ini untuk memancing perhatian khusus pembaca)

Ajaran 3: Kenikmatan Duniawi syarat mencapai kesadaran spiritual
Pada halaman 39 buku KAMASUTRA [3], Anand Krishna menulis:

Seseorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seseorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi.”

Pada halaman 40 buku Kamasutra [3], Anand Krishna menulis:
Apabila, Anda memaksa diri – cepat-cepat menjadi tokoh agama, tokoh spiritual, padahal Anda belum pernah merasakan kenikmatan duniawi – apa yang terjadi ? Kita sering mendengar kisah-kisah ajaib para tokoh kita. Ada yang menghamili istri orang.”

Ajaran 4: Pelajari semua ajaran berbagai agama dan keyakinan, dan campur-adukkan
Pada halaman 43 buku KAMASUTRA [3], Anand Krishna menulis:
Mari kita mempelajari khazanah karya sastra dunia dengan sebanding, dengan hati, pikiran dan jiwa yang terbuka, tanpa prasangka. Di padepokan kami, kami mempelajari Kamasutra, Sutasoma, Tao The King, Injil dan 99 Nama Allah, dan masih banyak literature yang lain.”

Pada halaman depan Situs Secret Garden [8], tertulis:
Aspek lain dalam kehidupan manusia pun diwujudkan melalui berbagai sosok; Dewi Saraswati melambangkan ilmu pengetahuan, Dewi Sri sebagai simbol kemakmuran khas Nusantara (di India disebut Laksmi) diwujudkan membawa padi yang merupakan simbol agrikultur, Bouraq melambangkan perkembangan spiritual, Bunda Maria atau Sang Mawar Mistik melambangkan Devosi atau pengabdian, serta Dewi Kwan Im yang membawa pot dan tanaman melambangkan kesehatan holistik.“ (Catatan: Penebalan pada beberapa kata dari penulis artikel ini).

Dalam situs itu terlihat gambar patung Maria (dengan teks di bagian bawah: Maria – Devotion) berderet dengat gambar Shiva Lingga (Teks: Shiva Lingga Absolute) dan Kuan Yin (Compassion).

Pada halaman 3-4 buku Sandi Sutasoma: Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular [9], Anand Krishna menulis:
Kemerdekaan kita – termasuk tapi tidak terbatas pada “kekuatan” para founding fathers untuk memproklamasikannya atas nama rakyat dan bangsa Indonesia – datang dari jiwa Sang Mpu. Setelah itu selesailah tugas Sang Mpu, jiwanya berkeping-keping menjadi milik seluruh bangsa. Sayang kepingan-kepingan yang sangat berharga itu telah kita sia-siakan. Kita seolah meludahi wajah Sang Mpu, dan penghinaan semacam itu tidak diterima oleh Sang Keberadaan, oleh Alam Semesta, oleh Kekuatan Tunggal yang disebut Allah oleh Muslimin dan Muslimat, disebut Bapa di Surga oleh umat Kristiani, disebut Adi Buddha oleh para penganut ajaran Buddha, disebut Sang Hyang Widhi oleh orang Hindu, dan Gusti, Tuanku, Tuhan bagi warga kepulauan Nusantara.”

Saya tak sempat membaca berbagai buku atau tulisan Anand Krishna; tetapi ke empat ajaran inti yang saya daftarkan di atas kiranya cukup menjadi petunjuk bagi para pembaca untuk melihat ke mana Anand Krishna mengarahkan para pengikutnya. Intinya, ajaran Anand Krishna tiada lain adalah ajaran New Age atau New Age Movement (NAM) atau Gerakan Zaman Baru. Khusus bagi umat Kristiani yang ingin mengetahui lebih banyak tentang NAM dapat membaca buku karangan Herlianto berjudul Humanisme dan Gerakan Zaman Baru [6] dan dokumen Vatikan tentang New Age berjudul “Jesus Christ The Bearer of The Water of Life – A Christian reflection on the “New Age” [7]. Dokumen ini mengupas dengan rinci ajaran New Age.

Christ Consciousness dan Penihilan Yesus
Anand Krishna terkadang menyamar sebagai seorang pemberi renungan berlatarbelakang kristiani. Baca misalnya tulisan berjudul Memikul Salib Bersama Yesus [10] versi Bahasa Indonesia atau versi bahasa Inggris berjudul: Christmas Meditation – Carrying The Cross With Jesus [11]. Sebagaimana tulisan-tulisannya yang lain, tulisan ini pun sungguh memukau pembacanya, ditulis dengan sangat indah dan mengalir tenang. Gaya renungan Anand Krishna tidak kalah dengan gaya renungan seorang hamba Tuhan yang memiliki talenta khusus dalam bidang terkait.

Akan tetapi dengan sedikit kritis dan menggunakan akal sehat kita bisa melihat ‘kelihaian’ Anand Krishna untuk menyemaikan ajaran New Age Movement dalam tulisannnya ini. Istilah “Christ Consciousness” adalah istilah yang berasal dari New Age Movement. Bagi yang berminat memahami makna dari istilah ini, silahkan mencari dengan Google dengan kata kunci: “Christ Consciousness”.

Perhatikan juga kalimat-kalimat berikut dalam artikel itu [10]:
Yesus tidak kemana-mana. Yesus ada di sini. Ia tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. (penebalan kata oleh penulis) Ia selalu ada. Kadang kita melihat-Nya dengan jelas, kadang tidak. Bukan karena Ia menghilang, tetapi mata batin kita berkabut.”

Kutipan di atas jelas-jelas “menihilkan” Yesus: “Ia tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati”.

Berbagai Kontradiksi atau Ketidakkonsistenan
Kontradiksi dan ketidakkonsistenan merupakan ciri khas irasionalitas. Dalam beberapa kutipan berikut kita bisa melihat kontradiksi dalam tulisan-tulisan Anand Krishna.

Di depan telah dikatakan bahwa pada suatu kesempatan ia mengatakan bahwa Yesus “tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati”. Tetapi pada tulisan berjudul It’s Never Too Late to Meditate on Jesus [12] ia menulis:

What is the meaning of the birth of Jesus? Every second many babies are born; many people die, too. Christmases come and go. How different is Jesus’ birthday from the birthday of our siblings and friends? Christmas is much more festive than any other celebration – so what?” (Terjemahan: Apa arti kelahiran Yesus? Setiap detik lahir banyak anak; banyak orang mati juga. Hari Natal jauh lebih meriah dari pesta-pesta lain – jadi ?)

***
Anand Krishna tidak jarang menyerang para tokoh agama yang terkadang menggunakan agama untuk memperkaya diri atau meraih kekuasaan, kewibawaan dan kemuliaan. Tidak dapat dimungkiri, tuduhan itu ada benarnya. Tidak jarang kita melihat tokoh-tokoh Gereja misalnya memanfaatkan (atau lebih parah lagi: menyalah-gunakan) jabatannya untuk meraih berbagai keuntungan yang disebutkan di atas.

Akan tetapi Anand Krishna sendiri memanfaatkan kemasyhurannya untuk meraih keuntungan dengan mendirikan berbagai tempat-tempat Inner Beauty and Holistic Care dan semacamnya di berbagai tempat dan mengaitkan tempat-tempat itu dengan ajaran-ajarannya ? Anand Krishna tidak boleh berdalih, ‘aku kan bukan tokoh agama, cuman tokoh spiritual’, sebab komunitas yang menjadi kelompok pengikut Anand Krishna tidak berbeda dengan komunitas agama-agama: mereka mendapat ajaran-ajaran dan arahan-arahan dan gemblengan ‘spiritual’.

***
Anand Krishna ingin dikenal sebagai sosok humanis yang toleran, tokoh lintas agama. Akan tetapi layakkah ia mendapat gelar-gelar mulia itu apabila ia sendiri tidak toleran terhadap pandangan yang berseberangan dengannya? Dalam buku KAMASUTRA [3] Anand Krisna tidak segan-segan mencap orang-orang yang tidak sependapat dengannya sebagai “tolol”:

Sayangnya, dalam zaman ini pun, masih ada orang-orang tolol yang beranggapan bahwa hanya agama mereka yang benar. Apabila Tuhan menginginkannya, dalam sekejap saja agama-agama yang beraneka ragam ini bisa lenyap, tinggal satu agama saja, yaitu agama yang Anda anuti, yang Anda anggap paling baik.”

Dengan sikap ekstrim ini (menganggap tolol orang-orang yang tidak sefaham dengannya), masihkah kita bisa menganggap Anand Krishna seorang tokoh spiritual yang toleran, humanis, tokoh lintas agama ? Masihkah pantas Anand Krishna menjadi “Ambassador” Indonesia pada forum Parliament of the World’s Religions seperti disebutkan di depan ?

Ciri-ciri irasionalitas Anand Krishna
Dalam artikel berjudul Ciri-Ciri Pemilik Daya Irasional [13] dalam situs ini, saya mencatat 26 ciri-ciri atau tanda-tanda yang melekat pada pemilik daya irasional. Saya mengajak para pembaca budiman yang pernah mengenal dari dekat Anand Krishna atau yang pernah atau sedang menjadi murid padepokan (camp)-nya untuk membaca dengan seksama artikel itu, dan kalau perlu mengkopi artikel itu untuk kemudian membacanya beberapa kali untuk memahami isinya. Setelah itu, para pembaca dipersilahkan mencocokkan ciri-ciri yang disebutkan dalam artikel itu dengan ciri-ciri Anand Krishna. Hasilnya, silahkan anda renungkan sendiri. (Catatan: apabila ada pembaca yang kebetulan pengikut padepokan Anand Krishna, saya menganjurkan untuk memperlihatkan artikel tersebut kepada Sang Guru.)

Tanpa bermaksud mendahului hasil penelitian diam-diam para pembaca yang budiman, beberapa kontradiksi dan ketidak-konsistenan yang saya sebutkan di depan merupakan contoh-contoh irasionalitas. Dapat saya tambahkan, ciri no 26 dalam artikel berjudul Ciri-Ciri Pemilik Daya Irasional [13] sebagai salah satu ciri khas yang dimiliki oleh Anand Krishna. Buku -bukunya yang menyerang secara terang-terangan agama tertentu (contohnya lewat kasus buku Maranatha: Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan Bersama Anthony de Mello yang menyerang Gereja Katolik) merupakan contoh nyata dari ciri ini. Kita boleh mempertanyakan: siapa Anand Krishna sehingga ia bisa lebih faham ajaran Gereja Katolik (atau ajaran agama-agama lain) dari pada para teolog Katolik (atau teolog dari agama-agama yang diserangnya itu) ? (Catatan: Saya tidak pernah membaca buku tersebut, akan tetapi keterangan dari situs www. anandkrishna.org yang memuat berita TEMPO, Edisi 18-24 September 2000 tentang penarikan buku itu cukup menjadi dasar saya untuk mempertanyakan pengetahuan Anand Krishna tentang ajaran Gereja Katolik.)

Menghadapi Irasionalitas
Daya irasional itu ibarat kutup magnit yang menghisap benda-benda lain yang di sekitarnya. Begitu benda-benda itu terisap oleh kekuatan magnit itu, terlalu sulit baginya untuk bisa melepaskan diri lagi dari pengaruh kekuatan kutup itu. Keadaan seperti itulah yang dialami oleh orang-orang yang berada di bawah pengaruh para pemimpin kharismatis. Mereka seakan tak memiliki daya lagi untuk melepaskan diri dari pengaruh dahsyat itu. Kesadaran mereka telah ditawan dan dipasifkan sehingga tak bisa mereka pakai untuk berpikir kritis, mempertanyakan keanehan atau ketidakberesan, memprotes, atau sekedar berpikir logis saja.

Seandainya saja para pengikut Anand Krishna belum terpengaruh oleh daya-daya itu, maka beberapa pertanyaan yang sangat mendasar bisa diajukan kepada diri sendiri atau kepada sang guru: “Mengapa saya belajar agama saya dari Anand Krishna dan tidak kepada ahli agama saya?”, “Mengapa saya harus lebih mempercayai paparan Anand Krishna tentang ajaran agama dari pada paparan teolog, guru agama atau buku-buku pelajaran agama saya?”.

Sebaliknya, mereka menjadi fanatis, emosional, menganggap ajaran-ajaran sang guru mereka sebagai kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat, membelanya habis-habisan bahkan ketika tokoh idola mereka sedang dipertanyakan kredibilitasnya oleh publik.

Contoh nyata adalah berbagai kontroversi dan ketidakkonsistenan yang dipaparkan di depan hampir pasti tak pernah dipertanyakan oleh para pengikut Anand Krishna pada pertemuan-pertemuan massal mereka dengan sang guru.

Harian Kompas terbitan 15 Agustus 2009 memuat sebuah artikel menarik karya Anand Krishna berjudul: Manipulasi Pikiran [14]. Dalam tulisan yang singkat itu Anand Krishna berhasil menjelaskan dengan sangat baik bagaimana pikiran manusia dapat dimanipulasi. Tulisnya tentang manipulasi pikiran:

Ibarat komputer, mind atau ‘gugusan pikiran’ manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya”.

Para pengikut Anand Krishna sebenarnya bisa mulai mencoba kritis dengan mempertanyakan sendiri pada diri mereka: “Apakah pikiran saya tidak pernah atau tidak sedang dimanipulasi oleh Anand Krishna?Ini bukanlah sebuah tuduhan, melainkan salah satu cara atau metode untuk mendapatkan kebenaran. Pertanyaan kritis ini cukup relevan, karena sungguh mencengangkan bahwa para pengikutnya bisa begitu saja menerima berbagai ajaran Anand Krishna seperti yang disebutkan di depan yang jelas-jelas berseberangan, misalnya, dengan ajaran Agama Kristen.

Menghadapi irasionalitas haruslah diawali dengan kesadaran [15] bahwa daya itu sangat provokatif. Karena sangat provokatif, maka daya itu bisa memprovokasi kita untuk tidak bisa berpikir jernih lagi dan justru jatuh terjatuh ke dalam jebakannya. Doa kepada sang Sumber Kebenaran dari hati yang sungguh-sungguh sangat dibutuhkan untuk menjernihkan pikiran dan kesadaran kita. Doa bisa mempertajam kekritisan kita sehingga kita tidak mudah terhisap atau terpukau oleh ajaran-ajaran ‘baru’ (yang sebenarnya sudah lama) yang mencoba mengikis ajaran sejati dari agama kita masing-masing.

Ibarat kegelapan yang tak pernah bisa bertahan di depan sumber cahaya, irasionalitas juga akan menghilang ketika akal sehat digunakan secara optimal. Dengan semakin banyaknya orang yang mempertanyakan (dan lebih baik lagi: menyangsikan) sumber ajaran Anand Krishna, semakin lunturlah kekuatan daya irasional itu, dan semakin ia (Anand Krishna) tak bisa mempengaruhi pikiran begitu banyak orang. Semakin kritis para pengikutnya, semakin kuat mereka berdoa menurut ajaran agama masing-masing, semakin sulit mereka dipengaruhi apalagi dibelenggu oleh daya-daya irasional dari Anand Krishna.

Penutup
Tulisan ini telah berusaha membeberkan inti ajaran tokoh spiritual Anand Krishna yang menurut saya tiada lain adalah sebuah bentuk irasionalitas yang bersumberkan pada ajaran New Age.

Tulisan ini juga mencoba menerapkan hasil-hasil penelitian pribadi penulis tentang gejala irasionalitas. Saya mengajak para pembaca untuk menerapkan ciri-ciri yang saya identifikasi pada artikel Ciri-Ciri Pemilik Daya Irasional [13] terhadap diri Anand Krishna. Melalui pengecekan ciri-ciri itu, dan apabila ternyata kemudian terkonfirmasi, maka langkah selanjutnya adalah menguatkan kesadaran bahwa irasionalitas itu tidak boleh menguasai pikiran manusia, dalam hal ini pikiran para pembaca.

Ia (irasionalitas) harus ditundukkan oleh akal budi, kesadaran. Kesadaran di sini bukan kesadaran kosmis atau kesadaran universal (cosmic / universal consciousness) yang terdapat dalam ajaran New Age dan Anand Krishna. Kesadaran yang saya maksud adalah kesadaran alamiah yang muncul sejak setiap manusia diciptakan, kesadaran yang membedakan kita umat manusia dari makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang lain, kesadaran yang datang dari Sumber Kebenaran, yaitu Tuhan, Tuhan yang bukan saya, bukan Anda, bukan Anand Krishna, melainkan Tuhan Yang Mahatinggi yang mengatasi segala pikiran manusia, yang memelihara makhluk ciptaan-Nya dan memelihara kejernihan akal budi itu.

Rujukan:

  1. E. Halawa, 2007: Rasionalitas vs. Irasionalitas, http://niasonline.net/2007/10/02/rasionalitas-vs-irasionalitas/
  2. Wikipedia: Anand Krishna, http://id.wikipedia.org/wiki/Anand_Krishna – diakses 20 Februari 2010.
  3. Anand Krishna, 2000: Jalan Kesempurnaan Melalui KAMASUTRA – Kenikmatan Seks, Kesejukan Cinta dan Kesadaran Kasih – Edisi perluasan – Penulis tidak memiliki buku ini, tetapi sempat membaca beberapa halaman secara online yang tersedia di: http://books.google.com.au dengan memasukkan kata kunci – “kamasutra anand krishna” pada kotak pencarian.
  4. Anand Krishna, 2007: Agamamu, Agamaku, Agama-Agama Kita, Jurnal Edukasi – Alternatif Wacana Pendidikan, Volume IV, Nomor 1, April 2007 sebagaimana dimuat dalam situs: http://www.aumkar.org/ind/?p=21.
  5. Situs Aumkar: Anand Krishna Writings: http://www.aumkar.org/eng/?cat=20 – diakses 20 Februari 2010.
  6. Herlianto, 1990: Humanisme dan Gerakan Zaman Baru – Yayasan Kalam Hidup. Kutipan buku ini dapat dibaca pada tautan berikut: http://www.reocities.com/thisisreformed/artikel/hmngzb.pdf) – diakses 20 Februari 2010
  7. Pontifical Council For Culture – Pontifical Council For Interreligious Dialogue, 2003: Jesus Christ The Bearer of The Water of Life – A Christian reflection on the “New Age”.
  8. Situs Secret Graden: http://www.akcbali.org/secret/back.htm.
  9. Anand Krishna, Sandi Sutasoma: Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular.
  10. Anand Krishna, (?): Memikul Salib Bersama Yesus – http://www.aumkar.org/ind/?p=251 – diakses 20 Februari 2010.
  11. Anand Krishna, (?): Christmas Meditation – Carrying The Cross With Jesus – (http://www.aumkar.org/eng/?p=243).
  12. Anand Krishna, 2010: It’s Never Too Late to Meditate on Jesus – The Bali Times: http://www.thebalitimes.com/2010/01/08/it’s-never-too-late-to-meditate-on-jesus/ – diakses 20 Februari 2010.
  13. E. Halawa, 2007: Ciri-Ciri Pemilik Daya Irasional – http://niasonline.net/2007/06/27/ciri-ciri-pemilik-daya-irasional/.
  14. Anand Krishna, 2009: Manipulasi Pikiran – http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/08/15/05013318/manipulasi.pikiran.
  15. E. Halawa, 2007: Kesadaran, http://niasonline.net/2007/02/14/kesadaran/

Foto Anand Krishna: www.umkar.org
Foto Cover buku KAMASUTRA: www.books.google.com.au

* Versi PDF dari artikel ini dan artikel-artikel lain tentang (i)rasionalitas dapat dipesan kepada penulis melalui: nias.online@ymail.com.
** Penulis adalah pemerhati masalah-masalah (i)rasionalitas.

Facebook Comments