Baru M Jadi Tersangka – Pertemukan Tersangka dengan Ibu Kandungnya

Saturday, October 17, 2009
By susuwongi

Jakarta, Kompas – Komisi Nasional Perlindungan Anak mendesak Polres Metro Jakarta Timur mempertemukan tersangka M dengan ibu kandungnya yang kini tinggal di Kecamatan Mardingding, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Pertemuan itu akan berdampak positif bagi akurasi penyelidikan polisi. ”Pertemuan ini juga akan berdampak positif bagi pemulihan psikis M,” ujar Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi, Jumat (16/10), di Jakarta.

Nyonya Simanjuntak, ibu angkat pertama M yang ditemui di Jakarta Timur (Jaktim), Jumat kemarin, mengatakan, ibu kandung M masih hidup dan tinggal di Mardingding. ”Ibunya pernah menelepon saya. Namun, karena ibunya hanya bisa berbahasa Nias, gagang telepon saya serahkan ke M untuk berbincang dengan ibu kandungnya,” ujarnya.

Nyonya Simanjuntak membantah jika seluruh anggota keluarga M tewas karena tsunami. ”Yang jadi korban meninggal hanya ayahnya.”

Sementara itu Kepala Kepolisian Resor Metro Jaktim Komisaris Besar Hasanuddin, Jumat, mengatakan, polisi akan memberi peluang mendatangkan ibu kandung M jika dibutuhkan. Namun, saat ini belum dibutuhkan.

Menurut Hasanuddin, tidak tertutup kemungkinan ada tersangka lain. Namun, saat ini tersangkanya baru M.

Kepada polisi, M mengaku membunuh ibu angkatnya, Ety Rochyati (55), karena kesal sering dimarahi. M mengaku memukul Ety dengan balok sekali dan martil dua kali. Ety dipukul saat menonton televisi di rumahnya, di Jalan Sembung I/137 RT 01 RW 07 Kompleks Perumahan Angkatan Darat, Cibubur, Jakarta Timur. Polisi menemukan jenazah Ety di got belakang rumah, Selasa (13/10) pukul 05.00.

Gangguan perilaku

Jika benar sangkaan bahwa M adalah pembunuh ibu angkatnya, menurut psikolog Lia Sutisna Latif, kejadian ini disebut sebagai gangguan perilaku. Penyebabnya bisa karena pengaruh lingkungan atau pola asuh yang keliru.

Pengaruh lingkungan atau imitasi terjadi antara lain dari pengaruh media massa, keluarga, atau lingkungan yang kerap menyodorkan contoh penuh kekerasan kepada si anak. Akibatnya, ketika ibu angkat melakukan sedikit kesalahan saja, muncul bayangan bahwa si ibu adalah orang jahat yang harus dimusnahkan.

Sementara pola asuh yang keliru mungkin terjadi apabila anak kehilangan figur orangtua yang bisa memberi kasih sayang kepadanya. Kekeliruan pola asuh membuat anak kecewa karena kurang kasih sayang sehingga muncullah kekerasan kepada orangtuanya.

Untuk mengurangi dampak terhadap anak, Lia melihat perlu ada tindakan khusus kepada sang anak, antara lain dengan memberikan terapi khusus serta konseling. ”Anak perlu mendapatkan pengarahan agar dia bisa menyalurkan perasaan kesal ke arah yang positif,” kata Lia.(win/art)

Sumber: Kompas

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

October 2009
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031