Malam Budaya Sumut di Belanda

Wednesday, December 9, 2009
By nias

Tanggal 29 November 2009 gedung Omniversum di Den Haag dipenuhi publik. Malam itu grup kesenian dari Sumatra Utara di bawah pimpinan ibu Fatimah Syamsul Arifin, istri gubenur kawasan itu menggelar kehebatan seni budaya daerah.

Hafiz Taadi, koordinator grup kesenian, menjelaskan bahwa rombongan kesenian yang tampil di Den Haag pada malam budaya Sumatra Utara itu berasal dari berbagai kabupaten. Dan latar belakang mereka juga bermacam-macam.

“Ada beberapa tim kita ini yang mahasiswa, pelajar dan ada juga yang sudah bekerja. Ditambah seniman-seniman kota Medan, ” katanya.

Macam ragam
Budaya yang ditampilkan juga tentu saja bermacam ragam. Hafiz mengatakan tiap daerah yang ada di propinsi Sumut mempunyai kekhasan masing-masing.

Tarian-tarian yang dibawakan antara lain adalah Persembahan, Faluaya dari Nias, tari Uis dar Karo dan Sitalasari Haro-Haro dari Simalungun. Tentu saja berbagai lagu di sajikan. Sitogol, Siput Air dan lagu Melayu.’

Menurut Hafiz Taadi, ada hal yang aneh bagi orang Sumatra Utara. Mereka sangat berbeda, tapi bersatu. Perbedaan itu, menurut dia, merupakan kekuatan bagi Sumatra Utara. Hafiz: “Ini sangat plural, sangat heterogen, tapi tidak ada pertikaian apa-apa. Dalam pengertian ini sebuah kekuatan. Itulah Sumatra Utara.”

Serba bisa
Hafiz menambahkan para seniman yang dipimpinnya serba bisa. Maksudnya mereka menguasai semua macam lagu dan tarian dari perbagai daerah di Sumatera Utara. “Menguasai Batak, menguasai Melayu, menguasai Nias dan menguasai beberapa etnis yang lain, ” katanya.

Persiapan untuk bepergian ke luar negeri seperti di Belanda ini hampir mencapai dua bulan, tandas Hafiz.

Tiap minggu, mereka berlatih sampai lima kali. Karena masing-masing anggota punya kegiatan, maka latihannya harus dijadwal sebaik mungkin. Misalnya bagi mahasiswa yang kuliah sore, mereka ikut latihan pagi atau malam. “Pada hari Minggu juga. Biasanya mereka latihan penuh dari pagi sampai sore. Jadi kita kadang-kadang makan dan minum di tempat, ” tambahnya.

Tetap bersemangat
Meskipun bekerja keras, imbuh Hafiz, para senimannya tetap bersemangat. Mereka didorong oleh rasa keinginan besar untuk memperkenalkan budaya Sumatra Utara ke dunia internasional, katanya.

Sebagai pemimpin rombongan kesenian, isteri gubernur Sumut yaitu Fatima Habibi Syamsul Arifin, berharap bukan hanya kesenian Sumut saja yang mau dipromosikan, tapi mungkin juga makanannya.

Fatimah: “Motivasi kita adalah untuk lebih memperkenalkan Sumatra Utara dalam seninya, kebudayaannya, kemudian adat istiadatnya. Mungkin juga makanannya.”

Menurut Putra Sitepu, salah seorang musisi, alat-alat musik yang mereka bawa memang bermacam ragam dan berasal dari berbagai daerah di Sumut. Ada gendang dua dan mongmongan dari Tapsel (Tapanuli Selatan), taganing Toba, gendang Melayu, jimbe dan masih banyak lagi. (Radio Nederland – www.rnw.nl – 8 Desember 2009)

One Response to “Malam Budaya Sumut di Belanda”

  1. 1
    nuel Says:

    kesenian perlu di lestarikan dan di masyarakatkan

Leave a Reply

Kalender Berita

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031