Pemerintahan Asli Suku Nias (Bagian I)

Catatan Redaksi: Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke 64 Kemerdekaan Indonesia, Nias Online menyajikan sebuah rangkai tulisan berjudul “Pemerintahan Asli Suku Nias” yang diambil dari buku yang disusun oleh Tim Penyusun Sejarah Perjuangan Masyarakat Nias (1987). Redaksi melakukan penyuntingan bahasa tanpa mengubah isi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi generasi muda Nias dan bagi pengunjung Nias Online umumnya.

Pemerintahan asli suku Nias adalah bentuk pemerintahan adat yang terdiri dari dua tingkatan yaitu:

  1. Banua yang dipimpin oleh Salawa (istilah Nias bagian Utara) atau Si’ulu (istilah Nias bagian Selatan).
  2. Õri yaitu merupakan perluasan dari BANUA yang dipimpin oleh Tuhenõri atau Si’ulu.

Dalam setiap kesatuan masyarakat Hukum, baik tingkat BANUA maupun tingkat ÕRI terdapat satu badan Pemerintahan adat (eksekutif) dengan susunan sebagai berikut:

  1. Sanuhe (asal kata: Tuhe): Sanaru’õ / Samasindro, artinya yang mendirikan atau ketua.
  2. Tambalina: Wakil dari Sanuhe.
  3. Fahandrona: Juru bicara atau setara dengan Humas di zaman sekarang.
  4. Sidaõfa sampai dengan sifelendrua: Para anggota dari dewan pimpinan tersebut.

Keempat pilar ini secara simbolis biasanya diwujudkan pada keempat tiang utama dalam rumah adat Nias.

Dewan pimpinan dalam bahasa Nias di kenal dengan istilah SITE’OLI. Baik di tingkat BANUA maupun di tingkat ÕRI seuua SITE’OLI (Dewan Pimpinan) disebut SALAWA. Yang berkedudukan dan berfungsi di BANUA di sebut SALAWA MBANUA dan yang berkedudukan di tingkat ÕRI di sebutSALAWA NÕRI.

Masyarakat umum dewasa ini mengenal istilah SANUHE (yang kini di sebut Ketua) untuk tingkat BANUA yang lazim disebut SALAWA dan di tingkat ÕRI disebut TUHE NÕRI.

Pemerintahan adat suku Nias juga mengenal adanya lembaga legislatif yang di sebut FONDRAKÕ, yaitu suatu badan musyawarah dari tokoh – tokoh adat untuk menetapkan hukum tentang berbagai bidang kehidupan dalam suatu kelompok masyarakat (dapat berupa kelompok marga) dalam suatu wilayah tertentu dengan sangsi-sangsinya yang yuridis dan sakral yang sangat keras.

Embrio dari Fondrakõ Ono Niha telah dimulai sejak penyerahan pemukiman pertama oleh nenek moyang HIA WALANGI ADU di GOMO SAHAYAHAYA. Suku Nias mengakui bahwa induk FONDRAKÕ seluruh Ono Niha adalah FONDRAKÕ BÕRÕNADU di Gomo; dari sanalah kemudian berkembang berbagai FONDRAKÕ di daerah Nias yang sudah barang tentu telah mengalami berbagai perobahan dan bervariasi menurut keadaan lingkungan masing-masing.

Misalnya di Nias bagian Selatan istilah Fondrakõ sama dengan Famadaya Harimao / Famadaya Saembu; sekalipun demikian sanksi dan ritus dari apa yang telah di-rakõ pada FONDRAKÕ induk tidak diubah karena jiwanya sangat sakral serta ada hubungannya dengan kepercayaan tradisionil Suku Nias pada waktu itu yang masih menyembah berhala atau againa animisme.

Bila pada suatu daerah pemukiman yang belum mencanangkan Fondrakõ terjadi bala seperti penyakit yang menyerang manusia, penyakit hewan piaraan, hama tanaman atau daerah itu diperangi oleh sekelompok manusia dari wilayah yang lain, maka para tua-tua adat mencari sebab musabab bala itu. Tua-tua adat mencari di antara mereka siapa keturunan yang dituakan; orang itulah yang didukung untuk menjadi TUHE WONDRAKÕ, sedang yang lain-lain menjadi staf dan pendukung yang mutlak dan setia. Segala biaya pelaksanaan dipikul bersama. Bila di daerah itu bemukin berpuluh-puluh kelompok yang berdekat-dekatan dan berbatasan tanah perladangannya dan terdiri dari beberapa mado, maka kelompok-kelompok ini akan menjadi suatu daerah/lingkungan SI SAMBUA FONDRAKÕ; keturunan yang dituakan tadi menjadi TUHE WONDRAKÕ (TUHE NÕRI WONDRAKÕ).

FONDRAKÕ dapat disebut FONDRAKÕ BAUWU NENE kalau fondrakõ itu dilaksanakan di suatu lapangan yang berpasir atau di pinggir laut / sungai. Kalau pelaksanaan itu dilakukan pada sebuah bukit/gunung (hili) maka fondrakõ itu disebut FONDRAKÕ BAUWU HILI. Kalau ia dilakukan di bawah sebatang kayu yang dikeramatkan seperti ewo (beringin)  maka disebut FONDRAKÕ BA MBÕRÕ GEWO; dan kalau dilakukan di bawah pohon fõsi maka disebut FONDRAKÕ BA MBÕRÕ WÕSI. Fondrakõ inilah Fondrakõ terbesar (induk) bagi mereka yang terlingkung dalam wilayah itu tadi. (bersambung).

Komentari