Oleh: Victor Zebua

Orang Nias tempo doeloe tidak mengenal jam. Pembagian dan penamaan waktu mereka mengacu aktivitas sehari-hari: bertani, beternak, kerja domestik (memasak, makan, tidur), dan fenomena alam. Pukul 00.00 disebut talu mbongi (tengah malam). Nama waktu lainnya: miwo manu siföföna (ayam berkokok pertama kali; 02.00-02.30), möi zamölö (penyadap aren pergi menyadap; 05.00), muhede riwi (jangkrik berbunyi; 05.30-06.00), dan tumbu luo (matahari terbit; 06.00).

Usai fajar menyingsing disebut ahulö wongi, mofanö niha ba halöwö (pagi sekali, orang pergi bekerja; 06.30). Ada sejumlah istilah hingga tengah hari,  laluo (tengah hari; 12.00), manuge manu (ayam hinggap di kandang; 17.00-18.00), mörö niha (orang pergi ke tempat tidur; 22.00), dan saraö tö mbongi (malam tinggal ‘sepertiga’ lagi; 23.00).

Itulah kalender harian tradisional Nias. Fanötöi ginötö (penamaan waktu) yang lebih rinci dan lengkap disajikan E. Halawa di Ungkapan Waktu dalam Tradisi Masyarakat Nias (2007) di Nias Online. Artikel tersebut merujuk tulisan Agner Møller yang dikutip Hämmerle (1999) dan percakapan Halawa dengan sejumlah orangtua Ono Niha (orang Nias).

Selain kalender (sistem penentuan dan pembagian waktu) harian, orang Nias punya kalender tahunan. Kalender itu relatif berbeda dibanding kalender Gregorian yang ditetapkan Paus Gregorius XIII tahun 1582 M. Kalender Gregorian mengacu kedudukan surya (matahari) terhadap vernal equinok (titik rasi Aries) tanggal 21 Maret (Raharto, 1995: 45). Sementara kalender tahunan tradisional Nias mengacu posisi bintang Sara Wangahalö.

Dongeng Bintang
Di langit malam ada tiga bintang yang terlihat cukup terang dan letaknya sejajar, yaitu: Alnitak (zeta Orionid), Alnilam (epsilon Orionid), dan Mintaka (delta Orionid). Di dekatnya terdapat bintang lain, seperti: Betelgeuse, Meissa, Bellatrix, Saiph, Rigel, dan lainnya. Semua bintang tersebut membentuk rasi atau konstelasi (sekumpulan bintang). Orang Yunani kuno mengimajinasikan rasi bintang ini berbentuk orang yang tengah membawa sebilah pedang (Pramesti, 2007). Mereka menamakannya Orion, nama seorang pemburu dalam mitologi Yunani (Gbr-1).

Gambar 1 – Rasi Orion

Rasi Orion dikenal di pelbagai peradaban kuno. Bagi orang Jawa, rasi Orion menyerupai waluku (alat bajak sawah), sehingga disebut lintang (bintang) Waluku. Orang Sumeria melihatnya mirip domba, orang Mesir menganggapnya wujud Osiris (Dewa Kematian) yang tengah membawa tongkat komando. Dalam tradisi rakyat (folklor) Nias, sebagian bintang penyusun rasi Orion ini disebut Sara Wangahalö (Harefa, 1939: 116; Zebua, 1996: 67).

Sejumlah dongeng Sara Wangahalö dicatat Agner Møller di buku Den Gamle Tidsregning på Nias tahun 1976 (Hämmerle, 1999: 128). Møller, dokter asal Jerman*, bekerja di Tanö Niha (Tanah Nias) tahun 1923-1927 (Mittersakschmöller, 2007). Dia mengumpulkan 15 versi dongeng Sara Wangahalö berbahasa Nias logat selatan, tengah, dan utara. Artinya, dongeng Sara Wangahalö (Sarawalaho dalam teks Nias Selatan) terdapat di kawasan yang relatif luas di Tanö Niha.

Satu versi dongeng berkisah perihal Ndröma (Hämmerle, 1999: 131). Ndröma dan istrinya Simarimbaŵa memiliki sebelas orang anak. Pada suatu hari anak-anak Ndröma pergi berburu. Sepulang berburu, saat mereka tiba di rumah, pintu rumah tidak dibukakan. Anak sulung bertanya, mengapa ayahnya tidak membuka pintu. Karena tidak ada jawaban, maka dipotongnya jari-jarinya dan diletakkannya di atas tangga. Lalu mereka pergi seraya berseru, “Karena ayah tidak mengizinkan kami masuk, kami pergi, kami akan menjadi Sarawalaho”.

Setelah anaknya pergi, hati Ndröma iba. Sambil membawa obor, bersama istri dan budaknya, dia mencari anaknya. Namun mereka tak pernah bertemu, para anak telah menjelma menjadi ndröfi si Felezara (bintang Sebelas). Ndröma, sawuyu (budak), dan Simarimbaŵa menjelma pula menjadi ndröfi si Tölu (bintang Tiga)

Tokoh versi lain Balugu Hatölu dan istrinya Boworia (Hämmerle, 1999: 137-8). Kesebelas anak mereka: Lölömatua Ita Bara, Lökhö Sitölu, Lökhö Famaigi, Lökhö Fangila, Lökhö Angi, Döfi Famaigi, Döfi Fangila, Mondröi, Döfi Balazi, Ondröita, dan Fagohi Döfi. Dalam versi ini: bintang Sebelas jelmaan para anak Hatölu, sedang bintang Tiga jelmaan Hatölu, Boworia, dan Sibahu Barazo Laoya (istri Lölömatua Ita Bara).

Bintang Tiga inilah Alnitak-Alnilam-Mintaka versi Nias. Sementara bintang Sebelas adalah sebelas bintang di dekatnya, disebut juga döfi Zara (döfi = bintang, tahun; zara dari felezara = sebelas) alias ndröfi Sara (bintang Sara). Dalam perspektif Ono Niha, bintang-bintang penyusun rasi Orion adalah representasi tokoh cerita, bukan citra benda sebagaimana imajinasi orang Yunani, Jawa, Sumeria, dan Mesir.

Ndröfi Sara
Sebagai dongeng (folktale), Sara Wangahalö termasuk folklor lisan. Namun sebagai bintang, Sara Wangahalö dikategorikan folklor adat kebiasaan, satu dari tiga kelompok folklor menurut Danandjaja (2003: 28). Bintang ini berperan penting dalam adat-istiadat rakyat (folk customs) Nias, sebagaimana ditulis Harefa (1939: 116).

… Pada zaman poerbakala, apabila moelai bertanam padi diladang atau disawah, orang toea-toea memeriksa bintang dilangit. […] Dengan melihat tinggi letak bintang itoe dilangit waktoe malam hari, dapat diketahoei waktoe mana dimoelai bertanam padi diladang atau disawah soepaja pertahoenan padi banjak hasilnja. […] Bintang itoe diseboet dalam bahasa Nias: Sara wangahalö artinja bintang jang memberi tanda bilamana memoelai bertanam padi diladang atau disawah.” [sic]

Ketika bintang Sara muncul di ufuk timur, orang Nias turun ke hutan-belukar (Zebua, 1996: 67). Mereka mamohu tanö nowi atau mamago tanö (menandai tanah huma-ladang). Tanah yang dipilih dibersihkan agar dapat ditanami. Masa menanam padi berlangsung ketika posisi bintang Sara setinggi matahari pukul delapan hingga sepuluh. Masa menuai saat bintang Sara di langit sebelah barat, setinggi matahari pukul dua hingga empat sore. Bintang ini kelak hilang di ufuk barat, kemudian muncul kembali di ufuk timur.

Karena bintang Sara menjadi penanda musim wangahalö (pertanian), maka dia disebut Sara Wangahalö. Satu siklus penampakan (peredaran) Sara Wangahalö, mulai dari terbit di ufuk timur hingga terbit kembali di ufuk timur, berlangsung 12 kali bulan terang. Artinya, kurun waktu satu siklus bintang ini berlangsung 12 bulan.

Posisi Sara Wangahalö ditentukan berdasar posisi matahari. Menurut kearifan lokal Nias, satu jam ‘waktu edar’ matahari setara dengan satu bulan ‘waktu edar’ Sara Wangahalö. Karena matahari beredar dari timur ke barat selama 12 jam dalam sehari, maka ‘kurun waktu jam’ posisi matahari identik dengan ‘kurun waktu bulan’ posisi Sara Wangahalö. Menurut Zebua (1996: 67), Sara Wangahalö terbit di ufuk timur awal April, dan terbenam di ufuk barat akhir Maret. Dengan demikian, kurun waktu satu siklus peredaran Sara Wangahalö relatif dapat dipadankan dengan kurun waktu setahun kalender Gregorian (Gbr-2).


Gambar 2 – Peredaran Sara Wangahalö

Sekitar awal April Sara Wangahalö terbit di ufuk timur, terlihat saat matahari terbenam. Dua bulan kemudian, bila bintang ini berada pada posisi matahari pukul delapan (sekitar Juni), orang mulai menanam padi (Harefa, 1939: 117; Zebua, 1996: 67). Diyakini, periode terbaik menanam padi sampai Sara Wangahalö berada pada posisi matahari pukul sepuluh (sekitar Agustus). Sementara periode terbaik menuai saat posisi Sara Wangahalö berada pada posisi matahari pukul dua hingga empat sore, terlihat saat matahari terbit (sekitar Desember-Februari).

Tenggang waktu usai mamasi (musim menuai padi) hingga terbenamnya Sara Wangahalö di ufuk barat (sekitar Februari-Maret) dipakai untuk pembersihan lahan. Lahan itu kemudian dijadikan ladang ubi yang lazim digarap oleh kaum wanita (Laiya, 1980: 60; Zebua, 1996: 67). Periode ini disebut inötö otalua halöwö saukhu (periode senggang kawasan pertanian), dimanfaatkan untuk penyelenggaraan berbagai acara penting masyarakat tradisional Nias, seperti: perkawinan, pendirian rumah, pesta owasa, maupun fondrakö.

Itulah peran Sara Wangahalö. Satu tahun kalender Ndröfi Sara (Tahun Bintang Sara Wangahalö) terdiri dari 12 periode bulan. Kurun waktu satu periode (siklus) bulan adalah jumlah dari 15 hari bulan terang dan 15 hari bulan mati, sehingga satu bulan terdiri dari 30 hari. Artinya, kurun waktu satu tahun kalender Ndröfi Sara tidak tepat betul dibanding satu satu tahun kalender Gregorian. Kalender tahunan Gregorian berlangsung rata-rata 365,2425 hari (Raharto, 1995: 45), sedang kalender tahunan tradisional Nias 360 hari.

Tradisi Bulan
Kurun waktu satu bulan pasti berlangsung 30 hari. Masyarakat tradisional Nias memiliki nama hari sepanjang satu siklus bulan. Hal ini dicatat Ernst Ludwig Denninger tahun 1870 (Hummel & Telaumbanua, 2007: 50) dan Agner Møller tahun 1976 (Hämmerle, 1999: 140).

Hari pertama tiap bulan adalah hari ketika bulan sabit mulai terlihat di ufuk barat saat matahari terbenam. Bulan sabit ini disebut hilal dalam kalender Hijriah yang ditetapkan Khalifah Umar bin Khatab (Raharto, 1999: 40). Selama 15 hari, setiap hari penampakan bulan berubah hingga menjadi tuli (purnama). Kelimabelas hari itu berturut-turut disebut: Sambua Desa’a, Dombua Desa’a, Tölu Desa’a, Öfa Desa’a, Melima Desa’a, Me’önö Desa’a, Mewitu Desa’a, Mewalu Desa’a, Meziwa Desa’a, Fulu Desa’a, Mewelezara Desa’a, Melendrua Desa’a, Feledölu Desa’a, Fele’öfa Desa’a, dan Tuli.

Selanjutnya bulan masuk fase mati selama 15 hari. Secara berurutan hari-hari bulan mati disebut: Sulumo’o (Samuza Akhömi), Mendrua Akhömi, Medölu Akhömi, Mendröfa Akhömi, Melima Akhömi, Me’önö Akhömi, Mewitu Akhömi, Mewalu Akhömi (Börö Zikho), Meziwa Akhömi (Zikho), Mewulu Akhömi (Börö Mugu), Mewelezara Wa’aekhu (Angekhula), Felendrua Wa’aekhu (Börö Ndriwakha), Sambua-lö Aekhu (Talu Ndriwa), Aekhu Mbawa (Ahakhöwa), dan Fasulöta (Fasulöna).

Masyarakat tradisional Nias tidak mengenal nama hari dalam seminggu, sehingga tidak memiliki kalender mingguan (Hummel & Telaumbanua, 2007: 49-50). Nama-nama hari mereka berdurasi sebulan (kalender bulanan). Dengan demikian, hakekat hari dalam kalender bulanan tradisional Nias adalah tanggal. Penanggalan itu berguna terutama untuk menentukan ‘hari baik’, hari yang dianggap dapat memberi kesejukan, keberuntungan, dan kebahagiaan.

Menurut Zebua (1996: 68), hari (tanggal) yang baik mulai Mewalu Desa’a hingga Melendrua Desa’a. Ono Niha melakukan segala sesuatu kegiatan pada hari-hari itu. Namun di pelbagai kawasan, periode tersebut tidak sama. Peribahasa Nias mengatakan, “Sara nidanö sambua ugu-ugu, sambua mbanua ba sambua mböwö”; satu sungai satu bunyi arusnya, satu kampung lain adatnya (Mendröfa, 1982: 45).

Sebagian masyarakat memilih Mendröfa Desa’a, Mewalu Desa’a, dan Melendrua Desa’a sebagai hari baik menanam tumbuhan (Hummel & Telaumbanua, 2007: 50). Tumbuhan tertentu, singkong misalnya, ditanam saat Tuli agar umbinya tumbuh sebesar bulan purnama. Di Hilimondregeraya, Nias Selatan, kegiatan menanam justru dilarang pada saat: Mendröfa Desa’a, Mewalu Desa’a, Fulu Desa’a, dan Mewelezara Desa’a (Hämmerle, 1999: 24).

Ritus fondrakö wamunu niha diselenggarakan sebelum Mewelezara Desa’a (Hämmerle, 1995: 229). Mewelezara Desa’a dan hari setelahnya dianggap hari sial bagi pelaku ekspedisi pengayauan. Di kawasan selatan Nias, hari baik melaksanakan tradisi lachai (sunat) adalah: Fulu Desa’a, Melendrua Desa’a, dan Tuli (Suzuki, 1959: 85).

Meski memiliki kalender bulanan yang sama, terdapat pelbagai kepercayaan rakyat (folk belief) perihal ‘hari baik’. Mengapa demikian? Sebuah pertanyaan menantang bagi para peneliti yang berminat pada kebudayaan Nias.

Kalender bulanan tradisional Nias termasuk folklor adat istiadat. Berkaitan dengan bulan, Ono Niha juga memiliki folklor lisan berbentuk dongeng dan mite. Dongeng bulan Nias adalah kisah Lawaendröna yang dilantunkan saat upacara ritual kematian (Thomsen, 1981; Zebua, 2008). Dongeng tersebut dapat dilihat di artikel Kisah Lawaendröna Manusia Bulan di Nias Online. Sementara mite bulan berkisah perihal seorang dewa (Mendröfa,1981: 108).

Menurut salah satu mitologi Nias, di teteholi ana’a (kayangan) ada seorang dewa yang dapat merubah-ubah wujudnya. Dewa itu bernama Malio Sibaya Mbaŵa. Bila di bumi Tanö Niha telah terjadi banyak ketidakadilan dan kejahatan, maka marahlah Malio Sibaya Mbaŵa. Dia berubah menjadi ular raksasa. Lalu ular raksasa yang marah itu pelan-pelan menelan bulan, sebagai peringatan atas perilaku manusia. Terjadilah gerhana bulan.

Saat gerhana bulan manusia berteriak-teriak, “Biha Tua, Fuli Tua” (Sudah Nenek, Kembali Nenek), seraya membunyikan segala macam benda. Maksudnya agar ular raksasa tidak menelan bulan dan bulan dikembalikan seperti semula. Hingga tahun tujuhpuluhan orang Nias masih membunyikan gendang, tambur, maupun kentongan ketika terjadi gerhana bulan (Halawa, 2009). Usai peristiwa gerhana para raja adat segera menelusuri pelanggaran hukum dan melakukan reformasi agar manusia kembali ke koridor yang benar.

Bacaan

  1. Danandjaja, James, Folklor Amerika Cermin Multikultural yang Manunggal, Pustaka Utama Grafiti, cet.1, 2003
  2. Halawa, E., Ungkapan Waktu dalam Tradisi Masyarakat Nias, www.niasonline.net, Juli 2007
  3. Halawa, E., Faktor-Faktor Penyebab Keterbelakangan dan Kemiskinan Masyarakat Nias, www.niasonline.net, Februari 2009
  4. Hämmerle, Johannes M., Hikaya Nadu, Yayasan Pusaka Nias, 1995
  5. Hämmerle, Johannes M. (ed), Nidunö-dunö ba Nöri Onolalu, Yayasan Pusaka Nias, 1999
  6. Harefa, Faogöli, Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939
  7. Hummel, Uwe & Tuhoni Telaumbanua, Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia (1865-1965) , Doctoral Thesis Utrecht University, 2007
  8. Laiya, Bambowo, Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa di Nias – Indonesia, Gadjah Mada University Press, 1980
  9. Mendröfa, B. Ama Wohada, Pepatah Nias dan Artinya, Medan, 1982
  10. Mendröfa, Sökhiaro Welther, Fondrakö Ono Niha Agama Purba – Hukum Adat – Mitologi – Hikayat Masyarakat Nias, Inkultra Fondation Inc, 1981
  11. Mittersakschmöller, Reinhold, Research Fields in 1920s/30s Ethnophotography: Nias and the Batu Islands, www.nirn.org, Juli 2007
  12. Pramesti, Orion, Pemburu Perkasa di Langit Malam, http://langitselatan.com, Juni 2007
  13. Raharto, Moedji, Kalender Bulan dan Kalender Surya, dalam Adriana Wisni Ariasti dkk (penyunting), Perjalanan Mengenal Astronomi, UPT Observatorium Bosscha ITB, 1995
  14. Suzuki, Peter, The Religious System and Culture of Nias, Indonesia, ‘S Gravenhage, 1959
  15. Thomsen, Martin, Ein Totengesang von der insel Nias, Bijdragen tot de Taal-, Lan- en Volkenkunde 137 (443-455), 1981
  16. Zebua, F., Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, 1996
  17. Zebua, Victor, Kisah Lawaendröna Manusia Bulan, www.niasonline.net, September 2008

Sumber foto: http://io81.com/wp-content/uploads/2007/10/orion.jpg

*Koreksi dari penulis (VZ):  “Møller, dokter asal Jerman” – seharusnya “Møller, dokter asal Denmark” (Red – 9/8/2009)

Facebook Comments