Masih Ada yang Lebih Kejam dari Ibu Tiri

Saturday, January 9, 2010
By nias

KOMPAS.com — Berawal dari pertengkaran di dalam keluarga, tiga anak kehilangan nyawa di tangan ibunya sendiri, Siati Nduru (30). Sang ibu sebenarnya ingin menghabisi lima dari enam anaknya saat mereka tertidur. Tiga anak yang selamat itu kini berada di tempat terpisah.

Salah satu anak yang selamat itu, Ferida Nduru (7), Sabtu (9/1/2010) ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Santa Elizabeth, Medan. Jumat malam tadi, tim dokter mengoperasi anak perempuan ini di bagian telinga mendekati leher, bahu, dan ibu jarinya. Dokter mengamputasi ibu jari kanannya karena lukanya sangat parah saat menangkis sabetan parang ibunya.

Ferida selamat dalam peristiwa berdarah di rumahnya sendiri pada dini hari 26 Desember 2009 lalu. Ferida datang ke RS Elizabeth didampingi ayahnya, Talizanolo Nduru (45), yang sering berkedip mata dengan pandangan kosong. Sejak datang Unit Gawat Darurat (UGD) RS Elizabeth, Ferida lebih banyak diam.

Perawatan di rumah sakit ini dilakukan inisiatif Suster Clara Duha dari Kesusteran Laverna Gunungsitoli bersama aktivis Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Sumatera Utara. Kedua pihak ini mengupayakan perawatan korban penganiayaan itu tanpa dana pemerintah.

Didampingi Suster Clara, Talizanolo Nduru menceritakan awal peristiwa tragis ini. Talizanolo merupakan Sintua Gereja Pante Kosta, yang juga Kepala Jemaat Gereja Desa Fatodano, Kecamatan Ulugao, Kabupaten Nias. Menjelang perayaan Natal, dia terlalu sibuk mendampingi tugas pendeta. Puncak kesibukan itu terjadi pada 24-25 Desember 2009.

Seusai perayaan Natal, Talizanolo melihat lima dari enam anaknya terluka di dalam rumah. Dia menanyakan kepada istrinya apa yang telah terjadi. Pada awalnya, sang ibu mengatakan, ada perampok masuk ke rumahnya. Kemudian Talizanolo memanggil kepala desa setempat untuk melaporkan kejadian itu. Begitu ditanya oleh kepala desa, istrinya mengaku, “Bukan orang lain, saya sendiri pelakunya.” Pengakuan itu disampaikan tanpa ekspresi rasa bersalah.

Talizanolo pun pasrah dalam tangis pedih. Pria kurus ini menyerahkan semua kejadian ini kepada Tuhan. “Jika dipanggil Tuhan saya serahkan. Namun, sebagai manusia biasa saya sangat sedih,” katanya dalam bahasa Nias yang kemudian diterjemahkan oleh Suster Clara. Dia bahkan tidak mendendam dengan istrinya. Kalaupun istrinya ingin kembali, dia akan menerima dan merajut kembali biduk keluarga yang terkoyak darah.

Pasangan Talizanolo dan Siati mempunyai enam anak, yaitu Ferina Nduru (10), Fonaha Nduru (8), Ferida Nduru (7), Ferius Nduru (3), Foloo Nduru (5), dan Kafina Nduru (1). Mereka yang tewas di tangan Siati yaitu Ferina, Fonaha, dan Ferius. Anaknya yang paling kecil bernama Kafina kini berada di Kesusteran Laverna Gunungsitoli. Sementara Foloo menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Gunungsitoli.

Kepala Pusat Layanan Informasi dan Pengaduan Anak (Puspa) PKPA Azmiati Zuliah menduga peristiwa ini terjadi karena stres keluarga. Tekanan psikologi ini semakin parah tatkala menjelang peristiwa terjadi pertengkaran di dalam keluarga. Pertengkaran itu terjadi antara Talizanolo dan Siati yang kemudian ditiru oleh anak-anaknya saat ayahnya pergi.
Anak-anak mengejek ibunya gila, katanya. Kata-kata ini yang kemudian menghilangkan akal sehat sang ibu. Sang ibu kandung membacok buah hatinya secara bergiliran dan kekejaman pun berlangsung. (KOMPAS.com – 9 Januari 2009)

2 Responses to “Masih Ada yang Lebih Kejam dari Ibu Tiri”

  1. 1
    Misran Lubis Says:

    PELAKU PEMBUNUHAN DIDUGA KORBAN KDRT

    Tidak bermaksud membuat pembenaran atas apa yang telah dilakukan Ibu kandung terhadap anaknya. PKPA yang sejak awal kejadian ikut melakukan evakuasi korban ke rumah sakit melihat banyak keanehan mengapa siati tega membunuh anaknya sendiri. Kami melakukan analisis dan penelusuran sekilas tentang kehidupan Siati Nduru (Pelaku). Disaat sebagain orang menghujat, menyudutkan bahkan mengutuk dengan segala macam kata-kata yang membuat Siati tidak bisa melakukan pembelaan apa-apa, tapi jauh didalam perjalanan hidup Siati penuh kepahitan. “Peristiwa Tragis” yang terjadi malam 26 Desmber 2009 adalah puncak kesabaran seorang Istri dari Talizanolo yang sehari-hari mengabdi sebagai Sintua Gereja Pante Kosta. Siati mengalami tekanan psikologis dan kekerasan dalam rumah tangga yang menyebabkan ia menjadi stres. Siati telah ditinggalkan kedua orang tuanya sejak kanak-kanak dan selanjutnya ia menumpang hidup sekaligus bekerja tanpa kenal lelah bersama pamannya. meski belum diketahui usia berapa pastinya siati menikah namun dapat di perkirakan ia menikah diusia muda sekitar 15-16 tahun. Siati sudah 8 kali melahirkan (2 meninggal dan 6 hidup), walau akhirnya 4 anaknya meninggal ditangannya sendiri, hingga tersisa 2 anak yang selamat dari sabetan parang ditanganya. Siati menuturkan cerita kepada PKPA:
    – sejak kecil dia sering dimarahi da dipukul oleh pamannya
    – setelah menikah dan uang jujuran sudah diterima pamannya, dia tidak pernah lagi bertemu sampai sampai sekarang.
    – Suaminya sering main pukul dan marah-marah dirumah, kadang pulang kerumah sdang mabuk.
    – Suami sudah sering bilang mau meninggalkan siati dan anak-anak mau dibawanya. kata-kata kasar seperti orang gila, bodoh dan macam-macam sering ia terima dan saat ia bersama anak-anak. ucapan itu ditirukan anak-anak, makanya siati kadang kesal dengan anak-anak juga yang mengatai ia bodoh dan gila.
    – Siati sangat sayang dengan anak-anaknya, tapi ia tidak tahan dengan perlakukan suaminya. Pada saat natal, suaminya sibuk dan tidak peduli sama-sekali dengan siati dan anak-anak dirumah. katanya pelayanan gereja tapi siati melihat sendiri ia diwarung minum tuak.

    Mungkin masih banyak cerita pahit yang dialami siati, dan masih panjang perjalanan pahit yang akan dilalui siati, proses hukum akan menjadi cerita pahit berikutnya. Hukum bisa saja mengancam siati dengan pidana mati tapi siapa yang mau peduli dengan cerita siati..cap “Pembunuh dan perempuan Sadis” sudah terlanjur terstigma di masyarakat.

    Salam Kemanusiaan

  2. 2
    syamsul rizki Says:

    kasihan memang ibu siati, tanpa rasa pembelaan, memang ibu siati ini merasa sangat terbebani dengan gunjingan dari suaminya dan anak2nya. apalagi perilaku kekerasan dan ancaman dari suaminya yang membuat dia semakin drop. walau itu bukan cara yang terbaik. semoga ibu siati sadar dengan apa yang ia perbuat, suaminya dan anak terus mendukung dan mencintainya, dan semoga ini mjd pelajaran bagi kita agar tidak menyudutkan orang lain dengan kata2 hinaan.YA’AHOWU

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

January 2010
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031