MEDAN – Dari tujuh bandara yang saat ini beroperasi di Sumatera Utara, ternyata hanya bandara Polonia yang memenuhi standar keselamatan penerbangan yang telah ditetapkan oleh Menteri Perhubungan. Standar tersebut diantaranya adalah harus memiliki prasarana dan fasilitas pendukung serta sumber daya manusia.

Menurut Plt kasubdis Udara Dinas Perhubungan Sumut, Heriyono, malam ini, peraturan tersebut esuai dengan Keputusan Menhub Nomor 44 tahun 2002 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional, contohnya seperti fasilitas navigasi yang masih menggunakan “Non Direction Beacon (NDB)” atau alat navigasi yang hanya bisa mengetahui keberadaan suatu bandara melalui sandi yang dikeluarkan NDB kepada pilot.

“Namun peralatan itu kini sudah tidak direkomendasikan lagi walau untuk bandara perintis sekalipun karena alat bantu navigasi harus bisa menunjukkan arah dan jarak keberadaan suatu bandara,” ujar Heriyono.

Kemudian sebagian besar bandara di Sumut itu tidak memiliki fasilitas bantu pendaratan seperti lampu penerangan parkir pesawat, fasilitas peralatan keamanan seperti metal detector dan mobil patroli dan fasilitas pemadam kebakaran seperti mobil pemadam, ambulans, baju tahan api dan lain-lain, jelas dia.

Sedangkan dari faktor sumber daya manusia, lanjutnya, enam dari tujuh bandara di Sumut itu hanya dioperasikan oleh tenaga funsional yang terbatas oleh tenaga Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Ditjen Perhubungan Udara. Padahal sesuai aturan yang ada, syarat minimal standar keselamatan penerbangan maka bandara harus memiliki pengaturan lalulintas udara dan teknisi sistem kelistrikan.

Tujuh bandara yang saat ini beroperasi di Sumatera Utara adalah Bandara Polonia di Medan, Bandara Binaka, Gunung Sitoli, Bandara Pinang Sori, Sibolga, Bandara Aek Godang, Padang Sidempuan, Bandara Sibisa, Parapat, Bandara Silangit, Siborong-borong dan Bandara Lasondre, di Pulau-Pulau Batu wilayah Kepulauan Telo, Nias Selatan. (Waspada Online, 15 September 2009)

Facebook Comments