• Kekerasan Seksual Terhadap Anak-Anak Dilakukan Oleh Para Imam

Irlandia, sebuah negara dengan tradisi Katolik yang mengakar, menjadi perhatian internasional akhir-akhir ini berkaitan dengan hasil sebuah laporan yang disebut Laporan Murphy (Murphy Report) yang membongkar praktek-praktek kekerasan seksual terhadap anak-anak oleh para biarawan Katolik.

Laporan Murphy merupakan sebuah hasil penyelidikan publik terhadap skandal kekerasan seksual terhadap anak-anak di Keuskupan Agung Dublin. Menurut Wikipedia, Laporan ini dikeluarkan pada tanggal 26 November 2009. Penyelidikan yang menghasilkan laporan ini diperintahkan oleh Pemerintah Irlandia untuk mencari informasi bagaimana Gereja Katolik menangani berbagai kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh para biarawan Katolik selama kurun waktu 1975 – 2004.

Hasil penyelidikan itu mengungkapkan sisi gelap yang sungguh-sungguh mencoreng wajah Gereja Katolik di Irlandia, khususnya di Keuskupan Agung Dublin. Menurut laporan itu, Keuskupan Dublin berusaha menjaga kerahasiaan aib itu, menutupi skandal, melindungi reputasi Gereja, dan menjaga aset-aset Gereja. Semua masalah lain, termasuk kesejahteraan dan pencarian keadilan bagi anak-anak yang menjadi korban, diabaikan. Gereja juga tidak menerapkan hukum kanon bagi para biarawan pelaku kejahatan seksual itu dan berusahan sedapat mungkin mencegah penerapan hukum negara terhadap kasus-kasus tersebut.

Lebih lanjut Laporan Murphy mengungkapkan bahwa kekerasan seksual itu terjadi di berbagai lokasi: “altar, sakristi, bahkan di tempat tidur anak yang sedang sakit ketika ibu mereka sedang sibuk di dapur”.

Sementara itu sebuah surat terbuka kepada Paus Benediktus dari orang-orang Katolik Irlandia yang tergabung dalam Suara Orang-orang Percaya (the Voice of the Faitful) disampaikan Sabtu 5 Desember 2009. Seperti diberitakan situs Independent.ie, surat itu berisi harapan agar Paus memberantas para imam fedofilia. Surat itu ingin mencari tahu mengapa “begitu banyak uskup membahayakan anak-anak melalui kealpaan mereka menindak tegas para imam predator anak-anak”.

Sementara itu, Ciara Kelly, yang menulis di situs Independent.ie – mengajak orang-orang Katolik Irlandia untuk melalukan semacam “aksi industrial” dalam bentuk pemboikotan perayaan Misa pada hari Minggu, 13 Desember 2009, mendatang.

Tulis Kelly antara lain:
“Setelah merenungkan sungguh-sungguh, saya menyarankan …, seharusnya ada sebuah pemogokan. Umat yang biasa menghadiri perayaan Misa sebaiknya menjadikan Hari Minggu 13 Desember 2009 sebagai hari protes. Orang-orang Katolik Irlandia yang memiliki suara hati jernih sebaiknya tidak datang pada Misa Kudus pada hari itu, dan membiarkan bangku-bangku kosong mengirim pesan-pesan tegas kepada hirarkhi Gereja, bahwa skandal-skandal yang telah berlangsung tidak bisa lagi diteruskan”.

“Jangan lagi memperkosa anak-anak kami. Jangan lagi bersembunyi dibalik kerah dan jubah suci. Kalian akan menunjukkan rasa sesal dan pemahaman yang mendalam akan luka yang kalian torehkan pada umatmu. Kalau tidak, kami tidak lagi menghadiri perayaan Misa Suci yang kalian persembahkan.”

Aib yang dilakukan para imam Katolik ini bukan hanya terjadi di Irlandia. Di Amerika Serikat, sudah banyak Uskup, Uskup Agung, bahkan Kardinal yang menjadi korban – berhenti dari jabatan mereka – karena gagal melindungi anak-anak, gagal membersihkan diosisnya dari para imam fedofilia, dan yang paling utama: gagal memperlihatkan otoritas moral. (Wikipedia, Irish Time, Independent/brk*)

Facebook Comments