Pemerintahan Asli Suku Nias (III)

e. Selanjutnya, ere wondrakõ menghampiri Siraha Lato, sambil mengarahkan telapak tangannya di atas benda-benda ritus (lidi, mayang kelapa, ayam, anjing dan kapak) yang berada pada siraha lato mengucapkan mantera-mantera antara lain:

Noso zanawõ fondrakõ, sumange zanawõ oroisa,
ya mõi lifilifi wondrakõ, ya mõi lifilifi goroisa
ya ondria mane nibõzi likhe, ya mondria mane sõfu latowa;
ba dõla zanawõ fondrakõ, ba dõla zilalõi oroisa
Aoha gõlõ nuwu wo’ere, aoha gõlõ nuwu mbesoa;
d.s.t.

Selanjutnya ere wondrakõ mengambil lidi yang 9 batang, mematah-matahkannya, di atas unggun api diho yang sedang menyala, meremas-remas lidi itu sambil membaca mantera-mantera lifi-lifi (kutukan) wondrakõ, yang berbunyi:

Ya’e wamaedo zanawõ fondrakõ, ya’e wamaedo zanawõ oroisa”, (ini contoh pelanggar, ini contoh pelanggar perintah – red.)
lantas lidi yang diremas-remas itu dicampakkan kedalam unggun api.

Lidi itu sebentar saja telah hangus dilalap api.

Demikianlah selanjutnya, mayang kelapa yang masih kuncup dibuang bulat – bulat ke dalam unggun api sambil mengumpamakan mayang itu badan orang yang melanggar fondrakõ; dan sebentar saja mayang itu meledak dan isinya bertaburan ke dalam api.

Selanjutnya, sebungkal timah dilebur sampai cair dan langsung dituangkan ke dalam kerongkongan ayam melalui paruhnya sambil memutar dan mematahkan leher, sayap dan kakinya lalu dibuang ke dalam api unggun sambil membacakan mantera-mantera kutuk yang mengumpamakan ayam itu sebagai diri orang yang melanggar fondrakõ.

Kemudian anjing, yang sudah dipersiapkan, kakinya diikat dan langsung dibuang hidup-hidup ke dalam api unggun, sambil membacakan mantera dan mengumpamakan bahwa anjing yang dibakar hidup-hidup itu, sebagai orang yang melanggar fondrakõ.

Terakhir, kapak tadi ditanamkan ke batang kelapa. Sebuah godam yang dibuat dari kayu manawa (alaban), sambil membcakan mantera-mantera, martel kayu (godam)- bagowahõ sezai laoyo matua – dihantamkan pada punggung kapak itu secara bergantian oleh seluruh tua-tua adat yang hadir di tempat itu, sampai akhimya kapak tadi terbenam ke dalam batang kelapa atau batang kayu itu, yang menggambarkan kematian tanpa kubur orang yang melanggar fondrakõ.

f. Setelah semuanya itu selesai, ere wondrakõ menuangkan air dingin pada figa lame yang berisi hamo-hamo gana’a; air ini disiramkan pada ukuran timbangan takaran dan terakhir disiramkan / dituangkan pada kaki Golu Wondrakõ. Selanjutnya sisa air dingin tawar itu, disiramkan kepada khalayak ramai yang hadir, sambil mengucapkan mantera mantera pemberkatan agar semua warga menaati hukum-hukum yang tertera di dalam fondrakõ itu.

Sumber: Buku Sejarah Perjuangan Masyarakat Nias (1987)

Komentari

saro says:

Bagian ini merupakan ritual pengesahan fondrakõ yaitu sumpah dan sanksi kutuk. Yg diungkap Buku Sejarah Perjuangan Masyarakat Nias (1987) hanya 1 versi saja. Sesungguhnya ada beberapa versi pengesahan fondrakõ, misalnya:

1. Faogõli Harefa (1939): dlm pengesahan fondrakõ seorang orangtua mematah-matahkan lidi, kaki dan sayap ayam, serta menuangkan timah panas ke mulut ayam, seraya berkata: “Barangsiapa yg melanggar segala sesuatu yg telah ditetapkan fondrakõ ini, bagai lidi yg rapuh ini, bagai ayam yg disiksa ini, kaki-tangannya patah, segala yang dimakannya panas bagai timah ini, sehingga ia mati. Hendaknya ia tidak punya keturunan”.

2. Bambowo Laiya (1975): pengesahan fondrakõ diikuti berkat (bagi yg mentaati hukum) dan kutuk (bagi pelanggar hukum). Saat mengutuk, ere memukulkan lidi ke siraha lato, leher ayam dikerat, diputar, dan dipukulkan ke siraha, sambil berkata: “Ni’elifi ba lato ndrege zamawõ ba ndrege zanu’i angetula nono zalawa andre. Ya simane fa’atefuta mbagi manu andre ia, ya lõ wa’ania ba danõ ba ya lõ hogunia ba mbanua”.

3. Fa’anõ Daeli (1988): dalam pengesahan fondrakõ, sambil membakar seekor anjing, satua nõri berkata: “Barangsiapa yg melanggar segala sesuatu yg telah diundangkan ini, biarlah ia an keturunannya seperti anjing yg terbakar ini, lidah terbujur, perut pecah, mata membelalak, keluar kotoran”. Kemudian satua nõri menancapkan paku di batang kelapa (fatanõ si’õli ba ohi) dan berkata: “Siapapun dia di negeri ini tidak ada yg sanggup mencabut paku ini di batang kelapa, seorang pun tidak boleh ada yg melanggar keputusan ini”.

Sumber: Ho Jendela Nias Kuno (2006)

iman says:

yaahowu fefu,,,taandö saohagölö Melö taolifugö ita hada nono Niha,böi tafamalö-malö memoguna khöda yaita ngaötö ono Niha

martin f maruhawa says:

ya’ahowu fefu soi samaso turlaandre baga dao boltaolifogo hada nononlha faoma angaoto sejarah nononlha