Masyarakat diminta antisipasi penyebaran chikungunya. Pasalnya, memasuki musim tidak menentu, terkadang hujan dan panas, ditambah dengan kondisi lingkungan tempat tinggal mendukung (daerah kebun), jadi tempat berkembang biak nyamuk chikungunya.

Hingga Juli 2009 saja, kasus penyebaran virus chikungunya yang masuk dalam keluarga togaviridae, genus alphavirus, mencapai 4592 orang yang tertular, dari 14 kab/kota.

Di antaranya, Padanglawas mencapai 48, Serdangberdagai 461, Asahan 1947, Labuhanbatu Utara 581, Labuhanbatu Selatan 179, Nias Selatan 84, Labuhanbatu 59, Tapanuli Selatan 377, Langkat 334, Deliserdang 199, Batubara 199, Phak-phak Barat 65, Medan, 5, dan Nias 54.

“Tergolong baru kasus chikungunya di Sumatera Utara, hanya saja kalau bicara penyebaran, jauh lebih cepat, meski tidak mematikan. Kecuali, penderita chikungunya memiliki penyakit bawaan, itu yang dikhawatirkan,” ucap Pelaksana harian (Plh) Kasubdin Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2P PL) Suhardiono SKM MKes, kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (31/8).

Bahkan, dipastikan, jumlah penderita yang tertukar ajan emngalami peningkatan. “Pasti ada untuk peningkatan jumlah yang tertular, terlebih di daerah endemis, bisa menyebar. Untuk itu masyarakat dihimbau untuk lebih proaktif menjaga lingkungan. Karena nyamuk penyebar chikungunya, paling senang hidup didaerah kebun dan air,” ucapnya.

Sehingga, himbau Suhadiono, sebaiknya bila ada ditemukan kasus dengan gejala nyeri pada tulang, terutama seputar persendian lutut, jari kaki dan tangan, serta tulang belakang, juga demam tinggi mendadak sampai 39 derajat Celcius selama 5 hari. Serta kulit kemerah-merahan, segera diambil sampel darahnya untuk pengujian. Hal itu dilakukan agar diketahui apakah ada kemungkinan lumpuh layu.

Masa inkubasi virus ke dalam tubuh manusia sampai menimbulkan gejala demam chikungunya sendiri, biasanya antara waktu 2 sampai 4 hari, dan akan sembuh sendiri dalam waktu 7 hari.

Namun, untuk saat ini bila ditemukan kasus chikungunya, hal yang dilakukan baru sebatas fooging massal di dalam dan luar rumah. Karena, untuk obat virusnya sendiri belum ada.

“Palingan bila ada gejala, lakukan pengobatan secara simtomatik (penghilang sakit), seperti demam minum obat demam. Namun tidak perlu khawatir, karena angka kematiannya tidak ada,” ucapnya. (Harian Global, 2 September 2009)

Facebook Comments