E. Halawa*

“Biha Tuha ! Biha Tuha !”, teriakan ini saya dengar hampir setiap kali terjadi gempa, khususnya gempa dahsyat di Nias –ketika masih kecil (lihat juga artikel: Bumi Yang “Marah”, Tuhan Yang “Diam”).

Siapa Tuha ? Yang sering kita dengar adalah Tuha Zangarõfa – penguasa atau dewa sungai – yang konon berperan ketika ada orang yang tenggelam di sungai. Kalau anak-anak ataupun orang dewasa alõmõ (tenggelam) karena terseret arus pusar ke arah bagian dalam dari suatu namõ (lubuk) maka orang-orang di kampung biasanya mengkambinghitamkan Tuha Zangarõfa atas peristiwa naas itu. Di mana Tuha Zangarõfa bersemayam? Barangkali di balik batu besar di bawah sana yang menghadirkan segala bentuk keseraman namõ (lubuk) itu. Barangkali di dasar sungai paling dalam di lubuk itu. Atau barangkali juga di dasar laut sana.  No isõbi ia Tuha Zangarõfa – (ia telah ditarik oleh sang Dewa atau Raja Sungai atau Lubuk) – demikian kata orang kepada korban yang tenggelam itu.

Bagaimana kalau seseorang meninggal karena hanyut terseret arus sungai yang sedang banjir misalnya ? Setahu penulis, dalam kasus ini Tuha Zangarõfa tidak dikambinghitamkan. Barangkali di mata orang-oran Nias zaman dulu, lebih mudah menjelaskan secara rasional peristiwa naas yang diakibatkan oleh seretan arus sungai yang sedang banjir dari pada menjelaskan peristiwa tenggelamnya seseorang di lubuk yang arusnya bersifat ‘aneh’ yang hanya bisa dijelaskan oleh pengetahuan modern seperti mekanika – dinamika fluida.

Berapa orang Tuha Zangarõfa? Kita tidak tahu; bisa jadi setiap lubuk memiliki Tuha-nya sendiri. Dan ketika lubuk itu hilang (karena pendangkalan sungai), maka para Tuha itu pun menghilang entah ke mana. Di sungai Muzõi (sungai terpanjang di Nias) misalnya, karena berbagai faktor – termasuk faktor campur tangan manusia – lubuk-lubuk yang dulu terkenal seram tetapi sekali gus menyimpan kekayaan berupa ikan-ikan besar – kini tinggal nama. Tiada lagi Namõ Ruma Saki (lubuk yang letaknya tepat di bawah lokasi Rumah Sakit yang di bangun di zaman Belanda di Botomuzõi – kini sebuah kecamatan), atau Namõ Mbo’ole (Lubuk Kura-Kura), Namõ Mbuaya (Lubuk Buaya) dan Namõ Kema. Hingga akhir tahun 1960an, namõ-namõ yang disebutkan di atas menjadi tempat permandian orang banyak dan tempat para pencari ikan ketika fadora, fadiala, fabuwu, fasulu, fagai atau mangembua.

Tuha juga sering dipakai sebagai gelar bangsawan atau yang memiliki kedudukan terhormat dalam adat Nias (barangkali ini khusus untuk Nias Utara). Ada yang digelari Tuha Nidanõ (penguasa air, tentu saja tidak ada kaitannya dengan Tuha Zangarõfa yang disebut di depan) atau Tuha Terongo (raja tersohor) atau Tuha Lailai (raja pucuk) dan seterusnya.

***
Da tatou’õ manõ ba danga Tuha”, penulis beberapa kali mendengar kalimat semacam ini. Tuha di sini adalah “Tuhan”, sehingga kalimat ini bisa ditulis menjadi: “Da tatou’õ manõ ba danga Zoaya” (kita serahkan saja pada Tuhan). Akan tetapi penggunaan Tuha sebagai terjemahan Tuhan agaknya tidak populer di Nias. Agaknya masyarakat Nias lebih cenderung menggunakan Tuha untuk penguasa atau petinggi duniawi atau dewa seperti Tuha Zangarõfa tadi. Untuk kata Tuhan (ilahi) orang Nias memiliki kata Soaya, Sokhõ (pemilik), atau Sombõi (pencipta).

***
He Tua Yesu
si sõkhi si’aikõ
ba fondrege zi sõkhi

ini adalah penggalan lirik lagu rohani dalam Buku Zinunõ Niha Keriso yang masih penulis ingat. Dan dalam kotbah-kotbah di gereja-gereja (khususnya di gereja protestan, sering kita mendengar “Tuada Yesu …”, “Ba ginõtõ Duada Yesu”. Apa arti kata “tua” dalam kalimat-kalimat ini ?

Dalam pemahaman Niha Keriso (Orang Kristen), Yesus adalah Tuhan. Maka kita bisa saja langsung mengasosiasikan Tua di sini dengan kata Tuhan dalam bahasa Indonesia. Tidak salah kiranya. Akan tetapi penggunaan Tua untuk Yesus oleh orang Nias yang beragama Kristen, menurut hemat penulis, memiliki makna khusus. Yesus memang Tuhan – penguasa; tetapi bukan sembarang penguasa, melainkan penguasa yang memiliki sifat-sifat Tua (baca: kakek).

Bagaimana sosok seorang kakek (tua) di mata anak-anak Nias ? Di mata anak-anak Nias – dan penulis sedang melukiskan suasana sekitar 40 – 45 tahun lalu ketika penulis menikmati masa anak-anak di Nias – tua adalah sosok penyayang, jarang pernah marah, murah hati dan bersifat melindungi. Berdasarkan pengamatan penulis ketika itu, anak-anak pada umumnya lebih dekat dan lebih nyaman berada di dekat tua (kakek) mereka dari pada ama (ayah) mereka. Di masa itu, semarah-marahnya sang ayah kepada anaknya, begitu tua si anak turun tangan, maka amanlah si anak dari hajaran sang ayah.

Perlu diingat, anak laki-laki dan perempuan zaman dulu di Nias kawin dalam usia yang masih sangat muda, barangkali ada yang menikah pada usia 15 tahun. Jadi mereka  ini telah memiliki anak pada usia yang masih sangat muda, sementara secara psikologis mereka mungkin belum siap mendidik anak. Wajar kiranya kalau mereka kewalahan menghadapi anak-anak mereka yang mungkin nakal, yang juga adalah produk didikan mereka sendiri. Jadi – di zaman itu – solusi orang tua yang masih muda-muda ini atas kenakalan anak-anak mereka adalah hajaran fisik: manafari (menampar) mamalisi (memukul dengan kayu atau bambu), mangelifi (mengutuk, mengucapkan kata-kata kutukan yang secara psikologis bisa membekas lama dalam diri si anak), dan mangeherai (mengucapkan kata-kata hinaan, yang juga sangat mempengaruhi jiwa sang anak).

Tidak demikian halnya dengan seorang tua (kakek) atau awe (nenek). Seiring dengan bertambahnya usia, mereka menjadi lebih berpengalaman dalam hal menghadapi anak-anak. Sangat jadi mereka ini tadinya menjadi pelaku kekerasan terhadap anak-anak mereka juga. Namun ketika mereka menjadi seorang kakek atau nenek, mereka menyadari hal ini sehingga mereka “mengkompensasi” tingkah laku mereka di masa lalu sebagai ayah atau ibu dalam bentuk perubahan sikap yang radikal: sangat menyayangi cucu mereka, jarang memarahi mereka, mengabulkan berbagai permintaan mereka, dan tentu saja melindungi cucu-cucu mereka ketika sang ayah mengamuk.

Maka, memang cukup tepat dan cocok sekali Ono Niha memangil Yesus sebagai Tua Yesu atau Tuada Yesu. Label Tua yang dilekatkan kepada Yesus bukan terletak pada makna harfiahnya tetapi lebih pada sifat-sifat utama yang luhur sang tuada tadi.

***
Tua Lagema …, Tua Falito, Tuada Sibakinõ adalah panggilan Ono Niha untuk sejumlah orang Eropa yang dulu pernah berkarya di Nias, entah sebagai misionaris atau yang lain. Yang terakhir disebut tiada lain adalah Dr. Martin Thomsen yang menurut Zebua dalam Kisah Lawaendröna Manusia Bulan (yang mengutip Thomsen, 1976) bertugas dua kali sebagai dokter di Nias, antara tahun 1934-1940 dan tahun 1951-1970.

Hiza duada fasitoro”, kata orang-orang desa di Nias hingga sekitar awal tahun 1970an kalau seorang imam Katolik berbangsa kulit putih tiba di kampung mereka. Setelah agama Katolik semakin dikenal di Nias, tuada fasitoro berubah menjadi amada fasitoro, istilah terakhir ini berlaku juga bagi para imam Katolik pribumi.

Niha tori wõ da’õ, tenga fasitoro”, kata seseorang menjelaskan kepada yang lain ketika yang lain itu menyangka orang bule yang datang seorang pastor, padahal seorang wisatawan.(*)

*Kritik, koreksi dan atau masukan atas tulisan ini dapat disampaikan lewat nias.online@gmail.com atau dalam bentuk komentar di ruang komentar di bawah tulisan ini.

Facebook Comments