Cukup menjadi sebuah kejutan bagi kita, orang yang awam dalam bidang linguistik, melihat perubahan bentuk kata dasar wa’õ menjadi kedua kata terakhir yang disebutkan dalam judul artikel ini. Dalam kedua kata terakhir, huruf w dalam kata asli wa’õ menjadi m. Biarlah itu menjadi tugas para ahli bahasa untuk mengulasnya.

Sebagai sebuah kata yang berdiri sendiri (tunggal), wa’õ*), berarti: “katakanlah” atau “bilanglah”. “Wa’õ niwa’õmõ” berarti: katakanlah apa yang ingan engkau katakan. “Waõ-waõ manõ ia ba da’õ, atage (moburune) mbewemõ dania ba õbato” (“Bilang-bilang sajalah di situ, akan berhenti sendiri kalu sudah capek”).

Ada sinonim lain dari atage dalam kalimat di atas: “moburune”. Moburune adalah kata kiasan yang berasal dari kata burune, sejenis pohon yang buahnya kecil-kecil berwarna merah ungu, manis, dan sangat disukai burung-burung. Arti harfiah moburune adalah memiliki warna seperti buah burune: merah-ungu. Jadi, menurut kiasan itu, bibir orang yang banyak cakap menjadi seperti warna buah burune.

Tanda apostrof (‘) di antara wa dan õ berfungsi mengindikasikan bahwa õ akan diucapkan dengan tekanan. Kalau diucapkan ulang dan cepat seperti pada contoh kalimat di atas, tekanan tadi menjadi hilang, sehingga bunyi õ seakan tersambung secara mulus dengan bunyi wa yang mendahuluinya.

Fanguma’õ tentulah berasal dari kata wa’õ dan memiliki sekurang-kurangnya dua arti. Yang pertama adalah ‘cara mengatakan / menyampaikan / mengungkapkan’. Hewisa wanguma’õ khõnia turia da’a? Dalam hal ini fanguma’õ searti juga dengan fama’ema, sehingga kalimat ini bisa menjadi: Hewisa wama’ema khõnia turia da’a? (bagaimana cara menyampaikan berita ini kepadanya). Barangkali berita yang disampaikan bersifat duka, atau hal lain yang membuat si penerima akan mengalami keterkejutan. Maka haruslah dipikirkan cara menyampaikan (“fanguma’õ”).

Ba wanguma’õ …. !” Kalimat singkat ini sering kita dengar keluar dari mulut seseorang yang sedang kesal, sinis atau cemburu terhadap orang lain.

Ba wanguma’õ ….!” … agak sulit menerjemahkan kalimat ini tanpa memberikan ilustrasi yang memadai. Seseorang bisa kesal, sinis atau cemburu karena seseorang misalnya berlagak atau bertindak ‘berlebihan’ menurut pandangan yang kesal itu.Mungkin seseorang itu memakai pakaian yang ‘berlebihan’ menurut si empunya sinis, kesal atau kecemburuan.

“Biar dibilang hebat …” kurang lebih arti dari kata “Ba wanguma’õ …!” Ungkapan yang lain yang searti adalah: “Enaõ lawa’õ …!“.

Ha ba wanguma’õ da’õ” atau “Ha wõ lala wanguma’õ da’õ”, adalah ucapan untuk menjelaskan bahwa yang diungkapkan itu tidak harus terwujud sepenuhnya dalam kenyataan. Seringkali dalam pembicaraan adat, para tokoh adat menyampaikan ketentuan-ketentuan adat zaman dulu yang kalau direalisasikan akan sangat memberatkan. Akan tetapi ketentuan-ketentuan adat itu memang harus disampaikan; implementasinya tentu saja disesuaikan dengan situasi. “Ha ba wanguma’õ da’õ” = “Ha wõ lala wanguma’õ da’õ”. Itu hanya di atas kertas, itu tidak harus terlaksana semua, tapi memang perlu diungkapkan atau dinyatakan.

Ato zangumanguma’õ” searti dengan “Ato zanofunofu” …. yang berarti banyak yang menanyakan, menaksir, berminat membeli, ingin tahu lebih banyak dan seterusnya.

Ato zangumanguma’õ / zanofunofu akhida” … artinya banyak (pemuda) yang menaksir atau tertarik kepada adik kita perempuan.

Ato zangumanguma’õ / zanofunofu omo/tanõ da’õ” … artinya banyak orang yang beminat membeli rumah/tanah itu. (e-halawa)

*) Menurut cara penulisan lama (seperti dalam buku-buku tua berbahasa Nias), huruf w dalam kata di atas ditulis w (dengan tanda tilda). Lihat artikel: Karakter “W-w” dan “Ŵ-ŵ” Dalam Li Niha.

Facebook Comments