Gunungsitoli awalnya merupakan ibukota dari Kabupaten Nias. Dengan keluarnya UU No. 47 Tahun 2008 Gunungsitoli kini berpisah dari pemerintah Kabupaten Nias, ia menjadi salah Kota tingkat dua di bawah Provinsi Sumatera Utara.

Ada enam kecamatan yang menjadi wilayah pemerintahannya yaitu Gunungsitoli Utara, Gunung Sitoli Alo’oa, Gunungsitoli, Gunungsitoli Selatan, Gunungsitoli Barat dan Gunungsitoli Idanoi.

Saat ini pemerintahan Gunugsitoli dipegang oleh Penjabat Walikota, tugas dari Penjabat antara lain melakukan penataan organisasi, melaksanakan tugas-tugas pemerintahan, memfasilitasi terbentuknya DPRD Gunungsitoli dan memfasilitasi pemilihan kepala daerah.

Demikian diungkapkan Penjabat Walikota Gunungsitoli Drs. Martinus Lase, MSP kepada Analisa baru-baru ini. “Saya baru bertugas selama tujuh bulan dan akan mengakhiri tugas sekira bulan Mei 2010,”ujarnya.

Pembenahan
Selama ini, katanya, ia sudah melakukan berbagai pembenahan mulai dari penataan organisasi, memfasilitasi keberadaan DPRD Gunungsitoli dan melaksanakan tugas pemerintahan sebagai perpanjangan tangan tugas pemerintahan dari tingkat satu dan pusat.

Lase melihat, sesungguhnya potensi Gunungsitoli sangat besar, sayang potensi ini ‘didiamkan’ akhirnya tidak berkembang. “Terus terang, selama saya bertugas di sana, saya sering melakukan dialog dengan masyarakat dan melihat seluruh potensi kecamatan yang ada. Saya mencatat ada tiga potensi yang layak untuk dikembangkan,”ujarnya.

Ketiga potensi itu adalah, pertama, sektor pertambangan khususnya tambang batubara.

“Saya melihat ada satu daerah yang memiliki tambang batubara. Sayang potensi ini belum dilirik oleh pemerintahan sebelumnya padahal ini merupakan potensi yang cukup menyakinkan untuk dikembangkan. Melihat potensi ini saya lalu melakukan terobosan-terobosan agar para investor mau menjalin kerjasama dengan pemerintah kota dalam melakukan eksplorasi batubara tersebut.”

Investor
Menurutnya, ada beberapa investor yang sudah melirik, namun mereka menghitung batubara ini hanya bisa bertahan 30 tahun, setelah itu tidak dapat dieksplorasi lagi, sehingga mereka berpikir ulang untuk melakukan kerjasama.

Setelah ia berpikir, kalau diserahkan kepada investor selain batubara akan habis juga alam akan rusak, maka ia berpikir batubara ini untuk kebutuhan lokal saja. Bayangkan, kita hanya membangun power plan, bukan 30 tahun yang bisa diambil manfaatnya tetapi lebih 100 tahun, bahkan ini tidak akan merusak alam.

“Kita bisa menciptakan listrik dengan kekuatan 500 mega watt dari batubara ini. Bayangkan konsumsi lokal listrik seluruh Nias hanya berkisar 20 mega watt, jadi kita masih punya cadangan listrik 480 mega watt,” ujarnya Penjabat Walikota Gunungsitoli ini.

Pria berkacamata ini, kemudian menjelaskan potensi kedua yang dimiliki Gunungsitoli yaitu pertanian ada dua daerah yang masih menjadi lokasi pertanian yaitu Alo’oa dan Idanoi. “Ada ratusan hektare yang ada di dua daerah ini yang saat ini masih menjadi lahan pertanian. Bayangkan saya masyarakat Gunungsitoli mampu memproduksi beras 9000 ton perpanen dan ini dilakukan tiga kali dalam setahun maka bisa menghasilkan swasembada pangan. Masyarakat Gunungsitoli hanya memerlukan 10 ribu ton, sementara sisanya bisa dijual ke daerah lain.

Potensi yang ketiga adalah ikan tuna, Gunungsitoli memiliki laut, di beberapa tempat di kedalaman 3000 meter nelayan bisa menangkap ikan tuna. Jika para nelayan ini dibekali dengan alat-alat yang canggih maka tentu ikan-ikan tuna ini akan menjadi income. “Inilah potensi yang kita patut untuk dikembangkan, selain potensi lainnya seperti pariwisata dan lain-lain,” ujarnya.

Namun potensi ini tidak akan berkembang kalau tidak ada good will dari pemerintah pusat. “Sebagai daerah pemekaran kita memerlukan dukungan semua pihak baik itu pemerintah tingkat satu maupun pusat agar Gunungsitoli mampu berkembang dan menjadi kota yang patut untuk dilirik investor.

Sebagai Penjabat Walikota, ia yakin dan percaya sebenarnya Gunungsitoli khususnya dan Nias pada umumnya adalah daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar, sayang selama ini belum mampu dikembangkan.

“Di sinilah kita berharap Gunungsitoli harus mampu membenahi dirinya menjadi salah satu kota yang bisa berkembang sehingga menjadi daerah tujuan para investor. Jika investor datang maka pasti akan dapat menampung tenaga kerja, sehingga masyarakat Gunungsitoli tidak perlu mencari pekerjaan ke luar daerah,”ujarnya mengakhiri pembicaraan. (Analisa Online, 23 Desember 2009)

Facebook Comments