Yasonna Laoli: Pemilu Ulang di Nisel Dinodai Permainan Politik Uang

Tuesday, July 14, 2009
By nias

* Poldasu dan Panwas Diminta Segera Turun Tangan Lakukan Pengusutan

Medan – Anggota DPR RI Dr Yasonna H Laoli MSc menegaskan, Pemilu ulang di Nisel (Nias Selatan) yang digelar pada 8 Juli lalu diduga telah dinodai permainan politik uang, sehingga diminta kepada Kapoldasu segera turun tangan melakukan pengusutan secara tuntas.

Laoly yang juga Caleg PDI Perjuangan untuk DPR RI dari Dapil Sumut II itu mengaku mendapat laporan dari masyarakat bahwa tim sukses salah satu caleg DPR-RI sudah bergentayangan di beberapa kecamatan dan membagi-bagikan uang kepada calon pemilih.

Menurut Laoly, hal itu sudah menjadi pengetahuan umum di Kecamatan Lahusa, Teluk Dalam, Gomo, Hibala dan di sejumlah kecamatan lain dengan modus operandi melakukan permainan uang melalui KPPS dan beberapa kepala desa.

Permainan uang ini mulai terkuak di Kecamatan Hibala yang merupakan kecamatan terjauh dan terdiri atas pulau pulau, sehingga sangat sulit dipantau, sehingga banyak sisa surat suara DPR yang dicontreng untuk caleg tertentu oleh penyelenggara, ujar Laoly.

Ditambahkan Laoly, pihaknya sedang mengumpulkan data dari masyarakat agar bersedia memberi kesaksian dan bila perlu kita minta Lembaga Perlindungan Saksi untuk melindungi mereka.

Apalagi dari laporan sementara, caleg yang melakukan permainan uang itu memperoleh suara signifikan di beberapa kecamatan, padahal yang bersangkutan sama sekali tidak dikenal baik secara kultural maupun sosial di Nisel.

Hal senada juga diungkapkan Caleg DPR RI dari Partai Hanura, Olozotuho Harita, bahwa tim sukses Caleg itu membagikan uang kepada calon pemilih mulai dari Rp25 ribu/orang. Ini sangat merusak demokratisasi yang sedang dibangun, sehingga Poldasu dan Panwalu perlu secepatnya mengusut tindak pidana pemilu dimaksud.

Yasonna Laoly juga menambahkan, negara sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk pemungutan suara ulang di Nisel yang digelar bersamaan dengan pilpres itu. Bahkan Polda Sumut mengirim lebih dari 1.000 personil untuk mengawal proses pemungutan suara ulang dan pilpres di Nisel demi tegaknya proses demokrasi, namun ternyata dinodai dengan praktik politik uang.

Laoly mengaku sangat menghargai upaya Polda Sumut mengawal pemungutan suara ulang dan pilpres di Nisel. Bahkan Kapoldasu Irjen Pol Badrodin Haiti sendiri berada di Nisel pada saat proses demokrasi itu berlangsung untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik, katanya. Laoly menilai praktik politik uang yang dilakukan caleg itu sebuah keberanian yang luar biasa di tengah komitmen Polda dan penyelenggara pemilu untuk menindak tegas segala bentuk kecurangan.
Karena pemungutan suara ulang atas perintah MK (Mahkamah Konstitusi), maka praktik politik uang ini juga akan kami sampaikan ke MK dan KPU Pusat. Saat ini kami sedang mengumpulkan data-datanya, jelasnya.

Sementara itu, caleg DPR RI dari Partai Demokrat, Fondraradodo Nduru menyatakan, praktik politik uang yang dilakukan caleg itu tidak bisa dibiarkan. Harus ditindak tegas. Jika polisi mau, mudah sekali menangkap para tim sukses dan aktor intelektualnya, katanya.
Sedangkan anggota DPR RI dari PDS, Arisman Zagoto mengaku khawatir cara-cara kotor seperti itu akan menjadi suatu kebiasaan di Nisel, yakni mengeksploitasi kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat hanya demi kekuasaan. (SIB, 13 Juli 2009)

2 Responses to “Yasonna Laoli: Pemilu Ulang di Nisel Dinodai Permainan Politik Uang”

  1. 1
    CaGal Says:

    asal jangan maling teriak maling aja nih bapak-bapak semuanya !@@#

    Cagal.

  2. 2
    harefa Says:

    maling teriak maling, yasonna laoly dan fonradodo ndroruru belanja suara di nias selatan. nasib orang nias tidak akan berubah, jika disabot oleh keturunan nias yang tidak bertanggung jawab dan capabel.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

July 2009
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031