Buku ini, sebagaimana terlihat dari judulnya, mengisahkan masuknya dan berkembangnya agama Kristen, khususnya Protestan, dan lebih khusus lagi Banua Niha Keriso Protestant (BNKP) di Nias. Redaksi Nias Online memiliki Cetakan ketiga (2007) sedangkan Cetakan I dan II, menurut pengantar buku itu, masing-masing dikeluarkan pada tahun 1971 dan 1987.

Perjumpaan Tuan Denninger dengan orang-orang Nias di Padang dan kedatangannya di Nias pada 27 September 1965 mengawali berbagai kisah turia somuso dõdõ yang ditulis dalam buku ini. Kisah lain yang menarik mencakup perkembangan kelompok-kelompok kristen di berbagai daerah di Nias, kisah fangesa dõdõ di Nias,  berbagai sinode yang diselenggarakan BNKP dan riwayat hidup singkat para Ephorus BNKP.

Menyingnggung tentang kisah fangesa (pertobatan) yang terjadi pada periode awal masuknya agama kristen di Nias, buku ini membedakannya atas dua periode: (1) 1916 – 1940, dan (2) 1942 – ‘sekarang’. Fangesa pada periode pertama adalah fangesa yang benar, sementara yang pada periode kedua adalah fangesa yang sesat. Kisah berikut yang ditulis apda halaman 85 buku itu patut menjadi catatan bagi kita semua, yang masih menyaksikan bentuk-bentuk fangesa semacam itu hingga kini.

“Tedou wa’elungu amuata wangesa, me tobali famalua hokha mboto (famarõga). No owulo ira, ba lalau sekola satulõ sohalõwõ (Sinenge ma Satua Niha Keriso) fanunõ, fangandrõ, ba famotokhi taroma li Lowalangi, fanofunofu ba fangasiwai. Na no aefa da’õ ba lalau khõra zinunõ wangesa soya sibai hõ’õhõ’õ; ba lafeta danga; ba legalega mboto molau li bõ’õ; ba gotalua zanunõ ba so sa’ae zidõgõ boto, ba molau li bõ’õ ba musindro ba manaoka; ba ha musindro samõsa, ba ato zolo’õ ira matua ba ira alawe ba lõ tarongo li niha, ba dõzõdõzõ gahe. No lafaõga mbagi ba no la fatahõ danga ba dõtõ’ara ba no lafaogõfaogõ gahe ma’adua, ba satõ tezaumba mbota misa. Lahundragõ manõ zi so fõnara. Na lõ laba’aba’a niha gotalua, ba fa’obi manõ ira ndra matua ndra alawe. Ba ba wa lõ la’ila zi sõkhi, ba asese manõ tehoi nukha ndra alawe (hulõ zowõhõ) ba awena la’olohulohuni tufo ira alawe bõ’õ, andrõ abõlõ wangisõ ba gotaluara, me asese manõ la’ila nõsi nawõra (hal. 85)

Terjemahan bebas: “Bertambahlah kesesatan laku pertobatan, karena menjadi alat pengumbar nafsu. Mereka berkumpul, para Sinenge atau Satua Niha Keriso melaksanakan acara liturgi yang benar: bernyanyi, berdoa, penelaahan alkitab, tanya jawab dan penutup liturgi. Sesudah itu para jemaat mulai menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan dengan penuh emosi; bertepuk tangan, dan berlenggang badan sambil berbicara dalam ‘bahasa asing’; di antara mereka yang menyanyi mulai ada yang badannya berguncang, berbicara dalam ‘bahasa asing’, berdiri dan meloncat; dan begitu seseorang berdiri maka disusul oleh laki-laki dan perempuan sehingga menjadi hingar bingar karena bunyi hentakan-hentakan kaki. Kepala mereka menghadap ke atas, tangan mereka dekapkan di dada, kedua kaki lurus dan badan mereka condong ke sana kemari. Mereka menginjak apa saja di depan mereka. Dan kalau tidak dilerai, laki-laki bergesekan badan dengan perempuan. Dan karena sudah tak sadar lagi, ada saja perempuan yang tersibak pakaiannya, dan baru dibetulkan oleh perempuan lain (yang masih sadar). Keadaan ini tentu saja memancing nafsu di antara mereka, karena mereka mudah melihat bagian badan orang di sekelilingnya.

Kisah lain yang sangat menarik adalah laporan pandangan mata T. Hulu (Ephorus BNKP 1965 – 1970) atas pembukaan Rapat Sinode I BNKP pada tanggal hari Minggu 8 November 1936 di Gereja Gunungsitoli. T. Hulu menuturkan dengan sangat detil dan jelas perjalanan pembukaan Sinode I itu. Sebagai Sinode I, sinode ini sangat berarti bagi sejarah perjalanan BNKP selanjutnya. Lepas dari aspek-aspek lain, yang ingin dikedepankan di sini ialah bahwa produk sampingan karya kaum misionaris Kristen Protestan (asal Jermah) adalah membantu mengembangkan bakat musik yang dimiliki oleh Ono Niha. Dari tuturan T. Hulu dalam buku ini, pada tahun 1930an telah terbentuk kelompok musik Gereja yang cukup baik saat itu, baik kelompok musik vokal (paduan suara) maupun instrumental (musik tiup – torofe).  Beberapa lagu-lagu agung yang tersebut dalam penuturan T. Hulu masih dibawakan di gereja-gereja Nias hingga akhir tahun 1970an.

Buku ini merupakan hasil karya sejumlah tokoh BNKP Nias baik para Pendeta maupun tokoh awam. Kisah-kisah itu dikumpulkan oleh Fd Harefa dan R. Heering dari penuturan F. Mendrõfa, S. Mendrõfa, L. Lase dan B. Laiya. (Kurang jelas, mengapa T. Hulu dan beberapa yang lain tidak disebut pada halaman pertama sebagai kontributor buku itu).

Buku ini ditulis dalam bahasa Nias varian utara yang cukup baik dan bisa menjadi rujukan bagi para peminat Bahasa Nias.

Sayang sekali, buku ini tidak disertai daftar isi dan indeksasi sehingga walau ‘hanya’ setebal 172 pencarian topik-topik cukup merepotkan. Di halaman-halaman terakhir, khususnya halaman yang memuat tabel, rujukan dicantumkan, tetapi daftar rujukan sendiri tidak ada. Buku ini tidak memiliki ilustrasi apa pun dan juga tidak memuat foto-foto para tokoh yang dikisahkan dalamn buku ini. Semoga pihak LPLG BNKP – pencetak dan penyebar buku ini memperhatikan catatan ini pada cetakan berikutnya.

Terlepas dari kekurangan di atas, kita menyampaikan penghargaan kepada LPLG BNKP yang masih tetap giat mencetak buku-buku berbahasa Nias, termasuk buku ini. (e-halawa)

Facebook Comments